Friday, March 1, 2019

Jangan Malu Bilang Tidak Tahu Sebab Tahu Diri Bukan Berarti Merendahkan Diri

Oleh: Tajul Muluk

Era millenial ini, semua serba mudah didapat, bukan hanya barang kebutuhan sehari-hari, eksistensi pun bisa dengan mudah diperoleh. Informasi apa pun mudah ditemui berseliweran membanjiri laman-laman media sosial.

Ada yang menarik untuk diperhatikan, di tengah genangan banjir informasi di berbagai media saat ini, yaitu komentar para nitizen dalam menanggapi berita yang mereka terima. 

Polah tingkah mereka sangat beragam, mulai dari yang tampak elegan-berilmu sampai yang norak-sok tahu. Tapi ya, fenomena ini sulit dihadang apalagi dihentikan, melawan banjir bandang tanpa alat pengambang adalah bagian dari jenis kejununan dalam bentuk yang lain. Ha...

Namun demikian tetap saja sebagai sesama muslim, sesama anak bangsa dan sesama anak cucu Adam, kita tetap diberi ruang untuk saling berkisah tentang generasi emas sekian abad silam. Itu cara Tuhan yang direkomendasikan untuk ditiru ketika hendak memberikan cahaya pada gelapnya moral dan perilaku manusia.

Keinginan untuk eksis sebenarnya sah-sah saja dan sangat manusiawi. Keberadaan kita di dunia, apalagi bagi umat islam, eksistensi itu suatu keniscayaan agar misi amar makruf dapat lebih mudah terlaksana. 

Namun yang perlu dicatat adalah cara meraihnya, jangan sampai menghalalkan segala cara atau setidaknya over capacity, melakukan sesuatu di luar kemampuan dan kapasitasnya. Jangan lah memplesetkan jargon para filosof keren itu menjadi, aku berkomentar maka aku ada, atau menjadi, aku keminter maka aku eksis?

Yaa Allah, amit amit jabang bayi.

Mari kita belajar tahu diri, karena tahu diri itu tidak sama dengan merendahkan diri sendiri.

Tahu diri itu menurut para sufi adalah kunci mengenal Allah. Sebabnya, para shulaha’ itu sangat serius mencari tahu jadi dirinya. Para intelektual dan ulama hebat di masa lalu mengajarkan kita untuk tahu diri.

Sekelas Imam As-Syafi’i misalnya, beliau tak segan menyebut dirinya bukan bagian dari orang shalih, beliau hanya memposisikan sebagai pecinta orang shalih. 

احب الصالحين ولست منهم . 

Lalu, apakah ungkapan demikian membuat beliau rendah dan terhina derajatnya? Tidak sama sekali. Bahkan beliau semakin disegani dan meninggi derajatnya.

Syeikh Burhanuddin Az-Zarnuji menuliskan nasehat dalam syi’irnya:

ان التواضع من خصال المتقي # وبه التقي الى المعال يرتقي

Dalam bait syair di atas, Az-Zarnuji meyakinkan kita bahwa, sikap tahu diri, menahan diri, tidak akan menyebabkan rendah terhina, justru sikap tahu diri adalah tangga pendakian menuju derajat yang lebih tinggi.

Apa yang disampaikan oleh Az-Zarnuji sangat realistis, sesuai dengan kenyataan. Bersikap seolah tahu tentang segala hal dan menguasai berbagai macam persoalan tidak serta merta meninggikan level sosial apalagi spiritual. Jika pun secara sosial meningkat levelnya, paling sebentar saja sampai ketahuan bahwa ia benar-benar tidak tahu yang sebenarnya.

Hari ini, sangat mudah dijumpai, perbincangan tentang yang sangat serius, tentang agama misalnya, dibicarakan seringan-ringannya dan sengawur-ngawurnya oleh orang-orang yang tidak memiliki kapasitas keilmuan yang memadai.

Sungguh ini adalah suatu keberanian dan nyali yang sangat bagus mesti tak beraturan. Bagaimana tidak kacau, mereka menyampaikan pandangannya tentang permasalahan agama dengan menggunakan kalimat pembuka yang sakti, “kalau menurut saya” dan kalimat sejenisnya. 

Sungguh ini adalah argumentasi yang akal sekali, atau akal-akalan sekali? Islam memang memberi ruang pada akal untuk memahami teks-teks suci, tetapi memproduksi pemikiran dan pemahaman agama semata hasil olah akalnya semata, adalah bertentangan dengan tradisi islam itu sendiri.

Rasulullah saw. memberikan penegasan sekaligus peringatan keras dalam hal ini. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Sayiidah ‘Aisyah:

“مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدّ"ٌ”

Dalam hadits ini, secara tegas Rasulullah tidak menghendaki, tidak berkenan menerima, hal-hal baru dalam perkara agama.

Selama ini, hadis ini oleh sebagian umat islam dipahami secara sempit saja. Menurut mereka, hadis ini mengecam atau menyasar umat islam lainnya yang melakukan praktik ibadah yang diduga tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw., padahal tidak demikian. Makna hadits tersebut memiliki makna yang luas.

Dalam diskursus ilmu tafsir, terdapat ungkapan popular terkait teks agama, bahwa teks agama itu memiliki makna batin selain makna lahirnya. Artinya, setiap teks itu selalu membuka diri untuk dibaca dan dimaknai secara beragam.

Hadis tersebut memiliki makna yang sangat penting selain makna pada umumnya seperti yang dijelaskan di atas. Makna penting tersebut adalah, hadis ini selain bersifat yuridis juga bersifat prefentif [pencegahan].

Praktiik beragama adalah hasil dari simpulan suatu pemahaman, ia tidak serta merta muncul dalam tataran praksis apalagi berdiri sendiri tanpa didahului atau dikaitkan dengan pemahaman.

Jika ditilik dari teori ini, maka tradisi kekinian yang dilakukan dan dikampanyekan oleh sebagian umat islam dalam membahas problematika agama, hanya dengan modal kalimat sakti “kalau menurut saya”, adalah tradisi yang benar-benar baru dan akal-akalan semata.

Membicarakan suatu permasalahan di luar kapasitas kemampuan dan pengetahuan sangat tidak dianjurkan. Bahkan dengan sangat jelas, dalam al-Qur’an dan hadits disebutkan larangan membicarakan suatu yang tidak dipahami dan dikuasai dengan baik beserta dampak buruknya. Dalam QS. Al-Isra’;36, Allah swt. menyatakan “laa taqfu”.

Menurut Ibnu Abbas, maksud ayat ini, jangan memberi kesaksian kecuali kau lihat sendiri dengan kedua matamu, kau dengar sendiri dengan telingamu, kau ketahui sendiri dengan penuh kesadaran.

Imam Qatadah menjelaskan tentang maksud ayat ini; jangan kamu berkata, “saya telah mendengar” padahal belum mendengar, dan jangan kamu berkata, “saya telah mendengar”, padahal belum mendengar, dan jangan kamu berkata, “saya telah mengetahui” padahal engkau belum mengetahui.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. memperingatkan bahwa, sesuatu apa pun yang turut ditangani oleh orang yang tidak punya kapasitas dan kemampuan yang memadai, hanya akan memicu dan menyebabkan kerusakan dan kehancuran.

Dari penjelasan-penjelasan tersebut, pelajaran baik yang bisa diambil adalah, menahan diri dari turut campur dalam suatu hal yang tidak dipahami, tidak dimampui, justru termasuk bentuk ketaatan dan ibadah, bukan suatu maksiat dan kehinaan.

Ketidak-ikut sertaan seseorang dalam mengurusi segala sesuatu di luar kemampuannya akan jauh lebih positif dan produktif.

Jadi, tahu diri bukan berarti merendahkan diri, tetapi tahu diri adalah tindakan nyata meyelamatkan diri. Sebaliknya, orang yang tak bisa mengukur kapasitas dan kemampuannya sendiri, lalu bertindak sekehendaknya sendiri, bisa jadi ia berusaha mempermalukan dirinya sendiri.

Wednesday, February 6, 2019

Jatuh cinta kepada Habib Luthfi


Penulis: Gus Ismael Amin Kholil

Kunjungan ke kota batik kali ini benar-benar terasa sangat indah. Setelah ngalap berkah Habib Ahmad Bin Abdullah Al-Athhos di Sapuro dan menghadiri acara Majelis Rasulullah di Wiradesa, pada tengah malam aku langsung saja menuju kediaman Habib Luthfi Bin Yahya. Dari kabar yang aku dapat dari khadim beliau, Abah Luthfi baru saja rawuh.


Ketika kami sampai di depan ndalem beliau, dari kejauhan tampak berlangsung sebuah pertemuan di lantai bawah. Aku memasuki rumah beliau dengan perasaan ragu, ditengah jadwal beliau yang sangat padat, ditengah tamu-tamu beliau yang begitu membludak ini, apakah diri ini - yang bukan orang penting dan orang besar - bisa ditemui beliau? 

"Gak usah lama-lama wes hanya sekedar meminta barokah doa" Kata saya dalam hati. 

Kami menuju ruang tamu di lantai atas, di situ sudah banyak orang menunggu untuk ditemui Abah. Menurut kabar yang aku dapat dari seorang sahabat, banyak orang yang bahkan rela menunggu berhari-hari agar bisa menemui Habib Luthfi.

Di tengah keraguan yang masih saja menyelimuti hati, aku mengirim fatihah dan bertawasul kepada para Awliya' Ba'alawi; Habib Umar dan Syaikhona Kholil Bangkalan. 

