Wednesday, January 16, 2019

Wajah Alquran dalam Politik Muslim


Penulis: Ade Chariri

Agaknya, pesta politik legislatif sudah bergemuruh bersamaan dengan mencuatnya #2019SopoPresidene. Hal ini menandakan kursi DPR masih dan akan terus menggoda bagi para politisi, akademisi, artis, bahkan pengangguran kayak saya. Eh.

Baiklah, saya akan kupas satu persatu secara umum.

Diawali dari banyaknya info tentang pendaftaran Bacaleg dengan sejumlah nama beken, seperti 54 artis yang terbagi dalam 10 partai politik. Bisa jadi, motivasi mereka adalah untuk lebih peduli dengan rakyat setelah menjalani glamornya dunia artis-seleb, atau sekedar cari ‘panggung entertainment’ lain yang menjadi kelas satu harapan rakyat negeri.

Di sisi lain, di daerah Lhokseumawe ada 23 Bacaleg tidak lolos seleksi baca Alquran. Info dari serambinews.com disebutkan ada 384 yang mendaftar Caleg di Lhokseumawe dari 17 parpol (nasional maupun lokal), sebanyak 344 mengikuti seleksi, dan 40 lainnya berhalangan sebab ada keperluan dan lain sebagainya.

Mengapa membaca Alquran menjadi topik utama di Lhokseumawe?

Mengapa yang mencuat bukan perkara kredibilitas meningkatkan kinerja untuk rakyat?

Meningkatkan kesejahteraan rakyat?

Apalagi seleksi ini sebagai salah satu syarat pendaftaran calon legislatif. Ya, sebab Nangroe Aceh Darussalam (NAD) adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang memiliki izin aturan otonomi untuk menerapkan hukum Islam (Qanun Jinayah) sebagai hukum formal.

Jadi, bisa dikatakan bahwa napas Islami sangat kentara di sana, tidak terkecuali untuk Lhokseumawe, dan akhirnya, tentang Alquran–pun menjadi topik utama. Sebab sejauh yang saya pahami, jarang sekali di beberapa daerah Indonesia yang menggaungkan relevansi Bacaleg dengan Alquran.

Bisa jadi, ini adalah snowball effect dari berbagai penggorengan isu agama yang dibenturkan ke banyak topik yang menggelikan akhir-akhir ini yang, kalau ditarik ke belakang, penggorengan ayat Alquran sudah terjadi sejak masa kampanye era dulu, seperti ayat ‘wa laa taqrabaa hadzihi syajarota’ yang dipakai untuk jangan memilih Golkar dengan logo gambar pohon, dan lainnya. Entah.

Di lain daerah, Gubernur Jawa Barat terpilih, Ridwan Kamil menginisiasi program ‘satu desa satu hafidz’ yang nanti mekanismenya dibantu oleh menajemen koleganya, Aa Gym. 

Ada juga program dari pemerintah atau swasta dengan; one day one juz, maghrib mengaji, nusantara mengaji, hingga game dan mp3 music box mode khusus playlist Alquran, dan sebagainya –meskipun tidak bersinggungan langsung dengan perkara politik praktis.

Tentang one day one juz dan sejenisnya, sebenarnya sudah membumi di tradisi pesantren yang telah lama bercumbu dengan hal-hal demikian dengan istilah yang sangat sederhana; tadarusan, simakan, deresan dan lain sebagainya.

Yang paling wah tentang Alquran dan politik adalah kasus yang menimpa Ahok, yaitu perkara munculnya tentang Q.S. Al-Maidah ayat 51, yang kemudian –mungkin­– secara sengaja digoreng untuk memunculkan bola panas kegamaan dan politik. Muncullah PA 212 dan peranakannya yang begitu kental menunjukkan identitas keagamaan, tentu dengan kitab sucinya, Alquran.

Kemudian yang terbaru adalah adanya tawaran tes baca Alquran oleh Ikatan Da’i Aceh kepada Capres-Cawapres 2019. Tentu pro dan kontra bergumul di dalamnya. 

Yang kontra menyebut bahwa, hal itu tidak relevan dengan alasan bahwa Pemilu Capres-Cawapres bukanlah pemilihan Ketua Mengaji atau bahasa sejenisnya. Sedangkan yang pro menyebut bahwa hal itu harusnya dilakukan, sebab seorang Presiden di negeri mayoritas Muslim harus juga menjadi contoh keagamaan bagi rakyatnya.

Dari sini, saya jadi mikir, apa perlu ada terobosan semacam ‘Sekolah Muslim Politik’ pra pendaftaran Bacaleg dan Bacapres?

Misalnya 3 bulan sebelum dibukanya pendaftaran, nanti salah satu materinya adalah Baca Tulis Alquran (BTA), tata cara berwudu dan salat, apalagi sampai program tahfidzul quran bagi Bacaleg dan Bacapres, lalu nanti ada program simakan Alquran di gedung DPR dan di Istana Merdeka. 

Wah sekali kan?

Paling tidak, agar terbiasa dengan kalam Tuhan –meminimalisir korupsi, meskipun ini sulit diterapkan di negeri pluralis, tapi agaknya ini menjadi point tersendiri untuk mentradisikan Alquran (sebagai kitab suci Islam, agama mayoritas di Indonesia). Tapi, bayangkan saja! Jangan ngayal!

Narasi-narasi tersebut paling tidak menunjukkan bagaimana peran agama secara umum benar-benar dalam kondisi yang ‘mesra’ dengan politik. Tapi begitulah keadaannya.

Kalau sampean ingin melihat peran Alquran secara nyata dalam pusaran politik? Tengok saja akun-akun medsos para kader PKS, khususnya pentolannya. 

Wednesday, January 9, 2019

Wahyudi Anggoro: Finansial Literasi untuk Masyarakat Panggungharjo


Penulis: Jintung Idjam

Kami bertiga seperti terbius dengan konsep finansial literasi, terlihat dari ekspresi dua temanku. Ini sesuatu yang baru yang diterapkan seorang pemimpin di masyarakatnya. Yang pasti, Wahyudi Anggoro menerapkan kebijakan untuk menyadarkan masyarakat akan manfaat finansial literasi berdasarkan data dan fakta. Bukan hanya ilusi. Bukan sekedar 'truth claim', istilah sekarang.

Iya, kita sedang membicarakan seorang lurah yang sedang menjadi primadona di Indonesia: Wahyudi Anggoro Hadi. Lurah desa Panggungharjo, Sewon, Bantul.

Berdasar penuturan Anggoro, menurut survei, finansial literasi di Jakarta hanya 40%. Ini adalah yang tertinggi di Indonesia.

Artinya apa? Maksudnya bagaimana?

Begini penjelasan Anggoro.

Jika seseorang itu diberi uang lima puluh ribu, maka sehari akan habis. Diberi lima ratus ribu, sehari juga habis. Diberi uang lima juta, sehati juga akan habis. Bahkan bilapun diberi uang lima puluh juta, sehari tetap akan habis.

Pendek kata, finansial literasi adalah bagaimana cara membelanjakan uang sesuai dengan hasil yang didapat. Sadar diri berapa yang didapat, lalu tepat dalam membelanjakan.
"Di masyarakat kita, setelah seminggu bekerja keras banting tulang, sabtu gajian, baru malam Minggu, itu uang sudah habis." Tutur Anggoro.

Itu semua karena kercerdasan finansial yang rendah. Dan itu yang membuat masyarakat sangat sulit untuk maju.

Dan ini, masih menurut Anggoro, biasanya dilakukan oleh masyarakat yang bukan pegawai negeri dan karyawan swasta. Rerata mereka yang tidak faham finansial literasi adalah buruh.

Kecerdasan finansial yang demikianlah yang mengakibatkan rendahnya tingkat pendidikan anak. Biaya kesehatan juga tidak ada. Kebutuhan keluarga untuk sehari-hari juga kacau.

Bahkan, industri rumah tangga dan pengusaha muda sangat sulit berkembang jika tidak mempunyai finansial literasi. Usahanya sulit maju karena kecerdasan menghitung dan membelanjakan uangnya sangat rendah.
Terlebih para buruh.

Para buruh ini masih selalu berpikiran bahwa saat usia mereka sudah 60 tahun, mereka ini masih berpikiran akan masih bisa bekerja. Dan ini yang akan menjadi masalah nantinya.

Rendahnya kesadaran akan finansial di hari tua ini yang menyebabkan kemiskinan menurun. Dari kakeknya menurun ke anaknya. Dari bapaknya menurun ke anaknya. Sampai generasi selanjutnya nanti. Bukan menurun dalam arti habis, tapi kemiskinan yang turun-temurun.

