Thursday, November 15, 2018

Tiga Alasan yang Mendorong Manusia dalam Menuntut Ilmu Menurut Imam Ghazali

Foto: sabak/fihri
Imam Ghazali, satu-satunya ulama yang menyandang gelar Hujjatul Islam, pada pendahuluan kitab Bidayatul Hidayah menjelaskan secara detail tentang beberapa alasan dan motivasi manusia dalam menuntut ilmu. 

Sebab kita memakai kerangka Imam Ghazali, maka yang dimaksud ilmu di sini adalah ilmu fardu ain (ilmu agama), bukan ilmu yang bersifat fardu kifayah, seperti ilmu kedokteran, biologi, fisika, dan semisalnya.
Setidak-tidaknya, ada tiga motivasi yang mendorong manusia bergerak untuk menuntut ilmu .

Pertama, orang yang menuntut ilmu agar dapat menopang kehidupan di dunia, seperti mencari gelar, kekuasaan, menumpuk kekayaan dan lain-lain.

Jenis ini, menurut imam Ghazali adalah khathirin, orang yang ceroboh. Guru saya mengartikan dengan orang yang tidak sadar sedang mencelakakan dirinya sendiri. Grusa-grusu.

Baca Juga 

Orang ceroboh disebabkan ia tidak menyadari hal-hal buruk yang akan terjadi di masa mendatang. Biasanya ia melakukan sesuatu tanpa pertimbangan.

Jadi begini misalnya, biar jadi sederhana.

Ketika seseorang pergi ke pesantren untuk belajar agama dengan tujuan menjadi kiai, punya pesantren bahkan punya santri banyak. Kemudian setelah berhasil dan lulus di pesantren, lalu ia pulang ke kampung halaman, eh ternyata ia tidak jadi kiai, tidak punya pesantren dan apalagi santri banyak.

Alhasil, ia akan merasa kecewa, dengan dirinya sendiri, dengan pesantrennya, dan naudzubillah dengan guru-gurunya.

“Mondok sudah lama kok begini-begini aja, tidak ada yang mau belajar kepada saya. Ini gara-gara sistem pesantren, gara-gara pesantren dan kiai-kiai saya dulu kurang memperhatikan nasib alumni.”

Ini bukan persoalan ilmu, pesantren, dan guru. Namun ini persoalan salahnya niat di awal ia menuntut ilmu.

Kedua, orang menuntut ilmu tapi niatnya sudah dikuasai oleh setan. Orang seperti ini menganggap bahwa ilmu semata-mata untuk mencari popularitas, menumpuk harta kekayaan, dan memperluas jaringan pengikut (kasratul atba’).

Jenis kedua ini memandang bahwa ilmu semata-mata adalah komoditas yang bisa dipergunakan untuk memuaskan ego semata.

Baca Juga


Biasanya, ini penyakitnya orang-orang besar yang sudah diakui secara keilmuannya. Imam Ghazali selanjutnya menjelaskan bahwa tipe kedua ini sudah tidak menyadari bahwa ia sudah tertipu, sehingga ia merasa sudah melakukan hal yang baik, padahal sebaliknya.

Ia sudah lupa, masih menurut Imam Ghazali, adanya hadis Nabi Muhammad “Selain Dajjal, ada sesuatu yang lebih aku khawatirkan terhadap kalian.”

“Apa itu Ya Rasulallah?.” Tanya para sahabat.

“Ulama gendeng.” (ulama su’)

Ulama-ulama, sekaligus ubaru-ubaru gendeng ini mudah ditemukan di sekitar kita, kalau mau buka Youtube, ciri-cirinya mudah saja. Jika acara ceramah berdurasi 60 menit, 10 menit pertama adem, sejuk dan menentramkan hati, tapi lebih dari 10 menit mulai ngomongin jeleknya orang lain hingga berbusa-busa, suaranya dihabiskan untuk berteriak hingga serak. Kalau bicara bahu dan bibirnya sampai bergetar sebab emosional.

Misalnya sampai berbicara di depan jamaah yang jumlahnya sak-ulaaaika “TAI, BANGSAT, MUNAFIK, KAFIR, LAKNAT, IBLIS, JAHANAM.” (sengaja pake huruf kapital ya, biar tampak serem.)

Saya jadi ingat salah satu kitab syarahnya Alhikam yang mengatakan bahwa “Orang buruk itu selalu berkata buruk, kalau orang baik pasti bicaranya baik. Manusia itu hanya berbicara sesuatu yang ia miliki, jika ia berbicara buruk berarti dia memang mempunyai keburukan itu.” 


Ilmu yang pada dasarnya untuk mencerahkan, justru menyesatkan, bukan hanya ia sendiri, tetapi juga para pengikutnya.