Aku ingat, salah satu kiai sepuh di Madura pernah mengisyaratkan padaku bahwa Habib Luthfi memiliki ikatan bathin khusus dengan Mbah Kholil. Ketika berziarah ke makam Mbah Kholil di Bangkalan beliau bahkan selalu "bercengkrama" langsung dengan "Shahibul Maqam"

Tak lama kemudian, Habib Luthfi keluar kamar. Sayang sekali beliau langsung menuju ruang rapat dilantai bawah dan masih belum bisa menerima tamu. Akhirnya aku juga nimbrung mengikuti jalannya rapat yang ternyata adalah rapat pengurus Jatman untuk acara Multaqa Ulama Internasional yang akan diadakan di Pekalongan beberapa minggu kedepan. 

Waktu hampir menunjukkan jam 1, Habib luthfi pamit untuk bersiap-siap ke Jakarta di pagi harinya. Orang-orang langsung saja mengerebungi beliau, berebut untuk bersalaman. Aku makin ragu akan kemungkinan bisa ditemui beliau malam ini. 

Namun barokah para Awliya' memang tak akan pernah lekang oleh waktu, di tengah kerumunan siapa sangka ada satu sahabat banser yang matur ke Abah bahwa ada "tamu" dari keluarga Bangkalan. Aku langsung maju, mencium tangan beliau dan matur :

"Baru datang sebulan lalu dari Yaman, Bah..."

Abah langsung mengajak ke lantai atas, dan tak disangka-sangka, bukan ruang tamu yang beliau tuju, melainkan kamar pribadi beliau.

"Mriki, Gus." (Masuk, Gus) Beliau memanggil dari dalam.

Aku langsung saja masuk, disusul Mas Agung yang menemaniku dari Jogja, Fathul Id dan pak Nur. Tampak sebuah kamar dengan tumpukan kitab dimana-mana, ada kitab Al-Maqothi' disebelah sana, kitab rangkuman kalam-kalam Saadah Ba'alawi keluaran terbaru. Ada juga kumpulan topi koboi mengelantung di pojokan kamar. 

Abah Luthfi melepas jubah dan kopiahnya, dengan memakai kaos oblong dan celana putih beliau mempersilahkan kami duduk.

"Saya membawa amanah dari Habib Umar untuk bertamu ke para ulama, Bib..." Aku membuka percakapan.

Aku lalu meminta nasehat dan arahan beliau terkait metode dakwah terbaik untuk masyarakat umum. Beliau lalu memberi arahan untuk fokus pada aqidah dan hal-hal yang pokok. Tinggalkan masalah-masalah khilafiah seperti membahas hukum rokok, cadar dll.

Beliau juga membahas tentang beberapa ayat, menguak rahasia-rahasia Al-Quran yang tidak bisa dipahami dengan pemikiran yang dangkal. Beliau lalu berkata :

"Di antara para muballigh.. Saya ini kebagian yang pahit-pahit.. "

Beliau kemudian menanyakan hal yang begitu menggelitik:

"Sampean sudah pernah duduk dengan pelacur?"

"Mboten." (Tidak pernah) aku menjawab.

"Sama peminum minuman keras?"

"Belum pernah.. "

"Saya dulu duduk bersama mereka selama 3 tahun.. Saya dicap sebagai Habib gak bener saya gak peduli. Orang seperti mereka itu jangan dijauhi biar tidak lari.. Mereka itu tanggung jawab siapa ? "

"Ketika kita berdakwah.. Maka jangan jadikan orang lain sebagai lawan.. Jadikan mereka sebagai saudara. Ketika kita menganggap mereka sebagai saudara kita akan bersikap baik terhadap mereka.. Kunci dakwah itu satu : kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama: Bil Mu'minina roufurrahiim "

Abah lalu menjelaskan betapa pentingnya merangkul orang-orang seperti itu dalam berdakwah. Menceritakan bagaimana awal perjuangan dakwah beliau di masa lampau.

"Dakwah dengan sikap yang baik itu lebih kita butuhkan daripada hanya dengan ceramah-ceramah."

Aku lalu berkomentar bahwa dulu dakwah Habib Umar juga "menjemput bola" sama seperti Abah Luthfi. Habib Umar mendatangi pemuda-pemuda pemain bola, merangkul mereka, dan pada akhirnya mengajak mereka pada kegiatan-kegiatan keagamaan.

Abah Luthfi bercerita lagi :

"Saya ini. Kalau diajak umroh oleh orang jarang sekali mau. Soalnya saya tidak ingin meninggalkan amanah yang begitu besar disini untuk hanya sekedar jalan-jalan dan sowan Rasulullah. -Tugas saya disini juga amanah Rasulullah -. coba andai saja uang yang dibuat umroh berkali-kali itu diberikan pada orang-orang kelaparan, anak-anak pesantren yang putus belajar karena tak punya biaya dll."

Abah terlihat begitu bersemangat di malam itu, beliau bercerita banyak tentang masa mondok beliau, tentang NU, Ra Lilur, dan guru-guru beliau. Juga tentang buyut beliau, Habib Syaikh Bin Yahya di Desa Qorot Hadhramaut yang bahkan aku yang pernah 6 tahun lebih disana tak pernah mendengar tentang itu sebelumnya.. Hehe

"Saya seperti ini karena saya mondok 22 tahun. Setelah menikah bahkan saya masih tetap mengaji selama 11 tahun." Kenang Abah.

"Iya, Bib. Banyak orang yang mengira bahwa njenengan mendapat semua ini secara Instan.. " cletuk seorang kiai dari Kaliwungu yang juga hadir di kamar waktu itu, Abah tertawa mendengarnya..

Beliau juga menjelaskan bahwa kakeknya Habib Hasyim Bin Yahya memiliki ikatan emosional yang begitu kuat dengan Syaikhona Kholil Bangkalan. Bahkan Syaikhona sering kali datang ke Pekalongan untuk mengunjungi Habib Hasyim, begitu juga sebaliknya. Sama seperti Syaikhona, Habib Hasyim ini menurut Abah Luthfi juga memiliki andil besar dalam berdirinya NU.

Di malam itu Habib Luthfi seakan tak henti-hentinya menuangkan lautan ilmunya untuk kami. Bagaikan mimpi, yang duduk dihadapanku waktu itu bukanlah orang biasa, bukan orang sembarangan, beliau adalah sosok agung pemimpin Jama'ah Thariqat se-nusantara yang begitu disegani dimanapun. 

Namun lihatlah sambutan beliau yang sangat hangat dan antusias untuk seseorang yang bukan siapa-siapa dan baru pertama kalinya bertemu dengan beliau ini.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 3, sudah 2 jam lebih kami mendengar wejangan-wejangan berharga dari beliau. Jika aku tak minta izin untuk pamit, mungkin pertemuan itu akan 'bablas' sampai subuh. Aku bertanya dalam hati :

"Beliau ini baru saja pulang, terus rapat, setelah subuh nanti akan menuju Jakarta. dan pada jam ini beliau masih bersedia menemui tamu-tamu. terus kapan istirahatnya ?? "

Dini hari itu aku benar-benar dibuat jatuh cinta kepada sosok Habib Luthfi. Pada kesederhanaan beliau, keramahannya, ketawadhu'annya, dan semangat beliau untuk berbagi ilmu dan kebaikan terhadap orang lain. ketika memandang beliau langsung di depanku waktu itu, dikala beliau sibuk menjelaskan bermacam-macam teori dakwah untuk kami, aku malah ingin menangis haru.

Abah Luthfi sekali lagi bukan orang sembarangan, beliau pemilik mata bathin yang sangat kuat sama seperti Siidil Habib Umar dan para pembesar Habaib lainnya. Aku lantas teringat akan kisah seseorang di Tarim, dulunya ia adalah orang yang bergelimangan dosa. Ketika ditanya tentang sebab taubatnya ia menjawab :

"Habib Umar dan Habib Abdullah Bin Syihab.. Mereka berdua tau aku ini orang yang banyak dosa, tapi mereka tak pernah berhenti terseyum ketika bertemu denganku.. "

Malam itu aku menyaksikan sendiri kehebatan sosok Abah Luthfi yang sering aku dengar selama ini. ketika beliau menjelaskan bahwa Kewalian keluarga Bin Yahya itu banyak yang mastur, aku berkata kepada beliau :

"Tapi kalau panjenengan termasuk yang masyhur bib.. "

Beliau tersenyum lalu berkata :

"Alaah.. saya ini masyhur dari mana ? "

Kami pamitan. Beliau melarang kami untuk bersalaman, kata beliau biar kapan-kapan bisa bertemu lagi, beliau juga berpesan :

"Jangan pernah bosan main kesini."

Benar-benar pertemuan berharga yang bagaikan sebuah mimpi. Bahkan Sampai sekarang aku seakan belum bisa move on dari indahnya pertemuan itu. Persis seperti yang didawuhkan oleh Siidil Habib Umar :

مصاحبة الرجال ذوي الوفاء * نعيم الخلد في دار الفناء

"Berkumpul bersama mereka para kekasih Allah adalah Nikmat surgawi yang bisa dirasakan di dunia yang fana ini "

Semoga selalu diberikan afiyah dan kesehatan Abah.. ditengah perpecahan yang ummat rasakan saat ini, betapa butuhnya mereka terhadap sosok yang bijak, tenang, teduh, sejuk dan menyejukkan seperti panjenengan bib. 