Untuk membahas hasil temuan dan cara Wahyudi Anggoro menangani cara berpikir masyarakat dengan finansial literasi yang rendah kita pending dulu. Sekarang saya bahas dulu kebijakan desa yang diterpakan Wahyudi Anggora di Desa Panggungharjo.

Berdasar hasil penelitian para ahli dan sesuai dengan fakta, Anggoro menerapkan kebijakan arah pembangunan di Panggungharjo ke arah mindset berpikir. Bukan hanya pembangunan fisik/infrastruktur.

Mindset berpikir?

Jika Dana Desa penggunaannya hanya diserahkan ke usulan masyarakat, seperti yang sudah-sudah, maka 90% adalah usulan pembangunan fisik; usulan pengerasan jalan dan pembangunan fisik lainnya. Karena memang pemahaman masyarakat, Dana Desa itu biasanya digunakan untuk pembangunan desa. Kata 'pembangunan' di mata masyarakat ya hanya pembangunan fisik.

Tepat di sinilah Anggoro masuk memberikan penjelasan. Dimulai dari definisi dan pentingnya finansial literasi.

Aplikasinya atau turunan kebijakan dari finansial literasi adalah sebagai berikut.

Karena memang keadaan masyarakat yang sudah sejak awal kurang kesadaran finansial literasi, yang membuat masyarakat kerepotan masalah kesehatan, tabungan hari tua, pendidikan anak, dan lain sebagainya, maka kebijakannya adalah memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat yang tidak tercover KIS (Kartu Indonesia Sehat).

Pada praktiknya, pemerintah desa memberi pelayanan ke lansia yang sudah tidak bisa dicover oleh keluarganya. Ada perawat khusus yang diangkat desa untuk membantu para lansia ini.

Sedangkan untuk ibu hamil yang tidak terdaftar KIS dan punya resiko melahirkan secara tidak normal (operasi), maka desa membuatkan dan membiayai asuransi Jamkesmas Mandiri. Hingga pada saat kelahirannya nanti, saat butuh biaya banyak, tidak perlu repot mengeluarkan biaya sendiri. Yang tentu sangat memberatkan.

Selain itu, bagi setiap wanita hamil, tinggal melaporkan diri ke balai desa. Maka akan dibuatkan surat dan rujukan ke dokter yang sudah bekerja sama dengan balai desa.

Itu untuk urusan kesehatan. Sekarang kita bahas ke tabungan hari tua.
Setiap warga yang tidak punya rumah, diberikan tempat semacam rusun. Namun sewa. Tapi dengan cerdik Anggoro memaksa siapapun yang tinggal di rusun ini untuk membayar sewa sekaligus menabung. Sewanya tiga ratus ribu, sedang tabungannya Rp 450.000,00.
Awalnya masyarakat keberatan. Namun Anggoro segera mencecar mereka dengan beberapa pertanyaan yang memojokkan.

Saat ditanyakan berapa bungkus rokok mereka habiskan setiap bulan, uang ngopi, paketan internet, dan kebutuhan yang tidak penting lainnya, ternyata totalnya lebih dari 750 ribu setiap bulan. Artinya, mereka sebenarnya mampu, namun hanya kurang memperhatikan pentingnya finansial literasi.

Tergetnya, dari tabungan 450 setiap bulan, setelah lima tahun, mereka bisa menggunakan tabungannya untuk uang muka kredit KPR.

Bagaimana nyicilnya? Setelah rajin menabung selama lima tahun, harapannya mereka telah terbiasa menyisihkan uang untuk membayar cicilan KPR.

Untuk menangani rendahnya finansial literasi hanya itu? Masih ada satu lagi yang kami ingat.

Dari sejumlah korban lintah darat, ada yang awalnya hanya berutang tiga juta, kemudian seluruh rumah dan isinya dijual dan disita oleh si lintah darat ini. Karena modus mereka memang rapi dan terstruktur.

Awalnya nunggak cicilan mingguan. Lalu teman si lintah darat ini datang dengan menawari pinjaman. Dengan iming-iming bisa untuk melunasi utang si lintah darat pertama. Karena terdesak, si orang ini mau dipinjami. Alhasil, dua minggu berikutnya si orang ini harus menyicil dua lintah darat.

Lalu muncul lintah darat baru, teman si lintah darat yang dua tadi, untuk memberi pinjaman. Dan begitulah. Utangnya semakin menjerat leher.

Balai desa dengan kebijakannya berhasil membereskan utang si orang ini. Ada sekitar 70 kasus di tahun 2016, semua diselesaikan oleh balai desa. Utang mereka dibayar oleh balai desa.

Kini yang bagian pendidikan.

Melalui beberapa instrumen yang telah ditetapkan oleh balai desa, bisa diketahui bahwa seorang anak ini akan kerepotan biaya sekolahnya, bila dilihat dari finansial literasi dan ekonomi orang tuanya. Maka, setelah lolos instrumen yang telah ditetapkan desa, si anak ini didaftarkan asuransi pendidikan oleh desa. Tentu dari uang Dana Desa.

Itu adalah sedikit cerita kebijakan Wahyu Anggoro Hadi. Lurah desa Panggungharjo.

Kenapa Sabak merekam perjuangan dan kebijakan desa? Bukankah Sabak adalah web tentang kepesantrenan?

Tentu saja jawabannya adalah, setiap kebaikan yang berhubungan dengan masyarakat, harus selalu diviralkan. Ditulis. Bukankah di pesantren juga diajarkan untuk saling mengasihi? Dan kebijakan desa oleh Anggoro adalah bentuk kasih sayang dari seorang pemimpin?

Begitulah.

Tentu juga kebijakan Anggoro yang dulu juga seorang santri sangat memengaruhi setiap kebijakannya.

Lalu, apakah santri juga butuh finansial literasi? Supaya jika kirimannya tanggal satu tanggal lima belum habis untuk bayar utang? Lalu berutang lagi sampai kiriman datang?

Kukira santri tidak butuh itu. Uang empat ratus ribu sudah untuk makan dua kali sehari, bayar sahriyah, bayar sekolah, dan sebungkus tembakau lintingan, kukira itu sudah mentok cerdasnya. Josss...

Kecuali untuk bapak/mbok kamar yang bawa uang anak-anaknya. Mereka kadang terlena karena pegang banyak uang. Haa...

Baca ESAI menarik lainnya yang ditulis oleh JINTUNG IDJAM

Tuesday, January 8, 2019

Pandangan Gus Baha Tentang Mendidik Anak



Penulis: Qowim Musthofa

Harta benda dan anak adalah (mengandung) fitnah. Begitu kata Alquran. Lantas fitnah yang bagaimana? 

Secara sederhana, fitnah di sini mempunyai arti cobaan dan ujian. Orang yang mempunyai harta cenderung sulit stabil dalam hal ibadah, begitu pula orang yang mempunyai anak. 

Ketika belum punya anak ia sangat gemar sedekah, lalu ketika punya anak, merasa eman-eman dengan sedekah, sebab ia merasa harus memenuhi kebutuhan anak. 

Begitu kira-kira.

Berbicara soal anak, saya teringat ketika ngaji dengan Gus Baha di Bedukan Wonokromo. Kira-kira di tahun 2017. Gus Baha  punya cara pandang tentang anak yang tidak lazim bagi kebanyakan orang. 

"Ojo wani-wani karo anak, ndak kuwalat." - Jangan berani sama anak, nanti kalian bisa celaka. 

Bagi saya, yang selalu mendengar Jangan berani sama orang tua, nanti celaka. Gus Baha membalik kalimat tersebut, bahwa anak harus dihormati. 

Kenapa demikian. 

Anak selamanya adalah anak

Gus Baha menjelaskan bahwa anak, mempunyai ikatan yang tidak akan putus. Berbeda dengan istri, ketika cerai maka hak dan kewajiban yang pernah melekat akan gugur seketika. 

Ikatan yang tak akan putus tersebut, meskipun jika anak mempunyai kelakuan yang nakal, mbedugal dan ndableg, mereka akan tetap menjadi anak, bahkan jika anak dan orang tua saling berjanji tidak mau mengakui hubungan mereka, maka tetap saja secara syariat mereka tetap mempunyai hubungan, jika salah satu di antara mereka yang meninggal dunia, maka warisan tetap berlaku. Jika perempuan, maka walinya tetap saja adalah ayahnya. 

Begitulah anak. Statusnya akan selalu melekat tanpa sekat. 