Ketiga, Nah ini kategori ideal, yaitu orang menuntut ilmu, yang niatnya agar bisa menambah bekal kelak di hari kiamat dan tidak ada niat lain selain mencari ridhanya Allah. Orang seperti demikian adalah orang yang beruntung (faizin), kata Imam Ghazali.

Orang model begini tidak mudah kecewa, tidak mudah putus asa dan tidak mudah menyerah. Apa pasal?.

Sebab tolok ukur dalam mencari ilmu adalah Allah, bukan selain Allah. Jadi di dalam hatinya yang ada hanya Allah, selain Allah adalah hal yang tidak penting untuk dipikirkan apalagi dijadikan pertimbangan.

Misalnya, orang model pertama ini belajar suatu ilmu, setelah selesai dan berhasil, eh ternyata ilmu yang dimiliki itu tidak berguna secara finansial, mencari kerja dan menghasilkan uang misalnya.

Dalam kondisi seperti demikian, ia tidak akan merasa kecewa dan menyesal mempelajari ilmu tersebut, alih-alih ia akan berprasangka baik kepada Allah, bahwa barangkali Allah sedang mempunyai rencana lain yang lebih baik.

Demikian lah tipologi orang menuntut ilmu dalam perspektif Imam Ghazali di kitab Bidayatul Hidayah. Semoga kita termasuk golongan yang ketiga dan dijauhkan dari golongan pertama dan kedua.

Eh, ngomong-ngomong emang ilmu itu salahnya apa sih? Kok di mana-mana dituntut?


Penulis: Qowim Musthofa, Redaksi.

Baca esai menarik lainnya yang ditulis oleh Qowim Musthofa.

Wednesday, November 14, 2018

Kisah Rasulullah Melamar Umi Salamah yang Janda, Punya Anak Empat Sekaligus Pencemburu

Ilustrasi: sabak/Sukron
Nama aslinya adalah Hindun binti Hudzaifah Abu Umayyah bin Mughirah al-Makhzumi, beliau berasal dari Bani Makhzum, trah yang terkenal atas kecantikan parasnya. Bahkan, sekalipun saat hendak dinikahi Nabi saw. pada umur yang sudah cukup tua (35 th.), kecantikan beliau masih tetap terpancar.

Atas paras yang cantik inilah, Aisyah ra. pun merasa khawatir bilamana nanti kehadiran Umi Salamah di keluarga besar kanjeng Nabi Muhammad bisa menggantikan atau menggeser kedudukannya selama ini.

Suatu hari Aisyah curhat kepada Hafshah.

"Sungguh Umi Salamah adalah wanita yang cantik, Hafshah..."

"Kamu itu hanya sedang cemburu, Aisyah. Sekalipun ia cantik, namun ia sudah berumur, lihatlah sekali lagi."

Baca Juga


Sebelum menjadi Isteri Nabi, Umi Salamah adalah isteri dari Abdullah bin Abdul Asad al-Makhzumi yang juga merupakan sepupunya. Umi Salamah dan suaminya termasuk golongan pertama yang beriman pada Nabi Muhammad (Assabiqunal awwalun).

Mereka berdua juga termasuk golongan sahabat yang ikut bersama Nabi hijrah ke Habasyah. Di Habasyah mereka mendapatkan putra yang diberi nama Salamah. Atas peristiwa tersebut, mereka berdua lebih dikenal dengan Umi Salamah dan Abi Salamah.

Perlu diketahui pula, Abdullah Abi Salamah juga merupakan saudara sepersusuan Nabi saw. dari ibu susu budak perempuan Abu Lahab yang bernama Tsuwaibah. Dalam sebuah riwayat Nabi pernah ditanya:

"Wahai Rasul, kenapa engkau tidak menikahi Durroh?" (Durroh: Adik dari Salamah)

"Mana mungkin? Selain ia adalah anak tiriku, ia juga anak dari saudara sepersusuanku, Abi Salamah!" Jawab Nabi.

Saat mendengar hal tersebut, Makkah telah berangsur aman, Umi dan Abi Salamah kembali ke Makkah. Namun tanpa disangka yang terjadi adalah sebaliknya. Untung Abu Tholib kala itu, menjamin keamanan bagi mereka. Namun pasca Abu Tholib meninggal keadaan kembali memburuk, sehingga perintah Hijrah ke Madinah pun datang.

Baca Juga


Umi Salamah merupakan pribadi yang sangat mencintai suaminya. Karena di manapun berada Umi Salamah selalu menceritakan tentang kebaikan suaminya. Pernah suatu kali Umi Salamah bercakap dengan suaminya:

"Bila istri yang ditinggal syahid sang suami tidak menikah lagi. Maka kelak, Allah akan mengumpulkannya kembali di Surga. Itulah yang akan aku lakukan, apakah kamu akan melakukan hal yang sama?"

Tanpa disangka, Abu Salamah menjawab, "Jangan, seperti itu... Menikahlah! sepeninggalku nanti... Aku mendoakanmu agar mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku, yang tak akan pernah membuatmu sedih, apalagi menyakitimu."