Salam Tadhim untuk panjengenan di setiap detik waktuku.

Thursday, January 24, 2019

Tampang Pesantren dan Isu Politik Elektoral


 Ilustrasi: http://edikusmayadi.blogspot.co.id/2011/07/





Kendati dianggap sebagai kaum terbelakang oleh banyak pihak umum, masyarakat pesantren dengan percaya diri selalu menampik stigma tersebut. Tidak dengan kata-kata pesantren membantah, karena secara fisik belum banyak pesantren dikatakan maju. Tapi secara haluan keagamaan dan politik, bobot pesantren tak bisa dipungkiri beratnya.

Di mana ada pesantren kinclong dan harum mewangi? Mungkin ada, tapi tidak dominan, pun biayanya selangit mahalnya. Pesantren, lebih-lebih yang berhaluan klasik, sering menampakkan aspek kesederhanaan lingkungan dan kemandirian ekonomi “nerimo ing pandum”. Barangkali pengaruh sufistik dalam literatur merekalah yang sedikit-banyak bertanggung jawab akan hal ini.

Merespon kemodernan pendidikan pun bagi pesantren menjadi dilema yang dramatis. Di satu sisi “mempertahankan konsep lama yang masih relevan”, di sisi sebelahnya ada “mengakomodir kebaharuan yang lebih baik”. 

Fakta di lapangan, sesuai hemat pengamatan penulis, telah sampai pada kesimpulan bahwa pesantren hari ini telah melampaui zaman dengan strategi kamuflase. Penulis menyebutnya dengan syaubah; bahasa Arab yang berarti campuran (tapi dinamis).

Itu terjadi bukan tanpa sebab dan dadakan. 

Ahmad Baso dalam buku Pesantren Studies-nya mengemukakan teori tasykil jama’i (pembangunan masyarakat) yang secara sadar dilakukan masyarakat pesantren sedari awal, hanya saja tak termaktub dalam legal formal keorganisasian. 

Melihat pola pandang masyarakat dewasa ini yang semakin pragmatis dan hedonis, pesantren tak menutup mata dengan hal itu. Dibangunlah sistem yang kontemporer dan terlihat akrab dengan kebaharuan di banyak pesantren, sebagai satire dari keklasikannya.

Kebaharuan hari ini telah menyeret banyak Kiai untuk berijtihad mempertahankan eksistensi pesantren. Di samping keterbukaan dengan dunia informasi diperlebar, jaringan birokrasi yang dirangkul pun semakin mengkapital. Salah satu strateginya bahkan menanam generasi di lapangan birokratis. 

Tujuannya, tentu, mendapatkan akses informasi kebijakan negara bahkan bisa sampai campur tangan sembunyi badan dalam mengambil keputusan. Ya seperti itulah kecerdasan pesantren.

Selama ini masyarakat pesantren nyaman-nyaman saja dengan stigma negatif yang disematkan padanya. Mereka menyadari, betapa fungsi pesantren sebagai sentra dakwah dan pendidikan Islam di masyarakat punya potensi besar yang tak bisa terlihat dengan sekilas saja. 

Boleh jadi stigma negatif dari masyarakat umum terhadapnya, oleh pesantren dihayati sebagai laku tirakat sebagai santri yang kelak akan turun dari kawah Candradimuka, menuju dataran masyarakat luas.

Di tinjau dari kacamata sosiologi, ranah masyarakat pesantren hari ini masih digapai-dikuasai dengan pengelolaan yang potensial. 

Keterwakilan masyarakat pesantren dalam dinamika kehidupan berbangsa-bernegara menyasar hampir di segala bidang, baik ekonomi hingga politik, apalagi keagamaan. Sesuai dengan teori Habitus-nya Pierre Bourdieu (1930-2002), bahwa masyarakat pesantren bisa dianggap punya kapital modal berupa ajaran Islam yang kontekstual dan responsif. 

Akibat dari itu alumni-alumni pesantren yang berkiprah di masyarakat luas tetap bisa menajamkan gerakan dakwahnya tanpa aral rintangan dari interpretasi mereka terhadap ajaran Islam.

Ada muballigh atau guru ngaji yang kesehariannya akrab dengan lokakarya masyarakat seperti macam petani, tukang kayu, buruh dan lain sebagainya. Alumni pesantren bisa nyaman dan menembus ranah kehidupan apapun. 

Di tingkat yang lebih elit, ranah politis atau birokatis misalnya, alumni pesantren bisa tetap menanjak naik bahkan sampai pucuk pimpinan negara seperti yang dipraktikkan oleh Gus Dur.

Oleh karena demikian, pesantren sebenarnya telah mengahayati nilai-nilai kehidupan sosial secara seksama dan perlahan kemudian melahirkan sebuah perilaku sosial yang mendarah daging. Artinya, pesantren dengan kamuflasenya hingga hari ini, tidak hanya mengaktualisasikan sistem pendidikan yang bersifat baharu, tapi lebih dari itu, tetap saja bisa eksis dan punya daya saing dengan kelas-kelas masyarakat manapun di Indonesia.

Perilaku kolektif masyarakat pesantren hari ini dengan tampang yang sekilas terlihat meragukan, pada dasarnya lahir dari habitus kemurnian ajaran Islam yang mereka pegang, ditunjang pula dengan modal kapital berupa tafsir tentang relasi agama dan kehidupan yang kontekstual.

Hari ini bisa dilihat buktinya, bahwa di tengah-tengah riuhnya persaingan politik elektoral, masyarakat pesantren tanpa diprediksi telah mencengangkan banyak orang, dengan mendadaknya Kiai Ma’ruf Amin terpilih sebagai calon wakil Presiden, walau padahal sebelumnya ada seorang profesor terkenal dan didukung banyak orang sudah dikandidatkan. Tampang bersarung dan berpeci justru semakin menegaskan potensi dan kemampuan masyarakat pesantren tak bisa dinilai dari kekolotan tampilan.

Fenomena itu secara tidak langsung memberi pernyataan pada semua orang bahwa masyarakat pesantren tak bisa dipandang sebelah mata. Menyepelekan pesantren hanya akan membawa orang pada kekalahan dan malu sendiri. Karena diam-diam, dibalik hiruk pikuk dunia modern dan disruptif ini, pesantren tak bisa tercerabut dari realitas kehidupan bangsa Indonesia. 

Pesantren justru semakin eksis, barangkali bisa diangap sudah menjadi institusi induk masyarakat Indonesia dari zaman proklamasi. Anak tak akan jauh dari induknya.

Legalitas secara kolektif dari masyarakat pesantren sebagai rakyat kecil tak bisa dibeli murah. Jaringan dan koneksi antar pesantren walau tak resmi sudah menancapkan solidaritas dan kebersamaan. Suara masyarakat pesantren saat ini dalam dunia politik, punya orientasi untuk selalu mereduksi resiko-resiko politik. Maka dalam kondisi tertentu masyarakat pesantren bisa membelah diri untuk keberpihakan mereka pada sosok calon pemimpin.

Boleh jadi di kondisi lain, masyarakat pesantren mem-bunglon tanpa disadari banyak orang mereka berpihak di kubu politik mana. Bukan karena alasan pragmatis pesantren melakukan itu, tapi lebih kepada nilai perjuangan sebagai orang Islam yang menghargai ilmu keislaman yang diimplementasikan sesuai kebutuhan negara, bukan sesuai tafsir sepihak.

Tak pelak masyarakat pesantren akan selalu mengawal politik elektoral serta mengupayakan lahirnya pemimpin dan para birokrat, dan meramalkan (baca; mengkonstruksi) jalannya perpolitikan yang sesuai dengan visi-misi pesantren.

Walau berbasis masyarakat agama, pesantrenlah yang justru hari ini berusaha mengesampingkan isu-isu agama dari permukaan politik. Begitu.




Saturday, January 19, 2019

Dua Sejoli Santri Ndalem




Penulis: Faiz Hasbullah

Pesantren adalah lembaga pendidikan yang di dalamnya bukan hanya mengkaji keagamaan saja, seperti halnya mengkaji Alquran, kitab-kitab salaf (kitab kuning), tetapi pesantren juga mendidik santrinya agar menjadi insan kamil (manusia yang sempurna) yang berilmu ilmiah dan beramal amaliyah, tentunya juga mengajarkan tentang akhlaq al-karimah, tata krama, ewuh pekewuh dan lain sebagainya. Biasanya hal-hal demikian bisa didapat dengan lamanya di pondok, atau menjadi santri ndalem.

Istilah abdi ndalem atau santri ndalem yaitu seorang santri senior yang sudah mondok lebih dari enam tahun misalnya, selain mengikuti tarbiyah, juga biasanya keluar masuk ndalem Kiai untuk menyiapkan suguhan atau daharan* Kiai. Beres-beres rumah, menyuguhkan jamuan untuk tamu dan lain sebagainya, sebagai bentuk khidmah kepada pesantren dan seorang Kiai dengan tujuan ngalap barakah.

Ada sebuah kisah tentang Kang Latif dan Kang Maulana, keduanya adalah pengurus tertua di pesantren, karena saking lamanya di pesantren, yaitu sekitar puluhan tahun, tetapi belum menikah dan selalu berjalan berdua kemanapun mereka pergi, sehingga santri junior memanggil mereka dengan julukan ‘Trijilan’ (dua biji yang tidak terpisahkan). 