Anak adalah penerus Kalimat Tauhid 

Gus Baha, memberikan poin penting tentang kalimat tauhid. Baginya, kalimat tauhid adalah kalimat kebenaran yang universal dan absolut. Sehingga jika kalimat tersebut diucapkan oleh orang gila sekalipun, kalimat tersebut akan selalu benar. 

Kebenaran kalimat tauhid tidak bisa dimonopoli oleh siapapun. Meskipun diucapkan oleh seorang pendosa sekalipun kalimat tauhid tidak menjadi hina, begitu pula jika diucapkan oleh orang saleh sekalipun kalimat tersebut juga tidak akan bertambah mulia. 

Siapapun orang yang mengucapkan kalimat tauhid akan menjadi mulia, siapapun orangnya. Sebab itulah Gus Baha menghormati anaknya, sebab anaknyalah yang kelak akan meneruskan kalimat tauhid tersebut. 

Sebab inilah, Gus Baha mengaku tidak pernah memukul anaknya, "Bagaimana bisa mukul ketika saya selalu ingat bahwa ia adalah umatnya Nabi Muhammad yang kelak akan menjadi penerus agama Islam." begitu kira-kira kalimat Gus Baha.

Jangan sampai anak merasa kecewa dengan Bapaknya

Kekecewaan anak terhadap orang tua, agaknya sebanding dengan kekecewaan orang tua terhadap anak. Sebagai orang tua kita merasa yang paling berhak atas masa depan anak kita. Sebagai anak, kita justru yang paling berhak kelak mau menjadi apa. Wajar, sebab zaman yang dialami oleh orang tua dan anak sama sekali berbeda. 

Gus Baha selalu mewanti-wanti bagaimana anaknya harus bangga kepada bapaknya, ini bukan persoalan sombong-sombongan, tapi ini mendidik kepada anak agar ia tidak kecewa kepada orang tuanya dengan membanding-bandingkan orang tuanya dengan orang tua temannya. 

Gus Baha mempunyai pola hidup yang sederhana, beliau punya televisi hanya karena, jangan sampai anaknya pergi dari rumah hanya ingin menonton televisi di tetangga. 

Bagi saya ini persoalan yang sulit. Bagaimana agar anak bisa bangga mempunyai orang tua seperti kita.

Gus Baha, ketika memberikan uang saku untuk sekolah kepada anaknya yang masih sekolah setingkat SD: Mas Hasan selalu lebih dari teman-temannya. Kata istrinya apakah itu tidak boros jika anak seusia itu dengan uang 5.000 sedangkan teman-temannya hanya diberi uang saku 2.000

Kata Gus Baha tidak. Sama sekali tidak boros. Gus Baha ingin mengajarkan kepada anaknnya untuk selalu jajan kepada penjual-penjual jajanan di sekolah, persoalan tidak sehat dan atau tidak enak lalu dibuang silahkan, buang saja. 

Persoalan dibuang berarti itu adalah rejekinya hewan-hewan seperti semut, cacing dan lain-lain. Gus Baha ingin mengajarkan bahwa kita harus mempunyai kontribusi kepada orang yang mencari nafkah dengan cara yang halal; berjualan jajanan di sekolah-sekolah.

Tidak ada yang mubazir, bagi Gus Baha. Cara pandang seperti ini tentunya tidak lazim, dan tergantung pada niatnya. 

Meskipun tidak lazim, minimal bisa memberikan kita pemahaman yang lain, bahwa mendidik anak adalah pilihan orang tua. Nasehat Gus Baha kepada para orang tua adalah jangan mengira bahwa anak nakal itu tidak ada hubungannya dengan orang tua, sangat berhubungan. Jika kalian ingin melihat dirimu, maka lihatlah anakmu. 

Cerminan seperti ini sering mengingatkan saya kepada teman-teman saya yang merasa menyesal hingga menangis setelah memarahi anaknya. 

Jika kita marah-marah bahkan memukul anak kita, pada hakikatnya kita sedang memarahi diri sendiri dan memukul diri kita sendiri. Kita sedang menyakiti diri kita sendiri.

Sunday, January 6, 2019

Jangan Memahami Hadis Secara Sepotong: Ketahuilah Keseluruhan Konteksnya


Penulis: Mujib Romadlon

Memahami hadis tidaklah semudah hanya mengambil sepenggal saja kemudian otomatis langsung paham dengan apa yang dimaksudkan Rasulullah saw. Hadis selayaknya dipahami secara utuh sesuai dengan konteks. 

Proses pencarian terhadap konteks hadis dapat dilaksanakan dengan mengambil riwayat hadis dari mata rantai sanad rijal hadis yang lain. Sehingga pemahaman kita pun menyeluruh, sesuai dengan peristiwa apa yang mengiringi nabi berkata demikian, berperilaku demikian, dan lain sebagainya.

Seperti hadis yang dikutip oleh Ibnu Hajar al-Asqalani pada pembahasan mengenai 'Sucinya Air Liur Hewan yang boleh dimakan dagingnya'

Dari Amr bin Kharijah ra. Ia berkata Rasulullah saw. berkhotbah di Mina di atas ontanya, sementara air liur unta mengalir di pundakku.

Sepintas secara tersurat kita dapat memahami bahwa air liur unta atau hewan yang halal dimakan dagingnya memiliki hukum tidak najis. Pemahaman ini muncul salah satunya karena Rasulullah hanya diam saja saat sahabat Amr bin Kharijah tengah memegang tali unta Beliau, padahal si unta dalam posisi meneteskan air liurnya ke baju sahabat Amr bin Kharijah. 

Apakah Rasulullah menyuruh untuk membasuh air liur unta tersebut? Rasulullah mengingkari juga tidak, melarang juga tidak. Inilah yang disebut sunnah taqririyah.

Mencari konteks hadis tersebut, dapat dilakukan dengan cara mencari perbandingan dengan konten hadis yang lain. Atau disebut dengan istilah i'tibar al-sanad. Selengkapnya adalah:

dari 'Amr bin Kharijah bahwasanya Nabi saw. pernah menyampaikan khothbah di atas onta miliknya, sementara aku tetap berada di bawah leher ontanya yang sedang mengalirkan busa liurnya dan bertetesan di antara kedua pundakku.

Maka aku pun mendengar beliau bersabda: 

"Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada semua yang berhak apa yang menjadi haknya. Karena itu, tidak ada lagi wasiat bagi ahli waris. Nasab seorang anak adalah milik bapaknya. Untuk seorang pezina, maka baginya adalah batu (dirajam). Barangsiapa yang bernasab kepada selain bapaknya atau berwali kepada selain walinya karena benci terhadap mereka, maka laknat Allah akan tertimpa atasnya dan Allah tidak akan menerima darinya, baik itu amalan sunnah atau pun amalan wajib."

Jadi pemahaman awal dari hadis ini memang berisi tentang sunnah taqririyah. Namun, selanjutnya tak sekedar itu terdapat pula kata-kata Nabi atau biasa disebut sunnah qauliyah berikut lanjutan keterangan yang dapat diambil dari keseluruhan hadis riwayat Amr bin Kharijah melalui riwayat dari al-Tirmidzi:

Pertama, hadis ini mengubah ketentuan hukum yang ada di Alquran -atau biasa disebut dengan nasakh-mansukh- pada QS. al-Baqarah: 180 yang berisi tentang kewajiban untuk memberikan wasiat bagi ahli waris:

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf (baik; sesuai; pantas), (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqarah 2:180).

Mengapa demikian? Karena bila seorang ahli waris sudah mendapatkan bagian warisan yang telah ditentukan sesuai dengan takaran ilmu faraid (ilmu waris), namun masih juga mendapatkan jatah wasiat. Maka ia menjadi mendapatkan dua hitungan warisan.

Satu karena jatah dari perhitungan pembagian hak warisan, satu lagi karena jatah dari wasiat. Hal ini tidak baik dan dapat memungkinkan terjadinya perselisihan antara sesama ahli waris.

Kedua, bagaimanapun juga seorang anak merupakan hasil hubungan intim pertemuan ranjang ayahnya ( والولد للفراش). Apabila ada kecurigaan dari Ayah terhadap status biologis anaknya, maka seorang suami berhak mengajukan sumpah mula'anah. 

Apa itu mula'anah? 

Yaitu sumpah yang dituntutkan kepada Istri. Bila si Istri tidak mengakui tuduhan perzinahan si suami. Maka kemudian keduanya diceraikan dan selamanya tidak boleh untuk menjalin hubungan pernikahan kembali. Namun bila si Istri mengakui, maka hukum rajam menjadi konsekuensi bagi si istri.