Selama di pesantren, kang Trijilan ini menghabiskan waktunya untuk khidmah kepada pesantren dan Kiai, dengan takzim yang luar biasa, bahkan mereka keluar masuk ndalem rumah Kiai sehari lebih dari lima puluh kali.

Seiring berjalanya waktu, tidak terasa mereka berdua habiskan waktu di pesantren sebagai santri ndalem, dan akhirnya Kang Latif yang memang lebih senior dari Kang Maulana, membernikan diri sowan ke Kiai dengan tujuan minta izin mukim atau boyong dari pesantren dengan harapan diizini dan diridloi oleh Kiai.

Akhirnya, Kiai pun memberikan nasihat dan wejangan ke kang Latif, dan Kiai pun sudah menganggap cukup ilmu yang didapat oleh kang Latif. Dengan berat hati, sang Kiai meridloi kepergianya untuk pulang ke kampung halamannya, yaitu Jakarta, dengan syarat nanti pulang harus menjadi Kuwu*.

Semenjak kepergian Kang Latif, Kang Maulana pun kesepian, hari-harinya tak ada yang menemani, meskipun sudah ada yang menggantikan Kang Latif sebagai santri ndalem, tetapi sosok kang Latif di mata Kang Maulana tidak bisa tergantikan, canda dan guraunya selalu terngiang ditelinganya, pemikiran-pemikiran nyelenehnya selalu terbayang dalam benak kang Maulana.

Suatu hari, tiba-tiba kang Maulana dapat telepon dari Ibunya, dengan tergesa-gesa Kang Maulana pun mengangkat teleponnya, terdengar suara lirih sang ibu, "Nak".

Kang Maulana pun menimpali ucapan ibunya itu dengan nada terbata-bata, "Iya bu, gimana kabar Ibu di rumah, ada keperluan apa Ibu menelepon saya?", ujar Kang Maulana dengan raut wajah cemas, karena baru kali ini Ibunya menelpon.

Kemudian Ibunya pun menjawab dengan suara lirih nan sedih, "Nak, Ibu sudah tua, Ibu pengen kamu pulang ke rumah, Ibu anggap kamu sudah lama di pesantren ilmumu juga sudah cukup Nak, dan Ibu juga pengen kamu pulang cepat-cepat nikah, Ibu pengen cucu, dan Ibu juga sudah punya pandangan buat kamu Nak".

"Pandangan apa, Bu?" potong Kang Maulana dengan nada yang penuh penasaran.

"Anak Pak Junaidi yang mantan Kuwu* itu loh Nak, yang namanya Markonah kayanya cocok sama kamu Nak, Ibu berharap kamu juga mau menerimanya, gimana Nak, kamu mau tidak?".

Mendengar perkataan Ibunya, Kang Maulana kaget dan tercengang bak tersambar petir disiang bolong, tanpa pikir panjang lebar tidak jelas, karena ingin membahagiakan Ibunya, kang Maulana pun menimpali pertanyaan ibunya itu.

"Nggih Bu, saya mau".

Setelah selesai menelepon ia pun terdiam dan melamun dengan penuh beban.

Keesokan harinya Kang Maulana pun memberanikan diri untuk sowan seperti halnya Kang Latif dulu ketika izin minta boyong ke Kiai, dan Kiai pun memberinya izin dengan syarat nanti kalau sudah pulang, di rumah harus muruk (mengajar) ngaji. Akhirnya, Kang Maulana pun pulang ke kampung halamannya, yaitu Tegal.

Tak terasa, sepuluh tahun kemudian, Kang Latif dan Kang Maulana sudah menjadi orang 'besar' sesuai apa yang dipesankan Kiai-nya dulu ketika minta izin boyong. 

Lama tidak ada komunikasi diantara keduanya, Kang Maulana yang sudah menjadi seorang guru tiba-tiba ada jadwal ke Jakarta untuk mengikuti rapat Guru pesantren se-Indonesia dan di waktu yang sama, Kang Latif yang dari Jakarta ingin pergi ke Yogyakarta bersama keluarga dalam rangka liburan untuk menghilangkan penat, yang setiap harinya memikirkan rakyatnya. 

Ndilalah saat perjalanan tiba di Indramayu mereka berdua sedang mengisi bahan bakar di pom bensin, dan ndilalahnya mereka bertemu di pom bensin tersebut.

Dengan perasaan gembira, rindu yang mendalam, sebab tak kunjung bertemu puluhan tahun lamanya, mereka pun berpelukan layaknya dulu masih di pesantren. 

Dengan raut wajah yang gembira diantara keduanya, mereka pun menyempatkan berbincang sambil menikmati segelas kopi dan bernostalgia.

Sesekali mereka menepuk dengan tepukan kangen yang mendalam. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara keras yang seakan memanggil mereka berdua dengan sebutan "Kang Trijilan...!". 

Mereka pun menoleh ke arah suara tersebut, dengan wajah yang familiar dan tidak asing itu hadirlah sosok anak muda yang dulu menjadi juniornya, tetapi mereka lupa akan nama pemuda tersebut, hanya mengenal wajah yang familiarnya saja. 

Kang Latif pun berucap sambil menunjuk ke pemuda tersebut "kamu Dira yah?".

Kang Maulana yang merasa lebih tau dari Kang Latif langsung membantah ucapan kang Latif "bukan, itu bukan Dira, dia tuh Beni". 

"Dia Dira" ujar Kang Latif sambil ngotot. 

Kang Maulana pun menimpalinya lagi "dia Beni bukan Dira". 

Akhirnya mereka berdua ribut sambil berkata "Dira Beni Dira Beni Dira Beni".

Pemuda tersebut pun heran melihat jawaban seniornya itu salah, dan langsung meluruskan sambil berucap "maaf Kang, saya bukan Dira, bukan Beni, saya Amir"

Alhasil, Amir Dira-Beni.


*Kuwu sama dengan Lurah
*Daharan sama dengan makanan

Wednesday, January 16, 2019

Wajah Alquran dalam Politik Muslim


Penulis: Ade Chariri

Agaknya, pesta politik legislatif sudah bergemuruh bersamaan dengan mencuatnya #2019SopoPresidene. Hal ini menandakan kursi DPR masih dan akan terus menggoda bagi para politisi, akademisi, artis, bahkan pengangguran kayak saya. Eh.

Baiklah, saya akan kupas satu persatu secara umum.

Diawali dari banyaknya info tentang pendaftaran Bacaleg dengan sejumlah nama beken, seperti 54 artis yang terbagi dalam 10 partai politik. Bisa jadi, motivasi mereka adalah untuk lebih peduli dengan rakyat setelah menjalani glamornya dunia artis-seleb, atau sekedar cari ‘panggung entertainment’ lain yang menjadi kelas satu harapan rakyat negeri.

Di sisi lain, di daerah Lhokseumawe ada 23 Bacaleg tidak lolos seleksi baca Alquran. Info dari serambinews.com disebutkan ada 384 yang mendaftar Caleg di Lhokseumawe dari 17 parpol (nasional maupun lokal), sebanyak 344 mengikuti seleksi, dan 40 lainnya berhalangan sebab ada keperluan dan lain sebagainya.

Mengapa membaca Alquran menjadi topik utama di Lhokseumawe?

Mengapa yang mencuat bukan perkara kredibilitas meningkatkan kinerja untuk rakyat?

Meningkatkan kesejahteraan rakyat?

Apalagi seleksi ini sebagai salah satu syarat pendaftaran calon legislatif. Ya, sebab Nangroe Aceh Darussalam (NAD) adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang memiliki izin aturan otonomi untuk menerapkan hukum Islam (Qanun Jinayah) sebagai hukum formal.

Jadi, bisa dikatakan bahwa napas Islami sangat kentara di sana, tidak terkecuali untuk Lhokseumawe, dan akhirnya, tentang Alquran–pun menjadi topik utama. Sebab sejauh yang saya pahami, jarang sekali di beberapa daerah Indonesia yang menggaungkan relevansi Bacaleg dengan Alquran.

Bisa jadi, ini adalah snowball effect dari berbagai penggorengan isu agama yang dibenturkan ke banyak topik yang menggelikan akhir-akhir ini yang, kalau ditarik ke belakang, penggorengan ayat Alquran sudah terjadi sejak masa kampanye era dulu, seperti ayat ‘wa laa taqrabaa hadzihi syajarota’ yang dipakai untuk jangan memilih Golkar dengan logo gambar pohon, dan lainnya. Entah.

Di lain daerah, Gubernur Jawa Barat terpilih, Ridwan Kamil menginisiasi program ‘satu desa satu hafidz’ yang nanti mekanismenya dibantu oleh menajemen koleganya, Aa Gym. 

Ada juga program dari pemerintah atau swasta dengan; one day one juz, maghrib mengaji, nusantara mengaji, hingga game dan mp3 music box mode khusus playlist Alquran, dan sebagainya –meskipun tidak bersinggungan langsung dengan perkara politik praktis.

Tentang one day one juz dan sejenisnya, sebenarnya sudah membumi di tradisi pesantren yang telah lama bercumbu dengan hal-hal demikian dengan istilah yang sangat sederhana; tadarusan, simakan, deresan dan lain sebagainya.

Yang paling wah tentang Alquran dan politik adalah kasus yang menimpa Ahok, yaitu perkara munculnya tentang Q.S. Al-Maidah ayat 51, yang kemudian –mungkin­– secara sengaja digoreng untuk memunculkan bola panas kegamaan dan politik. Muncullah PA 212 dan peranakannya yang begitu kental menunjukkan identitas keagamaan, tentu dengan kitab sucinya, Alquran.