Ketiga, menasabkan diri atau mendakwa orang lain sebagai ayahnya. Padahal sama sekali tidak memiliki hubungan biologis apapun. Maka ia akan mendapatkan ancaman; tidak diterima amalan ibadahnya baik sunnah maupun wajib. 

Di samping durhaka kepada orang tua kandung dan hadis ini masih berkaitan pada tema tentang hak waris, maka seseorang yang menasabkan diri ke selain bapaknya dapat menyebabkan ahli waris yang sah tidak mendapatkan secara penuh hak warisnya. 

Hal ini dapat berakibat fatal pada status mahram, karena dapat mengharamkan orang yang halal dinikahi dan menghalalkan orang yang haram dinikahi. Sekaligus dapat merusak dan mencela garis keturunan yang sebenarnya.
Demikian ngaji hadis oleh Gus Rum pada kesempatan ini. 

Baca tulisan menarik lainnya yang ditulis oleh MUJIB ROMADLON atau baca tentang NGAJI GUS RUM.

Saturday, January 5, 2019

Syndrome Media Sosial; Silatur-rahim yang berujung Silatul-misuh


Penulis: Wahyu Musthofa


Dewasa ini, kita telah memasuki era globalisasi yang dibarengi dengan perkembangan teknologi. Globalisasi sendiri ditandai dengan penyebar-luasan hasil kebudayaan dari masyarakat dengan pencapaian industri teknologi yang massif digalakkan di se antero dunia. Sebut saja salah satunya dengan terciptanya gadgetsmartphone yang merupakan produk negara maju, telah meluas sampai masyarakat dengan kebudayaan terprimitif sekalipun, pasti mengenalnya. Siapa yang tidak dimanjakan dengan fitur-fitur yang ada di dalamnya?

Fitur-fitur tersebut digandrungi oleh hampir semua kalangan, mulai dari generasi alpha para milenial,sampai para generasi X orang tua. Anda pasti mengenal beberapa orang tua di sekitar kita juga turut meramaikan jagad dunia media sosial; facebook-twitter-instagram menjadi idola semua kalangan. Efek candunya menimbulkan ketergantungan yang nyata. Setiap hari setelah bangun tidur, hal yang pertama dicari adalah: smartphone!

Benar atau tidak, Saudara?

Entah hanya sekedar cek WA, lihat berita kawan, atau yang sedikit bermutu adalah membaca opini beberapa influencer yang rajin update menanggapi banyak isu terkini.

Tak ayal para penulis esai dan opini tersebut membawa dampak terhadap perkembangan nalar berpikir para penggunanya, apalagi bila tanpa adanya filter, hampir semua kata-kata obrolan yang kita ucapkan dalam sesi coffe-time, selalu merujuk opini dan esai dari para influencer.

Dari kata yang tersusun rapi, dengan berbagai majaz metafora. Kita dibuai pada alam bawah sadar kita. Tergerak berpotensi mencintai dan peduli, sekaligus di saat yang sama membenci dan memaki. Padahal apakah kita mengenal baik siapa saja orang yang tengah diperbincangkan di jagad media sosial?

Seakan seseorang bisa menghakimi manusia lain tanpa secara langsung berinteraksi di dunia nyata. Bahkan yang namanya emosi kerap lebih banyak ditampilkan di media sosial, timbang di dunia nyata.


Di dunia nyata, kita mungkin akan sedikit membungkus dan meringkas emosi kita, kalau di dunia maya? Langsung gas pol, jempol bergerak dengan kecepatan 100 km (baca: kata per menit) Dan jangan lupa sandingkan google di belakang layar. Biar kritikan kita terlihat penuh wibawa.

Ya, kan?

Einstein (yang juga saya kutip dari google) berkata,

“Aku takut suatu hari teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot”.

Ketergantungan penduduk era ini terhadap penggunaan trio media sosial facebook-twitter-instagram pada akhirnya menimbulkan gejala yang saya sebut dengan “syndrome mediasosial; dari silatur-rahim menuju silatul-misuh”.

Silat artinya menyambung, rahim artinya kasih. Awal mulanya berusaha menyambung-kasih mencoba mencari saudara. Tapi karena beda pandangan, seperti pilihan politik contohnya. Maka beralih menjadi silatul-misuh, silat artinya menyambung, misuh artinya umpatan. Menyambung umpatan sesama pengguna media sosial. Yes! Saya benar, kan?

Saya kutipkan dari google lagi, banyak dari parapengguna media sosial mengalami gejala kerusakan dalam sistem persepsi (distorsion of cognition). Ketidak-sukaan terhadap opini medsos tidak berdasar argumen logis, namun sekedar tidak suka kepada apa yang tidak disukai (dislike of the unlike). 

Sikap itu merupakan bias seseorang yang tak lagi melihat sebuah problem masalah secara jernih dan logis. Pendapat kita terfragmentasi tak utuh karena pra-pemahaman yang sudah membenci sebelum mengapresiasi.

Wuih... Keren kan bahasa saya?

Google kok dilawan...

Saya lanjutkan

“syndrome silatul-misuh” menyebabkan terputusnya 3 pilar dalam pengetahuan; Epistemologi, ontologi dan aksiologi. Episteme mengenai sumber pengetahuan, ontologi substansi pengetahuan, dan aksiologi mengenai fungsi dari pengetahuan. Apa ada yang berpendapat 'sebuah misuh' dan benci itu bisa menjadi sebuah aksiologi?

3 nalar berpengetahuan tersebut tak dapat ditemui dari para pengguna media sosial, simak saja diskusi yang hanya berkutat kepada hal-hal receh:

Berapa banyak follower?

Berapa banyak like?

Berapa banyak share?

Dampak dari “syndrome media silatul-misuh”. Telah menjalar luas hingga pada para civitas-akademika yang seharusnya memikul tanggung jawab sebagai kalangan yang menjaga kemurnian dan kejernihan ilmu pengetahuan. Sebuah komunitas masyarakatyang menjadi simbol atas norma-nilai pengetahuan yang selayaknya ada dan tak selayaknya ada.

Bukannya meluruskan, malah justru ikut meramaikan arus konyol media-sosial yang berkutat pada makan-minum, seks, tahta dan selebritas. Mereka kehilangan standar'objektif' yang seidealnya selalu mereka emban dalam lingkup sehari-hari.

Alih-alih mereka berpikir secara kritis, radikal dan sistematis. eh malah kemudian terputus begitu saja kepada satu sumber yang di dapat dari sebuah opini di media sosial.

Ingatlah bahwa basis dasar pengetahuan itu ialah trial and eror. Bukan sebatas membudayakan pengetahuan dari akses terhadap media sosial. Apalagi hanya berdasar tolak ukur banyak-tidaknya like di postingan tersebut.

Dulu ada orang bernama Ibrahim Tan Malaka berkata “ selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali, kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi”.

Maka era sekarang berubah menjadi “selama kuota masih ada, selama itu juga media masih bisa diakses, kalau perlu perbanyak kuota unlimited agar selalu bisa update di media sosial dan makin eksis”.

Fungsi media-pun bergeser dari yang sekedar untuk sarana hiburan dan menjalin komunikasi secara virtual, berubah menjadi ajang selebritas eksistensi diri, sekaligus ebagai sumber informasi yang kredibel.

Apa yang menghiasi medsos adalah selbritas dan pop-culture.Sekedar mengikuti trend yang sedang hits, sekalipun tanpamemiliki sebuah esensi. Jangan harap ada kontribusi nyata yang dihasilkan oleh para aktivis media-sosial. Masih ingat populernya goyang keong-racun dan briptu Norman?Sekarang dimana ya kira-kira?

Membaca postingan di media sosialtidak akan menambah nalar kritis untuk menggali sumber informasi yang lebih konkrit dan komprehensif.

Nah, apabila para civitas-akademika kehilangan filter penyaring, padahal tuntutankebutuhan gizi pengetahuan selalu dibutuhkankarena arus informasi yang begitu cepatnya. Maka gelar S1-S2-doktor-profesor akan sangat kelihatan kerdil, ketika citra-dirinya

Wajar jika sekarang kita memiliki generasi muda yang memmpunyai karakteristik populis, konsumerisme, dan pragmatis. Karena sekarang semakin sedikit orang menacari sumber informasi dari referensi utama yakni membaca (buku) dan diskusi.Tidak heran apabila kemudian semakin sedekit genrasi muda yang mawas, dan bersikap kritis akan fenomena yang sedang berkembang di negaranya.

Maka jangan heran jika suatu kali anda membuka akun media sosial anda kemudian yang bermunculan ialah konten-konten yang bersifat memblei dan tidak penting. Karena konten-konten demikianlah yang lebih banyak di akses dan dikonsumsi oleh warga netijen yang maha benar dan bijaksana.


Thursday, January 3, 2019

Tak Ada yang Baru Dalam Perdebatan Tahun Baru


Penulis: Inan

Menjelang akhir tahun, jagat dunia maya nyaris sesak dengan riuh-rendahnya perdebatan umat Islam Indonesia ihwal boleh atau tidaknya mengikuti perayaan Tahun Baru. Satu perdebatan, yang kita tahu, telah menjadi semacam tradisi rutinan selama beberapa tahun belakangan ini.

Bahkan, bagi mereka yang tak sepakat dengan perayaan tersebut sudah mempersiapkan segala macam amunisi penolakan jauh-jauh hari sebelumya melalui selebaran dalam khotbah Jum'at, pesan berantai di WAG dan baliho-baliho besar.

Dan sebagaimana yang terjadi pada tahun-tahun lalu, arah perdebatan ini mudah untuk diprediksi karena pada akhirnya akan mengerucut juga–meski tak serta merta dapat kita sederhanakan begitu saja–ke dalam dua aliran besar yakni: mereka yang melarang dan mereka yang memperbolehkannya.

Bagi orang-orang yang masuk pada golongan pertama, merayakan Tahun Baru mutlak menjadi sebuah larangan karena praktik tersebut tidak ada dalam Islam. Mereka bersikukuh bahwa baik Alquran maupun Alhadis tak pernah memberikan pernyataan terkait hal ini sehingga praktik-praktik yang demikian masuk dalam kategori bid'ah.

Ada pula yang menolak lantaran khawatir menyerupai umat beragama lain yang pada ujungnya menyebabkan umat Islam tak memiliki identitas atau bahkan, pada tahap tertentu, berpotensi mendangkalkan akidah. Alasannya: keserupaan dalam perkara lahir turut memengaruhi keserupaan dalam ihwal batin.

Pada berbagai macam perdebatan, tentu saja hadis populer yang sering dirujuk untuk melegitimasi pendapat mereka ialah: "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia merupakan bagian dari kaum tersebut" atau "Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami."

Dalam memperlakukan kedua teks di atas, para penolak pada dasarnya merupakan golongan yang menggunakan pendekatan harfiah untuk memahami teks-teks keagamaan.

Mereka berpendapat bahwa redaksi kedua hadis tersebut sudah gamblang menjelaskan ihwal boleh tidaknya mengikuti perayaan Tahun Baru. Dua hadis tersebut tak perlu ditafsir ulang sebab makna harfiahnya memang seperti itu adanya. Mengapa harus repot-repot mencari makna di balik teks jika yang di permukaan saja sudah terlihat?

Berkebalikan dengan kelompok pertama, mereka yang memperbolehkan justru berpendapat bahwa mengikuti perayaan Tahun Baru tak lantas menggoyahkan iman. Hal ini disandarkan pada argumen yang menyatakan bahwa tidak ada kaitan yang cukup logis untuk menjelaskan bahwa dengan berperilaku demikian, umat Islam secara otomatis menjadi murtad.

Lebih lanjut, kelompok kedua beranggapan bahwa hadis-hadis itu hendaknya dikontekstualisasikan agar dapat beriringan dengan roh (zeitgeist) zaman. Dengan adanya penafsiran ulang, mereka berharap persatuan di tengah-tengah komunitas multi etnis, agama dan budaya dapat terwujud sehingga hubungan baik terjaga.

Sampai di sini saya kira perdebatan itu sebenarnya sudah selesai. Tidak ada yang baru lagi. Mereka yang menolak, sedari awal memang memahami teks keagamaan secara literal sementara pihak yang mendukung mendekatinya melalui cara kontekstual.

Pada berbagai kesempatan, tiap pihak tetap berpegang teguh pada pendapatnya meskipun mereka telah tanding argumen berulang kali. Hal itu kemudian menjadi lumrah karena secara metodologis keduanya berangkat dari pendekatan yang berbeda.

Memang, tak menutup kemungkinan adanya celah dialog dan kompromi guna menyelaraskan kedua belah pihak. Para penulis, cendekiawan dan ulama–baik yang hidup di masa kini atau masa lalu–telah meracik berbagai macam metode untuk menyikapi perdebatan itu. Mulai dari yang sederhana hingga yang rumit.

Pendapat-pendapat mereka pun semakin mudah diakses bila dibandingkan beberapa tahun lalu. Demikian pula penyebaran informasi yang hari ini tak kalah cepatnya dengan membalik telapak tangan.

Dahulu sekali, saya pernah berprasangka bahwa mereka yang meramaikan perdebatan tak berujung di media sosial adalah orang-orang yang punya masalah dengan kesabaran. Mereka adalah penyembah kecepatan yang selalu terburu-buru menghakimi namun enggan menelaah secara telaten persoalan di depan mata. Bahkan, kemungkinan terburuknya, mereka lah orang-orang yang malas membaca.

Akan tetapi, setelah beberapa tahun, asumsi itu salah belaka. Faktanya, mereka yang berdebat adalah orang-orang yang memiliki ketekunan dan ketelatenan. Mereka saling lempar argumen menggunakan sumber-sumber yang beragam: dari kitab suci, hadis Nabi hingga warisan khazanah Islam abad pertengahan. Dalam artian, mereka adalah pribadi-pribadi yang juga giat membaca.

Namun, setelah melewati berbagai argumen yang bertebaran di media sosial, yang terus menerus diulang selama beberapa tahun, mengapa mereka tetap bersepakat untuk melanjutkan perdebatan?

Agaknya, di era post-truth kebenaran tak lagi diposisikan sebagai jawaban atas suatu pencarian. Dalam situasi ini, kompromi atas ide dan gagasan adalah sebuah kesia-sian. Sebagian orang tak lagi berdebat mencari titik temu melainkan untuk memenuhi dorongan hasrat yang barangkali tak terpuaskan di dunia nyata.

Mereka ini adalah orang-orang yang hanya ingin melihat kekacauan bekerja. Mereka tak dapat diubah, dipaksa, maupun dirayu. Hasrat untuk berdebat pun tak pernah berbanding lurus dengan keinginan untuk memperoleh kesimpulan.

Meminjam terminologi Jean Paul Sartre (1905-1980), mereka adalah orang-orang yang lebih mudah mendengarkan gema (echo) dalam dirinya sendiri daripada jawaban. Saat bertanya maupun mengkritik, masing-masing pihak sebenarnya sudah memiliki pendirian. Yang diinginkan dari perdebatan tak lain adalah pandangan diri mereka sendiri yang terus memantul.

Dengan kata lain, mereka tidak siap untuk mendengarkan liyan. Maka dari itu, tiap-tiap jawaban hanya diterima apa bila sesuai dengan preferensi pribadi. Yang tidak cocok lalu ditinggalkan. Dan seandainya diterima, tujuannya hanya untuk dicari kesalahan-kesalahannya.

Bagi saya, orang-orang ini tak lebih baik satu sama lain. Sebab, sementara perdebatan tak kunjung selesai juga, sebagian orang tetap saja kelaparan, beberapa wanita masih mengalami pelecehan seksual dan polusi udara semakin menebal.

Baca ESAI menarik lainnya yang ditulis oleh INAN.

Tuesday, January 1, 2019

Hadis Teroris, di Tangan Gus Mus Menjadi Sebuah Kritik Sosial yang Cantik


Foto: @s.kakung



Penulis: Jintung Idjam


Sebenarnya tidak ada hadis teroris. Yang saya maksud sebenarnya adalah hadis yang sering ditafsirkan dengan semena-mena untuk melakukan tindakan terorisme. Oleh siapa? Oleh mereka para teroris.

Ini yang saya maksud dengan hadis teroris.

بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً كما بدأ فطوبى للغرباء

Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing."

*
Mereka memang merasa bahwa kelompoknyalah yang paling benar, karena tujuannya adalah memurnikan ajaran Islam. Mereka, para teroris itu, menyimpulkan bahwa kelompok mereka memang terasing dan beda, karena merasa tujuannya adalah memurnikan Islam. Karena mereka menganggap saat ini banyak kelompok Islam yang sudah tidak murni lagi. Sudah tercemar. Tidak otentik lagi seperti saat Nabi masih hidup.