Kemudian yang terbaru adalah adanya tawaran tes baca Alquran oleh Ikatan Da’i Aceh kepada Capres-Cawapres 2019. Tentu pro dan kontra bergumul di dalamnya. 

Yang kontra menyebut bahwa, hal itu tidak relevan dengan alasan bahwa Pemilu Capres-Cawapres bukanlah pemilihan Ketua Mengaji atau bahasa sejenisnya. Sedangkan yang pro menyebut bahwa hal itu harusnya dilakukan, sebab seorang Presiden di negeri mayoritas Muslim harus juga menjadi contoh keagamaan bagi rakyatnya.

Dari sini, saya jadi mikir, apa perlu ada terobosan semacam ‘Sekolah Muslim Politik’ pra pendaftaran Bacaleg dan Bacapres?

Misalnya 3 bulan sebelum dibukanya pendaftaran, nanti salah satu materinya adalah Baca Tulis Alquran (BTA), tata cara berwudu dan salat, apalagi sampai program tahfidzul quran bagi Bacaleg dan Bacapres, lalu nanti ada program simakan Alquran di gedung DPR dan di Istana Merdeka. 

Wah sekali kan?

Paling tidak, agar terbiasa dengan kalam Tuhan –meminimalisir korupsi, meskipun ini sulit diterapkan di negeri pluralis, tapi agaknya ini menjadi point tersendiri untuk mentradisikan Alquran (sebagai kitab suci Islam, agama mayoritas di Indonesia). Tapi, bayangkan saja! Jangan ngayal!

Narasi-narasi tersebut paling tidak menunjukkan bagaimana peran agama secara umum benar-benar dalam kondisi yang ‘mesra’ dengan politik. Tapi begitulah keadaannya.

Kalau sampean ingin melihat peran Alquran secara nyata dalam pusaran politik? Tengok saja akun-akun medsos para kader PKS, khususnya pentolannya. 

Wednesday, January 9, 2019

Wahyudi Anggoro: Finansial Literasi untuk Masyarakat Panggungharjo


Penulis: Jintung Idjam

Kami bertiga seperti terbius dengan konsep finansial literasi, terlihat dari ekspresi dua temanku. Ini sesuatu yang baru yang diterapkan seorang pemimpin di masyarakatnya. Yang pasti, Wahyudi Anggoro menerapkan kebijakan untuk menyadarkan masyarakat akan manfaat finansial literasi berdasarkan data dan fakta. Bukan hanya ilusi. Bukan sekedar 'truth claim', istilah sekarang.

Iya, kita sedang membicarakan seorang lurah yang sedang menjadi primadona di Indonesia: Wahyudi Anggoro Hadi. Lurah desa Panggungharjo, Sewon, Bantul.

Berdasar penuturan Anggoro, menurut survei, finansial literasi di Jakarta hanya 40%. Ini adalah yang tertinggi di Indonesia.

Artinya apa? Maksudnya bagaimana?

Begini penjelasan Anggoro.

Jika seseorang itu diberi uang lima puluh ribu, maka sehari akan habis. Diberi lima ratus ribu, sehari juga habis. Diberi uang lima juta, sehati juga akan habis. Bahkan bilapun diberi uang lima puluh juta, sehari tetap akan habis.

Pendek kata, finansial literasi adalah bagaimana cara membelanjakan uang sesuai dengan hasil yang didapat. Sadar diri berapa yang didapat, lalu tepat dalam membelanjakan.
"Di masyarakat kita, setelah seminggu bekerja keras banting tulang, sabtu gajian, baru malam Minggu, itu uang sudah habis." Tutur Anggoro.

Itu semua karena kercerdasan finansial yang rendah. Dan itu yang membuat masyarakat sangat sulit untuk maju.

Dan ini, masih menurut Anggoro, biasanya dilakukan oleh masyarakat yang bukan pegawai negeri dan karyawan swasta. Rerata mereka yang tidak faham finansial literasi adalah buruh.

Kecerdasan finansial yang demikianlah yang mengakibatkan rendahnya tingkat pendidikan anak. Biaya kesehatan juga tidak ada. Kebutuhan keluarga untuk sehari-hari juga kacau.

Bahkan, industri rumah tangga dan pengusaha muda sangat sulit berkembang jika tidak mempunyai finansial literasi. Usahanya sulit maju karena kecerdasan menghitung dan membelanjakan uangnya sangat rendah.
Terlebih para buruh.

Para buruh ini masih selalu berpikiran bahwa saat usia mereka sudah 60 tahun, mereka ini masih berpikiran akan masih bisa bekerja. Dan ini yang akan menjadi masalah nantinya.

Rendahnya kesadaran akan finansial di hari tua ini yang menyebabkan kemiskinan menurun. Dari kakeknya menurun ke anaknya. Dari bapaknya menurun ke anaknya. Sampai generasi selanjutnya nanti. Bukan menurun dalam arti habis, tapi kemiskinan yang turun-temurun.

Untuk membahas hasil temuan dan cara Wahyudi Anggoro menangani cara berpikir masyarakat dengan finansial literasi yang rendah kita pending dulu. Sekarang saya bahas dulu kebijakan desa yang diterpakan Wahyudi Anggora di Desa Panggungharjo.

Berdasar hasil penelitian para ahli dan sesuai dengan fakta, Anggoro menerapkan kebijakan arah pembangunan di Panggungharjo ke arah mindset berpikir. Bukan hanya pembangunan fisik/infrastruktur.

Mindset berpikir?

Jika Dana Desa penggunaannya hanya diserahkan ke usulan masyarakat, seperti yang sudah-sudah, maka 90% adalah usulan pembangunan fisik; usulan pengerasan jalan dan pembangunan fisik lainnya. Karena memang pemahaman masyarakat, Dana Desa itu biasanya digunakan untuk pembangunan desa. Kata 'pembangunan' di mata masyarakat ya hanya pembangunan fisik.

Tepat di sinilah Anggoro masuk memberikan penjelasan. Dimulai dari definisi dan pentingnya finansial literasi.

Aplikasinya atau turunan kebijakan dari finansial literasi adalah sebagai berikut.

Karena memang keadaan masyarakat yang sudah sejak awal kurang kesadaran finansial literasi, yang membuat masyarakat kerepotan masalah kesehatan, tabungan hari tua, pendidikan anak, dan lain sebagainya, maka kebijakannya adalah memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat yang tidak tercover KIS (Kartu Indonesia Sehat).

Pada praktiknya, pemerintah desa memberi pelayanan ke lansia yang sudah tidak bisa dicover oleh keluarganya. Ada perawat khusus yang diangkat desa untuk membantu para lansia ini.

Sedangkan untuk ibu hamil yang tidak terdaftar KIS dan punya resiko melahirkan secara tidak normal (operasi), maka desa membuatkan dan membiayai asuransi Jamkesmas Mandiri. Hingga pada saat kelahirannya nanti, saat butuh biaya banyak, tidak perlu repot mengeluarkan biaya sendiri. Yang tentu sangat memberatkan.

Selain itu, bagi setiap wanita hamil, tinggal melaporkan diri ke balai desa. Maka akan dibuatkan surat dan rujukan ke dokter yang sudah bekerja sama dengan balai desa.

Itu untuk urusan kesehatan. Sekarang kita bahas ke tabungan hari tua.
Setiap warga yang tidak punya rumah, diberikan tempat semacam rusun. Namun sewa. Tapi dengan cerdik Anggoro memaksa siapapun yang tinggal di rusun ini untuk membayar sewa sekaligus menabung. Sewanya tiga ratus ribu, sedang tabungannya Rp 450.000,00.
Awalnya masyarakat keberatan. Namun Anggoro segera mencecar mereka dengan beberapa pertanyaan yang memojokkan.

Saat ditanyakan berapa bungkus rokok mereka habiskan setiap bulan, uang ngopi, paketan internet, dan kebutuhan yang tidak penting lainnya, ternyata totalnya lebih dari 750 ribu setiap bulan. Artinya, mereka sebenarnya mampu, namun hanya kurang memperhatikan pentingnya finansial literasi.

Tergetnya, dari tabungan 450 setiap bulan, setelah lima tahun, mereka bisa menggunakan tabungannya untuk uang muka kredit KPR.

Bagaimana nyicilnya? Setelah rajin menabung selama lima tahun, harapannya mereka telah terbiasa menyisihkan uang untuk membayar cicilan KPR.

Untuk menangani rendahnya finansial literasi hanya itu? Masih ada satu lagi yang kami ingat.

Dari sejumlah korban lintah darat, ada yang awalnya hanya berutang tiga juta, kemudian seluruh rumah dan isinya dijual dan disita oleh si lintah darat ini. Karena modus mereka memang rapi dan terstruktur.

Awalnya nunggak cicilan mingguan. Lalu teman si lintah darat ini datang dengan menawari pinjaman. Dengan iming-iming bisa untuk melunasi utang si lintah darat pertama. Karena terdesak, si orang ini mau dipinjami. Alhasil, dua minggu berikutnya si orang ini harus menyicil dua lintah darat.

Lalu muncul lintah darat baru, teman si lintah darat yang dua tadi, untuk memberi pinjaman. Dan begitulah. Utangnya semakin menjerat leher.

Balai desa dengan kebijakannya berhasil membereskan utang si orang ini. Ada sekitar 70 kasus di tahun 2016, semua diselesaikan oleh balai desa. Utang mereka dibayar oleh balai desa.