Intinya, mereka ingin menerapkan hukum Islam secara kaffah, secara sempurna. Tentu saja sesuai tafsir kelompok mereka, dengan menafikan tafsir kelompok lain. Bahkan menganggap tafsir tidak sama dengan tafsir mereka adalah salah.

Nah, tepat di sinilah hadis di atas ditafsirkan dengan semena-mena.

Setelah mengidentifikasi diri sebagai yang paling benar, dan merasa sebagai sekumpulan orang yang berusaha mengangkat Islam kembali, lalu mengidentifikasi diri bahwa merekalah yang dimaksud oleh hadis tersebut; bahwa mereka memang adalah makhluk-makhluk pilihan Tuhan. Yang jumlahnya sedikit dan terasing.

Itulah yang semakin memotivasi pergerakan mereka. Membakar semangat mereka.

Anda bayangkan, seseorang baru mengenal Islam, sedang semangat-semangatnya, diberi sebuah hadis propaganda yang demikian eksklusifnya. Khusus. Istimewa. Dan Anda bisa bayangkan, orang itu akan merasa disanjung oleh agama.

Semakin dijauhi, maka mereka semakin merasa terasing. Semakin terasing, maka mereka semakin merasa menjadi kelompok yang diindetifikasi Tuhan sebagai makhluk pilihan. Merasa bahwa merekalah makhluk pilihan Tuhan, maka merekalah yang harus membela Tuhan. Dan merasa bahwa memang merekalah pemeluk Islam yang istimewa. Pemeluk Islam yang sejati.

Seperti orang onani; dibayangkan sendiri, dipikir sendiri, lalu dirasakan sendiri. Begitulah kira-kira analoginya.

Kesimpulan akhirnya adalah, Islam telah dizalimi. Diasingkan. Lalu muncul semangat membela Islam.

Lalu disimpulkan sendiri bahwa merekalah yang berhak menjadi pembela Tuhan. Mereka yang harus berjuang. Dan selain kelompoknya adalah musuh Tuhan.

Membela Tuhan dari siapa?

Dari orang-orang yang telah merusak Islam. Antara lain;

Manusia yang dianggap kafir. Yang mereka anggap memusuhi Islam. Bahkan, orang-orang Islam yang tidak sependapat dengan mereka, apalagi menjalin hubungan yang mesra dengan kelompok yang mereka anggap memusuhi Islam, dianggap sebagai musuh. Boleh dibunuh.

Mereka sebenarnya sadar, bahwa tindakan mereka ditentang oleh sebagian besar penganut Islam. Namun, karena mereka sudah merasa yakin bahwa merekalah yang dimaksud oleh hadis tersebut, maka itu semakin menjadikan mereka merasa istimewa di hadapan Tuhan. Karena asing itu tadi.

Karena mereka sadar tidak disukai, mereka melakukan perekrutan anggota dengan jalan rahasia. Dalam istilah populernya, mereka ini melakukan perekrutan anggota dengan sistem sel; sesama anggota tidak saling mengetahui, kecuali atasan mereka.

Lalu apa gerakan mereka?

Selanjutnya mereka mendoktrin kelompoknya dengan ayat-ayat dan hadis jihad.

Untuk menakut-nakuti, mengancam dan memberi pesan bahwa mereka ada, langkah selanjutnya adalah ngebom. Demi bukti diri bahwa mereka menjadi makhluk pilihan. Demi penegak syariat Islam yang kaffah. Dan kerena merasa merekalah makhluk pilihan Tuhan, maka surgalah hak mereka.

Sebenarnya ada banyak hadis yang mereka anut, dengan tafsir yang semena-mena tentunya. Namun tak perlulah saya mengutipnya, supaya tulisan ini tidak terlalu panjang.

Jika Anda tahu bom di Bali, Jakarta dan Surabaya beberapa waktu lalu, itulah ulah dari mereka yang menafsirkan ayat dan hadis dengan semaunya sendiri.

**
Mari bedakan dengan penafsiran Gus Mus tentang hadis di atas.

Dalam pengajiannya di IAIN Surakarta, yang diposting di YouTube, setelah menyebutkan hadis tersebut, Gus Mus menerangkan bahwa Islam dulunya memang terasing. Hanya Nabi sendirian, lalu diikuti Siti Khadijah dan Sayidina Ali.

Setelah itu, Gus Mus menerangkan ramalan Nabi yang menyatakan bahwa Islam akan kembali terasing.

Gus Mus lalu bertanya kepada audiens, apakah sekarang ini Islam sudah asing?

Pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Gus Mus, kira-kira begini, "Kalau dilihat-lihat dari ramainya pengajian, sekarang ini Islam belum asing. Majelis zikir semakin banyak, pengajian makin banyak, grup selawatan di mana-mana ada. Kalau dilihat dari ini, Islam belum sesuai ramalan Nabi. Belum ghorib. Belum asing."

"Melihat dari antrean ibadah haji yang sekarang sudah sampai tahun 1928, nampak sekali Islam belum terasing." Lanjut Gus Mus.

"Bahkan, 'Allahu Akbar' sekarang ini tidak hanya dilakukan di masjid. Di jalan-jalan juga berkumandang takbir. Digunakan untuk demo ..." lanjut Gus Mus, diiringi tawa renyah peserta pengajian.

Melihat dari yang telah Gus Mus sebutkan, hal-hal formalitas, belum layak dikatakan bahwa  Islam sudah asing dan terasing.

Kemudian Gus Mus menganalisa dari segi nilai-nilai keislaman.

Sekarang ini, banyak orang yang jujur merasa kesepian dan sendirian. Pejabat yang tidak korupsi di antara teman-temannya yang korupsi, merasa sangat terasing. Orang yang tidak korupsi merasa sendirian. Dari sekian banyak orang, orang yang jujur benar-benar sendirian. Terasing. Bahkan menjadi bahan gunjingan. Dikatakan orang yang aneh.

Itu contoh pertama. Contoh keduanya adalah, banyaknya orang yang berdakwah demi Islam namun tidak mencerminkan nilai-nilai keislaman. Contohnya adalah berdakwah dengan kekerasan. Berteriak-teriak dengan keras atau kasar untuk mengenalkan dan mengajak orang lain agar ikut Islam.

Sementara Islam itu rahmah, penuh kasih sayang. Agama yang samhat (memberi hak), agama yang luas dan enak-kepenak.

Tetapi justru, cara mengajak atau berdakwahnya tidak islami. Dengan cara yang kasar dan keras.

Dari satu contoh ini saja, sekarang ini Islam bisa dinyatakan ghorib, asing. Ghorib dalam arti bahwa nilai-nilai keislaman bahkan sudah tiada di dalam orang-orang yang mengaku Islam namun dengan cara dan penafsiran yang melenceng dari nilai-nilai Islam.

***
Saya hanya akan membandingkan penafsiran mereka, para teroris, dengan penafsiran Gus Mus tentang hadis teroris tersebut.

Hadis, begitu pula Alquran, itu tergantung siapa yang menafsirkan. Satu hadis di atas bisa ditafsirkan dengan sangat berbeda oleh dua orang atau kelompok yang berbeda.

Yang satu menafsirkan hadis bisa dengan kesimpulan harus ngebom, sementara penafsiran yang lain menjadikan sebuah hadis menjadi kritik sosial untuk memperbaiki akhlak penganut Islam.

Itulah kenapa mengaji harus dengan guru yang sudah mumpuni keilmuannya. Tentu saja orang yang sudah mumpuni keilmuannya adalah mereka yang mengaji secara runtut. Bersanad.

Dan pondok-pondok NU selalu bisa menjawab keresahan masyarakat akan cara menuntut ilmu yang bisa menyesatkan. Dari sejak lama, pondok NU selalu memberikan solusi mencari ilmu yang benar-benar menghasilkan santri-santri yang suka menebarkan rahmah, kasih sayang. Bukan sebaliknya.

Monday, December 31, 2018

KH. Munawwir Abdul Fattah dan Amal Saleh

KH. Munawwir Abdul Fattah nomor 1 dari kanan.

Penulis: Inan

Menjelang akhir tahun kabar duka kembali tersiar. Kali ini kabar itu terdengar dari kampung Krapyak, Yogyakarta. KH. Munawwir Abdul Fattah–seorang kyai, penulis, pendakwah dan "mungkin" sedikit yang tersisa dari murid-murid KH. Ali Maksum–telah dipanggil oleh Allah menyusul guru kinasihnya itu.