Kini yang bagian pendidikan.

Melalui beberapa instrumen yang telah ditetapkan oleh balai desa, bisa diketahui bahwa seorang anak ini akan kerepotan biaya sekolahnya, bila dilihat dari finansial literasi dan ekonomi orang tuanya. Maka, setelah lolos instrumen yang telah ditetapkan desa, si anak ini didaftarkan asuransi pendidikan oleh desa. Tentu dari uang Dana Desa.

Itu adalah sedikit cerita kebijakan Wahyu Anggoro Hadi. Lurah desa Panggungharjo.

Kenapa Sabak merekam perjuangan dan kebijakan desa? Bukankah Sabak adalah web tentang kepesantrenan?

Tentu saja jawabannya adalah, setiap kebaikan yang berhubungan dengan masyarakat, harus selalu diviralkan. Ditulis. Bukankah di pesantren juga diajarkan untuk saling mengasihi? Dan kebijakan desa oleh Anggoro adalah bentuk kasih sayang dari seorang pemimpin?

Begitulah.

Tentu juga kebijakan Anggoro yang dulu juga seorang santri sangat memengaruhi setiap kebijakannya.

Lalu, apakah santri juga butuh finansial literasi? Supaya jika kirimannya tanggal satu tanggal lima belum habis untuk bayar utang? Lalu berutang lagi sampai kiriman datang?

Kukira santri tidak butuh itu. Uang empat ratus ribu sudah untuk makan dua kali sehari, bayar sahriyah, bayar sekolah, dan sebungkus tembakau lintingan, kukira itu sudah mentok cerdasnya. Josss...

Kecuali untuk bapak/mbok kamar yang bawa uang anak-anaknya. Mereka kadang terlena karena pegang banyak uang. Haa...

Baca ESAI menarik lainnya yang ditulis oleh JINTUNG IDJAM

Tuesday, January 8, 2019

Pandangan Gus Baha Tentang Mendidik Anak



Penulis: Qowim Musthofa

Harta benda dan anak adalah (mengandung) fitnah. Begitu kata Alquran. Lantas fitnah yang bagaimana? 

Secara sederhana, fitnah di sini mempunyai arti cobaan dan ujian. Orang yang mempunyai harta cenderung sulit stabil dalam hal ibadah, begitu pula orang yang mempunyai anak. 

Ketika belum punya anak ia sangat gemar sedekah, lalu ketika punya anak, merasa eman-eman dengan sedekah, sebab ia merasa harus memenuhi kebutuhan anak. 

Begitu kira-kira.

Berbicara soal anak, saya teringat ketika ngaji dengan Gus Baha di Bedukan Wonokromo. Kira-kira di tahun 2017. Gus Baha  punya cara pandang tentang anak yang tidak lazim bagi kebanyakan orang. 

"Ojo wani-wani karo anak, ndak kuwalat." - Jangan berani sama anak, nanti kalian bisa celaka. 

Bagi saya, yang selalu mendengar Jangan berani sama orang tua, nanti celaka. Gus Baha membalik kalimat tersebut, bahwa anak harus dihormati. 

Kenapa demikian. 

Anak selamanya adalah anak

Gus Baha menjelaskan bahwa anak, mempunyai ikatan yang tidak akan putus. Berbeda dengan istri, ketika cerai maka hak dan kewajiban yang pernah melekat akan gugur seketika. 

Ikatan yang tak akan putus tersebut, meskipun jika anak mempunyai kelakuan yang nakal, mbedugal dan ndableg, mereka akan tetap menjadi anak, bahkan jika anak dan orang tua saling berjanji tidak mau mengakui hubungan mereka, maka tetap saja secara syariat mereka tetap mempunyai hubungan, jika salah satu di antara mereka yang meninggal dunia, maka warisan tetap berlaku. Jika perempuan, maka walinya tetap saja adalah ayahnya. 

Begitulah anak. Statusnya akan selalu melekat tanpa sekat. 

Anak adalah penerus Kalimat Tauhid 

Gus Baha, memberikan poin penting tentang kalimat tauhid. Baginya, kalimat tauhid adalah kalimat kebenaran yang universal dan absolut. Sehingga jika kalimat tersebut diucapkan oleh orang gila sekalipun, kalimat tersebut akan selalu benar. 

Kebenaran kalimat tauhid tidak bisa dimonopoli oleh siapapun. Meskipun diucapkan oleh seorang pendosa sekalipun kalimat tauhid tidak menjadi hina, begitu pula jika diucapkan oleh orang saleh sekalipun kalimat tersebut juga tidak akan bertambah mulia. 

Siapapun orang yang mengucapkan kalimat tauhid akan menjadi mulia, siapapun orangnya. Sebab itulah Gus Baha menghormati anaknya, sebab anaknyalah yang kelak akan meneruskan kalimat tauhid tersebut. 

Sebab inilah, Gus Baha mengaku tidak pernah memukul anaknya, "Bagaimana bisa mukul ketika saya selalu ingat bahwa ia adalah umatnya Nabi Muhammad yang kelak akan menjadi penerus agama Islam." begitu kira-kira kalimat Gus Baha.

Jangan sampai anak merasa kecewa dengan Bapaknya

Kekecewaan anak terhadap orang tua, agaknya sebanding dengan kekecewaan orang tua terhadap anak. Sebagai orang tua kita merasa yang paling berhak atas masa depan anak kita. Sebagai anak, kita justru yang paling berhak kelak mau menjadi apa. Wajar, sebab zaman yang dialami oleh orang tua dan anak sama sekali berbeda. 

Gus Baha selalu mewanti-wanti bagaimana anaknya harus bangga kepada bapaknya, ini bukan persoalan sombong-sombongan, tapi ini mendidik kepada anak agar ia tidak kecewa kepada orang tuanya dengan membanding-bandingkan orang tuanya dengan orang tua temannya. 

Gus Baha mempunyai pola hidup yang sederhana, beliau punya televisi hanya karena, jangan sampai anaknya pergi dari rumah hanya ingin menonton televisi di tetangga. 

Bagi saya ini persoalan yang sulit. Bagaimana agar anak bisa bangga mempunyai orang tua seperti kita.

Gus Baha, ketika memberikan uang saku untuk sekolah kepada anaknya yang masih sekolah setingkat SD: Mas Hasan selalu lebih dari teman-temannya. Kata istrinya apakah itu tidak boros jika anak seusia itu dengan uang 5.000 sedangkan teman-temannya hanya diberi uang saku 2.000

Kata Gus Baha tidak. Sama sekali tidak boros. Gus Baha ingin mengajarkan kepada anaknnya untuk selalu jajan kepada penjual-penjual jajanan di sekolah, persoalan tidak sehat dan atau tidak enak lalu dibuang silahkan, buang saja. 

Persoalan dibuang berarti itu adalah rejekinya hewan-hewan seperti semut, cacing dan lain-lain. Gus Baha ingin mengajarkan bahwa kita harus mempunyai kontribusi kepada orang yang mencari nafkah dengan cara yang halal; berjualan jajanan di sekolah-sekolah.

Tidak ada yang mubazir, bagi Gus Baha. Cara pandang seperti ini tentunya tidak lazim, dan tergantung pada niatnya. 

Meskipun tidak lazim, minimal bisa memberikan kita pemahaman yang lain, bahwa mendidik anak adalah pilihan orang tua. Nasehat Gus Baha kepada para orang tua adalah jangan mengira bahwa anak nakal itu tidak ada hubungannya dengan orang tua, sangat berhubungan. Jika kalian ingin melihat dirimu, maka lihatlah anakmu. 

Cerminan seperti ini sering mengingatkan saya kepada teman-teman saya yang merasa menyesal hingga menangis setelah memarahi anaknya. 

Jika kita marah-marah bahkan memukul anak kita, pada hakikatnya kita sedang memarahi diri sendiri dan memukul diri kita sendiri. Kita sedang menyakiti diri kita sendiri.

Sunday, January 6, 2019

Jangan Memahami Hadis Secara Sepotong: Ketahuilah Keseluruhan Konteksnya


Penulis: Mujib Romadlon

Memahami hadis tidaklah semudah hanya mengambil sepenggal saja kemudian otomatis langsung paham dengan apa yang dimaksudkan Rasulullah saw. Hadis selayaknya dipahami secara utuh sesuai dengan konteks. 

Proses pencarian terhadap konteks hadis dapat dilaksanakan dengan mengambil riwayat hadis dari mata rantai sanad rijal hadis yang lain. Sehingga pemahaman kita pun menyeluruh, sesuai dengan peristiwa apa yang mengiringi nabi berkata demikian, berperilaku demikian, dan lain sebagainya.

Seperti hadis yang dikutip oleh Ibnu Hajar al-Asqalani pada pembahasan mengenai 'Sucinya Air Liur Hewan yang boleh dimakan dagingnya'

Dari Amr bin Kharijah ra. Ia berkata Rasulullah saw. berkhotbah di Mina di atas ontanya, sementara air liur unta mengalir di pundakku.

Sepintas secara tersurat kita dapat memahami bahwa air liur unta atau hewan yang halal dimakan dagingnya memiliki hukum tidak najis. Pemahaman ini muncul salah satunya karena Rasulullah hanya diam saja saat sahabat Amr bin Kharijah tengah memegang tali unta Beliau, padahal si unta dalam posisi meneteskan air liurnya ke baju sahabat Amr bin Kharijah. 