Kiai yang akrab disapa Pak Awing itu lahir di Jepara pada tahun 1945, beliau merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahnya, KH. Abdul Fattah, adalah seorang kyai di daerah Robayan, Pecangaan, Jepara. Desa yang dahulu dikenal sebagai industri kretek.

Bahkan saking terkenalnya, di wilayah tersebut terdapat sebuah masjid yang dipugar menjadi mewah berkat para donatur yang konon adalah pengusaha rokok. Walhasil masjid itu pun di kemudian hari dikenal pula dengan sebutan Masjid Kretek.

Tak seperti lazimnya kebanyakan santri, selama hidupnya Pak Awing tercatat hanya nyantri di pesantren Krapyak saja meskipun pernah menghabiskan satu tahun waktunya di Mekkah untuk belajar. Bersama dengan kedua saudaranya, beliau berangkat menuju Krapyak dan menimba ilmu kepada KH. Ali Maksum.

Sebagai seorang penulis, KH. Munawwir Abdul Fattah diketahui telah menghasilkan banyak karya baik dalam wujud esai maupun buku. Tema karangannya pun beragam. Mulai dari ilmu gramatika bahasa arab, kumpulan doa dan wirid hingga terjemahan kitab ulama-ulama klasik.

Di antara sebagian bukunya adalah: Lahir Khitan Menikah Meninggal: Panduan Prosesi dan Tata Cara Mengelola, Pantulan Cahaya Rasul, Tuntunan Praktis Ziarah Kubur, Mengintip Pintu-Pintu Surga Lewat Ayat-Ayat Suci dan Hadis Nabi dan Tradisi Orang-Orang NU. Semasa hidupnya, beliau juga tercatat sebagai kontributor tetap majalah Bangkit milik PWNU DIY.

Hari ini, salah satu karyanya yang mungkin sangat akrab di telinga para santri adalah kamus Arab-Indonesia/Indonesia-Arab dengan judul al-Bisri. Kamus itu beliau tulis bersama adik Gus Mus yakni KH. Adib Bisri almarhum.

Berbicara soal tulisan beliau, saya pernah menemukan tulisan ihwal amal saleh dalam salah satu bukunya. Katanya, amal saleh tidak hanya terbatas pada ibadah-ibadah fardhu seperti salat, puasa, zakat, dan haji saja. Di dalam Alquran sendiri anjuran untuk beramal saleh disebut lebih dari sepuluh kali dengan berbagai macam redaksinya.

Meskipun demikian, saat ini tak banyak orang yang mengetahui apa itu pengertian amal saleh. Mereka mengira bahwa semua kegiatan muslim sehari-hari yang disandarkan kepada Allah tidak termasuk amal saleh.

Sebut saja hal-hal sederhana seperti doa setelah bangun tidur, masuk kamar mandi dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan, berwudhu, berdoa setelah wudhu, bertemu kawan lalu berjabat tangan, tersenyum, menebar salam, i'tikaf, membaca selawat dan seterusnya.

Atau bisa jadi dengan hal-hal yang lebih besar seperti menolong orang yang kecelakaan, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, bertetangga dengan baik, mengikuti majelis pengajian, ikut membina keamanan masyarakat, cinta tanah air, membela negara dan lain-lain.

"Itu semua," tulis beliau, "adalah amal saleh. Alangkah mudahnya hidup orang-orang yang mengetahui hal itu. Dengan menyandarkan semua kegiatan amalnya kepada Allah, penuhlah pundi-pundi amalnya. Tetapi alangkah naïf jika seorang mukmin tidak tahu bahwa yang dikerjakan itu sebenarnya adalah amal saleh tetapi ia tidak mengetahuinya."

Mengenai amal saleh ini agaknya beliau telah memperluas maknanya sehingga memudahkan orang-orang yang memiliki banyak kesibukan tapi tak banyak waktu untuk tetap beramal saleh.

Selain itu, beliau tak sekedar memberikan penjelasan beserta contohnya saja melainkan juga telah mempraktikkannya sendiri. Ini terlihat dari amal beliau baik dalam bentuk tulisan, nasihat-nasihat atau ceramahnya yang akan selalu dikenang oleh para sahabat, keluarga dan santri-santri yang pernah mengaji kepadanya.

Pada hari Kamis malam Jum'at 27 Desember kemarin, berita duka itu tersiar melalui pengeras suara masjid Krapyak di mana beliau biasa melakukan khotbah Jum'at.

Beberapa waktu sebelumnya, KH. Munawwir Abdul Fattah sempat memiliki keinginan untuk membeli tanah di dekat tempat tinggalnya. Kata beliau, tanah tersebut akan dijadikan sebagai makam keluarga. Dan sampai saat wafatnya, saya sendiri tak pernah tahu apakah keinginan itu telah terwujud atau belum.


Baca esai menarik lainnya yang ditulis oleh INAN.

Sunday, December 30, 2018

Keharaman Mengkonsumsi Daging Keledai Peliharaan dan Kisah tentang Abu Tholhah


Foto: sabak.or.id
Penulis: Mujib Romadlon

Pada kesempatan ini. Kajian Bulughul Marom telah sampai pada hadis tentang daging keledai. Dalam sebuah hadis riwayat Abu Tholhah, al-himar al-ahliy atau daging keledai peliharaan haram untuk dikonsumsi, karena najis.

Pada saat peristiwa Khaibar, Kanjeng Nabi saw. dan Sahabat pernah menderita kelaparan. Lalu sekelompok orang menangkap seekor keledai, lalu menyembelihnya. Ketika daging telah mendidih, tiba-tiba Kanjeng Nabi saw. menyerukan, "Matikanlah (api) wadah kalian, jangan memakan daging keledai sedikitpun. Karena itu najis! Tumpahkanlah masakan itu dan pecahkanlah wadahnya!"

"Apa tidak lebih baik wadahnya dicuci saja wahai Rasulullah?"

"Baik, cucilah saja."
Dalam riwayat lain dari Ibnu Majjah disebutkan "karena keledai memakan kotoran."
Jumhur Ulama (Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah) sepakat mengatakan bahwa keledai peliharaan termasuk hewan yang haram untuk dikonsumsi. Lantas, adakah kalangan ulama yang membolehkan daging keledai peliharaan? Memang ada, yakni sebagian dari Malikiyah membolehkannya.
Secara mutlak, daging keledai peliharaan hukumnya haram. Ingat, yang menjadi peliharaanlah yang haram. Sedangkan yang sejatinya memang keledai liar itu tetap halal. Karena pernah ada riwayat Kanjeng Nabi saw. sendiri pernah mengkonsumsinya bersama beberapa sahabat.

Hadis ini diriwayatkan oleh salah seorang Sahabat bernama Abu Tholhah. Beliau bernama asli Zaid bin Sahl. Beliau menjadi ayah tiri dari Shahabat Anas bin Malik, karena menikahi Ibu dari Anas bin Malik yang bernama Ummu Sulaim.

Ummu Sulaim menerima lamaran Abu Tholhah dengan maskawin dua kalimat syahadat saat peristiwa bai'at aqabah yang kedua.

Kedekatan Kanjeng Nabi saw. dengan Abu Tholhah memang sudah masyhur muncul dalam banyak kisah. Pada suatu ketika, Abu Tholhah melihat Kanjeng Nabi saw. tengah mengajarkan Alquran bersama para ashabussuffah yang berjumlah kurang lebih 30 orang. Saat itu juga, Abu Tholhah melihat Kanjeng Nabi saw. tengah mengganjal perut dengan batu.

Perhatian terhadap kondisi Kanjeng Nabi saw., sesampainya di rumah, Abu Tholhah meminta Ummu Sulaim untuk memasakkan sesuatu bagi Kanjeng Nabi saw. yang ternyata hanya ada 1 mud (6 ons) gandum yang hanya cukup untuk sepotong roti saja.

Sekalipun hanya sepotong roti. Abu Tholhah pun segera memanggil Anas bin Malik dan berpesan untuk hanya mengundang Kanjeng Nabi saw. saja. Namun di luar dugaan, sesampainya di Masjid Nabawi. Malah Kanjeng Nabi saw. yang bertanya lebih dahulu.
"Engkau pasti mengajak makan, bukan?"

"Iya Rasul"
Tanpa diduga Kanjeng Nabi saw. menyeru pada para ashabussuffah yang lain.

"Ayo semuanya, ikut makan di tempatnya Abu Tholhah"

Sekonyong-konyong si Anas kecil ini bingung tiada tara. Karena dia sendiri tahu di rumahnya hanya ada satu potong roti saja. Anas hendak berlari dan mengabari rumah, tetap tidak bisa, karena tangannya telah digenggam erat Kanjeng Nabi saw.