Apakah Rasulullah menyuruh untuk membasuh air liur unta tersebut? Rasulullah mengingkari juga tidak, melarang juga tidak. Inilah yang disebut sunnah taqririyah.

Mencari konteks hadis tersebut, dapat dilakukan dengan cara mencari perbandingan dengan konten hadis yang lain. Atau disebut dengan istilah i'tibar al-sanad. Selengkapnya adalah:

dari 'Amr bin Kharijah bahwasanya Nabi saw. pernah menyampaikan khothbah di atas onta miliknya, sementara aku tetap berada di bawah leher ontanya yang sedang mengalirkan busa liurnya dan bertetesan di antara kedua pundakku.

Maka aku pun mendengar beliau bersabda: 

"Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada semua yang berhak apa yang menjadi haknya. Karena itu, tidak ada lagi wasiat bagi ahli waris. Nasab seorang anak adalah milik bapaknya. Untuk seorang pezina, maka baginya adalah batu (dirajam). Barangsiapa yang bernasab kepada selain bapaknya atau berwali kepada selain walinya karena benci terhadap mereka, maka laknat Allah akan tertimpa atasnya dan Allah tidak akan menerima darinya, baik itu amalan sunnah atau pun amalan wajib."

Jadi pemahaman awal dari hadis ini memang berisi tentang sunnah taqririyah. Namun, selanjutnya tak sekedar itu terdapat pula kata-kata Nabi atau biasa disebut sunnah qauliyah berikut lanjutan keterangan yang dapat diambil dari keseluruhan hadis riwayat Amr bin Kharijah melalui riwayat dari al-Tirmidzi:

Pertama, hadis ini mengubah ketentuan hukum yang ada di Alquran -atau biasa disebut dengan nasakh-mansukh- pada QS. al-Baqarah: 180 yang berisi tentang kewajiban untuk memberikan wasiat bagi ahli waris:

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf (baik; sesuai; pantas), (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqarah 2:180).

Mengapa demikian? Karena bila seorang ahli waris sudah mendapatkan bagian warisan yang telah ditentukan sesuai dengan takaran ilmu faraid (ilmu waris), namun masih juga mendapatkan jatah wasiat. Maka ia menjadi mendapatkan dua hitungan warisan.

Satu karena jatah dari perhitungan pembagian hak warisan, satu lagi karena jatah dari wasiat. Hal ini tidak baik dan dapat memungkinkan terjadinya perselisihan antara sesama ahli waris.

Kedua, bagaimanapun juga seorang anak merupakan hasil hubungan intim pertemuan ranjang ayahnya ( والولد للفراش). Apabila ada kecurigaan dari Ayah terhadap status biologis anaknya, maka seorang suami berhak mengajukan sumpah mula'anah. 

Apa itu mula'anah? 

Yaitu sumpah yang dituntutkan kepada Istri. Bila si Istri tidak mengakui tuduhan perzinahan si suami. Maka kemudian keduanya diceraikan dan selamanya tidak boleh untuk menjalin hubungan pernikahan kembali. Namun bila si Istri mengakui, maka hukum rajam menjadi konsekuensi bagi si istri.

Ketiga, menasabkan diri atau mendakwa orang lain sebagai ayahnya. Padahal sama sekali tidak memiliki hubungan biologis apapun. Maka ia akan mendapatkan ancaman; tidak diterima amalan ibadahnya baik sunnah maupun wajib. 

Di samping durhaka kepada orang tua kandung dan hadis ini masih berkaitan pada tema tentang hak waris, maka seseorang yang menasabkan diri ke selain bapaknya dapat menyebabkan ahli waris yang sah tidak mendapatkan secara penuh hak warisnya. 

Hal ini dapat berakibat fatal pada status mahram, karena dapat mengharamkan orang yang halal dinikahi dan menghalalkan orang yang haram dinikahi. Sekaligus dapat merusak dan mencela garis keturunan yang sebenarnya.
Demikian ngaji hadis oleh Gus Rum pada kesempatan ini. 

Baca tulisan menarik lainnya yang ditulis oleh MUJIB ROMADLON atau baca tentang NGAJI GUS RUM.

Saturday, January 5, 2019

Syndrome Media Sosial; Silatur-rahim yang berujung Silatul-misuh


Penulis: Wahyu Musthofa


Dewasa ini, kita telah memasuki era globalisasi yang dibarengi dengan perkembangan teknologi. Globalisasi sendiri ditandai dengan penyebar-luasan hasil kebudayaan dari masyarakat dengan pencapaian industri teknologi yang massif digalakkan di se antero dunia. Sebut saja salah satunya dengan terciptanya gadgetsmartphone yang merupakan produk negara maju, telah meluas sampai masyarakat dengan kebudayaan terprimitif sekalipun, pasti mengenalnya. Siapa yang tidak dimanjakan dengan fitur-fitur yang ada di dalamnya?

Fitur-fitur tersebut digandrungi oleh hampir semua kalangan, mulai dari generasi alpha para milenial,sampai para generasi X orang tua. Anda pasti mengenal beberapa orang tua di sekitar kita juga turut meramaikan jagad dunia media sosial; facebook-twitter-instagram menjadi idola semua kalangan. Efek candunya menimbulkan ketergantungan yang nyata. Setiap hari setelah bangun tidur, hal yang pertama dicari adalah: smartphone!

Benar atau tidak, Saudara?

Entah hanya sekedar cek WA, lihat berita kawan, atau yang sedikit bermutu adalah membaca opini beberapa influencer yang rajin update menanggapi banyak isu terkini.

Tak ayal para penulis esai dan opini tersebut membawa dampak terhadap perkembangan nalar berpikir para penggunanya, apalagi bila tanpa adanya filter, hampir semua kata-kata obrolan yang kita ucapkan dalam sesi coffe-time, selalu merujuk opini dan esai dari para influencer.

Dari kata yang tersusun rapi, dengan berbagai majaz metafora. Kita dibuai pada alam bawah sadar kita. Tergerak berpotensi mencintai dan peduli, sekaligus di saat yang sama membenci dan memaki. Padahal apakah kita mengenal baik siapa saja orang yang tengah diperbincangkan di jagad media sosial?

Seakan seseorang bisa menghakimi manusia lain tanpa secara langsung berinteraksi di dunia nyata. Bahkan yang namanya emosi kerap lebih banyak ditampilkan di media sosial, timbang di dunia nyata.


Di dunia nyata, kita mungkin akan sedikit membungkus dan meringkas emosi kita, kalau di dunia maya? Langsung gas pol, jempol bergerak dengan kecepatan 100 km (baca: kata per menit) Dan jangan lupa sandingkan google di belakang layar. Biar kritikan kita terlihat penuh wibawa.

Ya, kan?

Einstein (yang juga saya kutip dari google) berkata,

“Aku takut suatu hari teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot”.

Ketergantungan penduduk era ini terhadap penggunaan trio media sosial facebook-twitter-instagram pada akhirnya menimbulkan gejala yang saya sebut dengan “syndrome mediasosial; dari silatur-rahim menuju silatul-misuh”.

Silat artinya menyambung, rahim artinya kasih. Awal mulanya berusaha menyambung-kasih mencoba mencari saudara. Tapi karena beda pandangan, seperti pilihan politik contohnya. Maka beralih menjadi silatul-misuh, silat artinya menyambung, misuh artinya umpatan. Menyambung umpatan sesama pengguna media sosial. Yes! Saya benar, kan?

Saya kutipkan dari google lagi, banyak dari parapengguna media sosial mengalami gejala kerusakan dalam sistem persepsi (distorsion of cognition). Ketidak-sukaan terhadap opini medsos tidak berdasar argumen logis, namun sekedar tidak suka kepada apa yang tidak disukai (dislike of the unlike). 

Sikap itu merupakan bias seseorang yang tak lagi melihat sebuah problem masalah secara jernih dan logis. Pendapat kita terfragmentasi tak utuh karena pra-pemahaman yang sudah membenci sebelum mengapresiasi.

Wuih... Keren kan bahasa saya?

Google kok dilawan...

Saya lanjutkan

“syndrome silatul-misuh” menyebabkan terputusnya 3 pilar dalam pengetahuan; Epistemologi, ontologi dan aksiologi. Episteme mengenai sumber pengetahuan, ontologi substansi pengetahuan, dan aksiologi mengenai fungsi dari pengetahuan. Apa ada yang berpendapat 'sebuah misuh' dan benci itu bisa menjadi sebuah aksiologi?

3 nalar berpengetahuan tersebut tak dapat ditemui dari para pengguna media sosial, simak saja diskusi yang hanya berkutat kepada hal-hal receh:

Berapa banyak follower?

Berapa banyak like?

Berapa banyak share?

Dampak dari “syndrome media silatul-misuh”. Telah menjalar luas hingga pada para civitas-akademika yang seharusnya memikul tanggung jawab sebagai kalangan yang menjaga kemurnian dan kejernihan ilmu pengetahuan. Sebuah komunitas masyarakatyang menjadi simbol atas norma-nilai pengetahuan yang selayaknya ada dan tak selayaknya ada.

Bukannya meluruskan, malah justru ikut meramaikan arus konyol media-sosial yang berkutat pada makan-minum, seks, tahta dan selebritas. Mereka kehilangan standar'objektif' yang seidealnya selalu mereka emban dalam lingkup sehari-hari.

Alih-alih mereka berpikir secara kritis, radikal dan sistematis. eh malah kemudian terputus begitu saja kepada satu sumber yang di dapat dari sebuah opini di media sosial.