Sesampainya di rumah Abu Tholhah. Rasulullah masuk duluan, kemudian memegang sepotong roti dengan memakai minyak samin.

Subhanallah, dengan mukjizatnya, sepotong roti itu pun mengembang menjadi besar. Rasulullah kemudian menyuruh masuk rumah per-sepuluh orang. Sampai akhirnya setiap ashabussuffah pun kenyang. Rasulullah dan sekeluarga pun juga dapat makan, sampai-sampai masih ada sisa yang masih bisa dibagikan ke tetangga mereka.

Ada cerita lain lagi, saat itu ada seseorang tamu yang meminta makan kepada Kanjeng Nabi saw., padahal Kanjeng Nabi saw. sendiri dengan para istrinya pun tengah dilanda kelaparan.

Rasulullah pun mengumumkan, "siapa yang ingin menghormati tamuku?". Dengan sigap Abu Tholhah menjawab, "saya siap Rasul".

Sampai di rumah, ternyata apa yang dimiliki oleh Abu Tholhah hanyalah tinggal cadangan makanan untuk anak-anaknya saja. Untuk tetap memenuhi janjinya kepada Kanjeng Nabi saw. Abu Tholhah bersama istrinya, Ummu Sulaim mematikan lampu, dan seakan-akan ikut makan bersama si Tamu. Padahal apa yang mereka berdua lakukan ialah bersandiwara seakan-akan ikut mengecap makanan seperti sang tamu yang memakan jatah makanan terakhir mereka.

Namun tanpa diduga, pagi harinya saat bertemu dengan Kanjeng Nabi saw. emudian bersabda,

"Allah takjub dengan apa yang kalian berdua lakukan". Peristiwa ini digambarkan dalam QS. al-Hasyr ayat 9,

... wa yu'tsiruna ala anfusihim walaw kana bihim khasasah...

"... dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka sendiri tengah kesusahan..."
Kedekatan Abu Tholhah tergambar pula pada banyak kisah yang lain. Pasca Abu Tholhah bersaksi atas Islam, hampir tiada perang yang tidak diikutinya. Bahkan pada saat perang Uhud ketika banyak yang mundur, Abu Tholhah tetap setia mendampingi Kanjeng Nabi saw.

Hingga saat Kanjeng Nabi terjerembab jatuh di sebuah parit, yang selalu melindungi berada tepat di depan beliau, adalah Abu Tholhah sebagai ahli panah.

Saat haji wada' tiba, saatnya Kanjeng Nabi saw. untuk ber-tahalul (potong rambut). Seluruh rambut sebelah kanan dibagikan kepada seluruh para sahabat yang hadir saat itu. Namun pada saat tiba bagian keseluruhan rambut yang kiri, semua rambut bagian itu kemudian dikumpulkan dan hanya diberikan kepada Abu Tholhah saja. Subhanallah...

Sebagai penutup, hadis mengenai keharaman daging keledai peliharaan, masih memiliki beberapa faedah yang patut dipahami yaitu:

1. Daging keledai peliharaan itu haram untuk dikonsumsi sebagai makanan. Namun apabila keledai liar itu boleh untuk dikonsumsi.

2. Sesuatu yang najis itu secara umum tetap haram dan tidak boleh untuk dikonsumsi.

3. Melalui hadis ini, bangkai dari binatang yang haram dimakan itu hukumnya tetaplah najis. Karena penyembelihan itu sendiri hanya bisa menghalalkan hewan-hewan yang memang halal dimakan. Sedangkan bagi hewan yang memang sejatinya haram, sekalipun mati dengan cara disembelih tetaplah najis.

4. Wajib hukumnya untuk mencuci wadah, tempat dan pakaian bila terkena najis.

Saturday, December 29, 2018

Agama yang Dikapitalisasi: Gejala Lumrah atau Lu Marah


Penulis: Umar Farq

Melihat budaya ataupun hasil budaya yang lahir di era modern sekarang ini memang menggelikan, banyak sekali nilai-nilai kemurnian yang bergeser pada konsumerisme semata.

Contohnya agama, kita bisa lihat bagaimana keadaan industri media sekarang ini, baik dari facebook, twitter, youtube hingga instagram. Live streaming saat sedang menjadi imam sholat sampai nangis tersedu-sedu tapi sadar kalau sedang disorot kamera. 

Semua penuh dengan sandiwara. Hingga dianggap bahwa media sosial sama dengan media dakwah. Mungkin bisa disebut juga "religius-tainment".

Bukan satu kesalahan bahwa pemanfaatan media sosial digunakan sebagai media dakwah, sebab memang sudah zamannya. Namun permasalahannya terjadi pada nilai-nilai fitrah agama itu sendiri yang hilang dan bergeser menjadi seperti barang dagangan semata.

Mbok ya jangan banget-banget berdagang agamanya.

Di era ini, siapapun orangnya bisa menjadi pendakwah yang diamini ribuan jamaah dengan dalih yang sungguh-sungguh bijaksana sekali yaitu "sampaikanlah ilmu walau satu ayat!", yang pada fakta dan realitanya memang hanya satu ayat yang baru dipelajarinya, dimanfaatkan untuk "macul" di hadapan pengikutnya. 

Ya, selaras dengan kutipannya Neitzsche "Pembaca yang buruk bagai serdadu penjarah, ia mengambil rampasan seperlunya saja lalu ia gunakan untuk bersumpah serapah melawan semuanya"

Hampir sama kan???

Ada pernyataan menarik dari seorang budayawan Radhar Panca Dahana dalam diskusi di SS Forum saat menanggapi pertanyaan tentang agama yang dikapitalisasi ini. Menurutnya gejala yang lahir di dunia industri atau kapitalis sekarang ini bagi Radhar bukan gejala apa-apa, itu "gejala lumrah."

Sebab, semua bentuk kebudayaan ataupun produk kebudayaan akan dimasukkan dalam logika kapitalistik. Apapun namanya tidak akan dipedulikan, tanpa ada batasan moral, etik, adat, dan lain-lain. 

Jika semuanya bisa dimanfaatkan dan dieksploitasi sebagai bahan industri mengapa tidak? orang tidak akan peduli itu kiai, dai, hingga presiden pun akan di kapitalisir. Apalagi cuma kau, Ferguso!

Pemahaman tentang tafsir surat "wal'asri" yang mengajarkan tidak boleh hidup dalam kerugian akhirnya dimanfaatkan sebaik-baiknya menjadi "urip kudu mbathi." 

Secara kolektif bahwa manusia tak sadar hidup dalam dunia kemunafikan. bergotong royong membagun "logika mbathi" dengan menghilangkan nilai-nilai fitrah kesucian agama itu sendiri. Tak peduli ada akibat apa yang akan memakan generasi penerusnya. Selaras dengan konsep yang digagas oleh Adorno tentang kapitalisasi seni.

Akibatnya berimbas pada sikap skeptis orang yang baru saja ingin mempelajari agama, yang berniat mencari ruang ketenangan batin, berpikir bahwa ajaran agama itu cinta damai, agama bisa menerima segala bentuk keadaan dan perbedaan. 

Namun keinginan baru itu seketika dibabat habis pada kenyataan yang dilihatnya, yaitu ketika melihat orang yang mengaku beragama justru malah saling memaki, perang sebab merasa paling benar, penghakiman, dan tuduhan yang bermacam-macam, hingga "mengkafir-kafirkan" kepercayaan lain.

Apakah itu dakwah yang diajarkan oleh Agama? 

Pertanyaannya, masih adakah nilai-nilai agama yang diajarkan sesuai fitrahnya? Ada! Bukan di kota, melainkan justru di desa-desa atau di pesantren, di tempat para kiai yang tidak pernah terjamah oleh media, atau malah tidak mau diliput media apapun. 

Disitulah nilai-nilai kemurnian beragama masih benar-benar terjaga tanpa embel-embel konsumeristik. Memberi atas dasar keikhlasan. Pembelajaran dari alif hingga ya', bagaimana cara membaca Al Quran dengan tajwid baik dan benar, dikaji nahwu sharafnya, hingga pemahaman pada tafsir, hadist, fiqh dan tasawwufnya.

Maka, jangan mencari ilmu agama hanya pada instagram dan youtube saja, apalagi digunakan untuk besumpah serapah. hihi...

Carilah di pesantren dan di desa-desa.

Ilmu agama kok dipelajari secara otodidak[?]