Ingatlah bahwa basis dasar pengetahuan itu ialah trial and eror. Bukan sebatas membudayakan pengetahuan dari akses terhadap media sosial. Apalagi hanya berdasar tolak ukur banyak-tidaknya like di postingan tersebut.

Dulu ada orang bernama Ibrahim Tan Malaka berkata “ selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali, kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi”.

Maka era sekarang berubah menjadi “selama kuota masih ada, selama itu juga media masih bisa diakses, kalau perlu perbanyak kuota unlimited agar selalu bisa update di media sosial dan makin eksis”.

Fungsi media-pun bergeser dari yang sekedar untuk sarana hiburan dan menjalin komunikasi secara virtual, berubah menjadi ajang selebritas eksistensi diri, sekaligus ebagai sumber informasi yang kredibel.

Apa yang menghiasi medsos adalah selbritas dan pop-culture.Sekedar mengikuti trend yang sedang hits, sekalipun tanpamemiliki sebuah esensi. Jangan harap ada kontribusi nyata yang dihasilkan oleh para aktivis media-sosial. Masih ingat populernya goyang keong-racun dan briptu Norman?Sekarang dimana ya kira-kira?

Membaca postingan di media sosialtidak akan menambah nalar kritis untuk menggali sumber informasi yang lebih konkrit dan komprehensif.

Nah, apabila para civitas-akademika kehilangan filter penyaring, padahal tuntutankebutuhan gizi pengetahuan selalu dibutuhkankarena arus informasi yang begitu cepatnya. Maka gelar S1-S2-doktor-profesor akan sangat kelihatan kerdil, ketika citra-dirinya

Wajar jika sekarang kita memiliki generasi muda yang memmpunyai karakteristik populis, konsumerisme, dan pragmatis. Karena sekarang semakin sedikit orang menacari sumber informasi dari referensi utama yakni membaca (buku) dan diskusi.Tidak heran apabila kemudian semakin sedekit genrasi muda yang mawas, dan bersikap kritis akan fenomena yang sedang berkembang di negaranya.

Maka jangan heran jika suatu kali anda membuka akun media sosial anda kemudian yang bermunculan ialah konten-konten yang bersifat memblei dan tidak penting. Karena konten-konten demikianlah yang lebih banyak di akses dan dikonsumsi oleh warga netijen yang maha benar dan bijaksana.


Thursday, January 3, 2019

Tak Ada yang Baru Dalam Perdebatan Tahun Baru


Penulis: Inan

Menjelang akhir tahun, jagat dunia maya nyaris sesak dengan riuh-rendahnya perdebatan umat Islam Indonesia ihwal boleh atau tidaknya mengikuti perayaan Tahun Baru. Satu perdebatan, yang kita tahu, telah menjadi semacam tradisi rutinan selama beberapa tahun belakangan ini.

Bahkan, bagi mereka yang tak sepakat dengan perayaan tersebut sudah mempersiapkan segala macam amunisi penolakan jauh-jauh hari sebelumya melalui selebaran dalam khotbah Jum'at, pesan berantai di WAG dan baliho-baliho besar.

Dan sebagaimana yang terjadi pada tahun-tahun lalu, arah perdebatan ini mudah untuk diprediksi karena pada akhirnya akan mengerucut juga–meski tak serta merta dapat kita sederhanakan begitu saja–ke dalam dua aliran besar yakni: mereka yang melarang dan mereka yang memperbolehkannya.

Bagi orang-orang yang masuk pada golongan pertama, merayakan Tahun Baru mutlak menjadi sebuah larangan karena praktik tersebut tidak ada dalam Islam. Mereka bersikukuh bahwa baik Alquran maupun Alhadis tak pernah memberikan pernyataan terkait hal ini sehingga praktik-praktik yang demikian masuk dalam kategori bid'ah.

Ada pula yang menolak lantaran khawatir menyerupai umat beragama lain yang pada ujungnya menyebabkan umat Islam tak memiliki identitas atau bahkan, pada tahap tertentu, berpotensi mendangkalkan akidah. Alasannya: keserupaan dalam perkara lahir turut memengaruhi keserupaan dalam ihwal batin.

Pada berbagai macam perdebatan, tentu saja hadis populer yang sering dirujuk untuk melegitimasi pendapat mereka ialah: "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia merupakan bagian dari kaum tersebut" atau "Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami."

Dalam memperlakukan kedua teks di atas, para penolak pada dasarnya merupakan golongan yang menggunakan pendekatan harfiah untuk memahami teks-teks keagamaan.

Mereka berpendapat bahwa redaksi kedua hadis tersebut sudah gamblang menjelaskan ihwal boleh tidaknya mengikuti perayaan Tahun Baru. Dua hadis tersebut tak perlu ditafsir ulang sebab makna harfiahnya memang seperti itu adanya. Mengapa harus repot-repot mencari makna di balik teks jika yang di permukaan saja sudah terlihat?

Berkebalikan dengan kelompok pertama, mereka yang memperbolehkan justru berpendapat bahwa mengikuti perayaan Tahun Baru tak lantas menggoyahkan iman. Hal ini disandarkan pada argumen yang menyatakan bahwa tidak ada kaitan yang cukup logis untuk menjelaskan bahwa dengan berperilaku demikian, umat Islam secara otomatis menjadi murtad.

Lebih lanjut, kelompok kedua beranggapan bahwa hadis-hadis itu hendaknya dikontekstualisasikan agar dapat beriringan dengan roh (zeitgeist) zaman. Dengan adanya penafsiran ulang, mereka berharap persatuan di tengah-tengah komunitas multi etnis, agama dan budaya dapat terwujud sehingga hubungan baik terjaga.

Sampai di sini saya kira perdebatan itu sebenarnya sudah selesai. Tidak ada yang baru lagi. Mereka yang menolak, sedari awal memang memahami teks keagamaan secara literal sementara pihak yang mendukung mendekatinya melalui cara kontekstual.

Pada berbagai kesempatan, tiap pihak tetap berpegang teguh pada pendapatnya meskipun mereka telah tanding argumen berulang kali. Hal itu kemudian menjadi lumrah karena secara metodologis keduanya berangkat dari pendekatan yang berbeda.

Memang, tak menutup kemungkinan adanya celah dialog dan kompromi guna menyelaraskan kedua belah pihak. Para penulis, cendekiawan dan ulama–baik yang hidup di masa kini atau masa lalu–telah meracik berbagai macam metode untuk menyikapi perdebatan itu. Mulai dari yang sederhana hingga yang rumit.

Pendapat-pendapat mereka pun semakin mudah diakses bila dibandingkan beberapa tahun lalu. Demikian pula penyebaran informasi yang hari ini tak kalah cepatnya dengan membalik telapak tangan.

Dahulu sekali, saya pernah berprasangka bahwa mereka yang meramaikan perdebatan tak berujung di media sosial adalah orang-orang yang punya masalah dengan kesabaran. Mereka adalah penyembah kecepatan yang selalu terburu-buru menghakimi namun enggan menelaah secara telaten persoalan di depan mata. Bahkan, kemungkinan terburuknya, mereka lah orang-orang yang malas membaca.

Akan tetapi, setelah beberapa tahun, asumsi itu salah belaka. Faktanya, mereka yang berdebat adalah orang-orang yang memiliki ketekunan dan ketelatenan. Mereka saling lempar argumen menggunakan sumber-sumber yang beragam: dari kitab suci, hadis Nabi hingga warisan khazanah Islam abad pertengahan. Dalam artian, mereka adalah pribadi-pribadi yang juga giat membaca.

Namun, setelah melewati berbagai argumen yang bertebaran di media sosial, yang terus menerus diulang selama beberapa tahun, mengapa mereka tetap bersepakat untuk melanjutkan perdebatan?

Agaknya, di era post-truth kebenaran tak lagi diposisikan sebagai jawaban atas suatu pencarian. Dalam situasi ini, kompromi atas ide dan gagasan adalah sebuah kesia-sian. Sebagian orang tak lagi berdebat mencari titik temu melainkan untuk memenuhi dorongan hasrat yang barangkali tak terpuaskan di dunia nyata.

Mereka ini adalah orang-orang yang hanya ingin melihat kekacauan bekerja. Mereka tak dapat diubah, dipaksa, maupun dirayu. Hasrat untuk berdebat pun tak pernah berbanding lurus dengan keinginan untuk memperoleh kesimpulan.

Meminjam terminologi Jean Paul Sartre (1905-1980), mereka adalah orang-orang yang lebih mudah mendengarkan gema (echo) dalam dirinya sendiri daripada jawaban. Saat bertanya maupun mengkritik, masing-masing pihak sebenarnya sudah memiliki pendirian. Yang diinginkan dari perdebatan tak lain adalah pandangan diri mereka sendiri yang terus memantul.

Dengan kata lain, mereka tidak siap untuk mendengarkan liyan. Maka dari itu, tiap-tiap jawaban hanya diterima apa bila sesuai dengan preferensi pribadi. Yang tidak cocok lalu ditinggalkan. Dan seandainya diterima, tujuannya hanya untuk dicari kesalahan-kesalahannya.

Bagi saya, orang-orang ini tak lebih baik satu sama lain. Sebab, sementara perdebatan tak kunjung selesai juga, sebagian orang tetap saja kelaparan, beberapa wanita masih mengalami pelecehan seksual dan polusi udara semakin menebal.

Baca ESAI menarik lainnya yang ditulis oleh INAN.