Peristiwa Hijrah ke Madinah menjadi saat yang teramat berat. Di samping tak bisa mengikuti perintah Nabi saw. Beliau juga harus berpisah dengan suami yang begitu ia cintai. Hal ini dikarenakan pihak keluarga Umi Salamah melarang dirinya. Berhari-hari ia selalu meneteskan air mata.

Akhirnya, tekad untuk turut hijrah sudah tak bisa dibendung, dengan bekal seadanya dan bahaya yang selalu mengancam sepanjang 455 km. Makkah-Madinah, tak dihiraukan sama sekali. Ia menyusul rombongan Nabi, sendirian! Di tengah perjalanan, Allah mempertemukannya dengan Usman bin Tholhah kemudian mengantarnya hingga Madinah.

Singkat cerita, Abi Salamah menjadi Syahid pada perang Uhud.

Doa sang suami selalu menghantui pikirannya. Setelah masa iddah datang orang yang melamarnya. Pertama; ialah Abu Bakar. Kedua; Umar bin Khotob. Beliau menolak lamaran mereka berdua. Namun kedatangan orang yang ketiga; Nabi Muhammad. Hal ini membuatnya bingung. Karena sama sekali tak terlintas dipikirannya bahwa Rasulullah yang akan melamarnya.

Baca Juga 


"Aku merasa tak pantas untuk bersanding denganmu wahai Rasul, Aku hanyalah janda tua pencemburu sedangkan engkau punya istri banyak. Apalagi saya bersama 4 anak (yatim; Umar, Salamah, Durroh dan Zaenab)

"Kalau Tua, aku pun juga sama. Untuk sifat cemburu itu aku berdoa semoga Allah menghilangkannya. Sedangkan anakmu, akan aku anggap anakku sendiri".

Pernikahan Rasul dengan Umi Salamah pun berlangsung sederhana. Malam harinya, Rasul yang pemalu merasa sungkan, karena di setiap malam Umi Salamah selalu menyusui si bungsu Zaenab. Tiap kali Rasul datang, beliau selalu bertanya, "Adakah Zaenab?".

Beberapa kali gagal. Hingga salah satu sahabat ada yang paham dengan pertanyaan "Adakah Zaenab?" dan ia pun berinisiatif momong Zaenab untuk sementara.

Selain cantik Umi Salamah juga dikenal sebagai perempuan yang cerdas. Suatu ketika Rasul bersama para sahabat yang hendak masuk Makkah untuk ibadah Haji dicegat Musyrik Quraisy, beliau dipaksa untuk menandatangani kesepakatan Hudaibiyah yang isinya pun banyak merugikan kaum Muslimin. Salah satunya adalah Nabi dilarang memasuki Makkah saat itu juga.

Nabi Muhammad dengan perasaan kecewa karena dilarang memasuki tanah kelahirannya, Makkah. Memutuskan kepada para sahabat untuk hanya menyembelih hewan kurban dan memotong rambut (tahallul). Sahabat pun merasakan apa yang dirasa Rasulullah. Kalut, kecewa membuat mereka merasa enggan untuk melaksanakan perintah Allah kali ini.

Kecewa tak bisa memasuki Makkah dan keengganan para sahabat melaksanakan perintah, membuat Nabi agak geram hingga tak bisa menutupi perasaannya. Beliau masuk ke dalam tenda yang di sana terdapat Umi Salamah.

"Mereka sudah payah! (Halaka)." Kata Nabi Muhammad.

Baca Juga


Dengan lemah lembut Umi Salamah memberikan saran kepada Nabi Muhammad:

"Jangan seperti itu wahai Nabi. Mereka tengah mengalami kesedihan hebat. Harapan sepanjang perjalanan untuk melihat tanah air telah hancur akibat perjanjian ini. Engkau tak perlu memerintah. Cukuplah keluar sembelihlah kurban dan potonglah rambut. Mereka pasti akan senantiasa mengikutimu."

Inisiatif ini pun diambil oleh Nabi Muhammad dan sesuai dengan perkiraan Umi Salamah, para sahabat tanpa diperintah mengikuti apa yang diperbuat kanjeng Nabi Muhammad.

Penulis: Mujib Romadlon. Guru Mata Pelajaran Ilmu Hadis di MA Al Ma'had An Nur

Disarikan dari Ngaji Hadis bersama Gus Rum di Masjid Manunggal Bantul 11/11/18
Baca Esai menarik Lainnya yang ditulis oleh Mujib Romadlon.

Tuesday, November 13, 2018

Perjodohan Seperti Alina Suhita dan Gus Birru akan Tetap Ada, dan Terus Berlipat Ganda

Fotografer: Niam
Sejak dari zaman dahulu kala, dunia percintaan jika dibahas memang tak ada habisnya. Perihal cinta memang akan selalu salihun likulli zaman wa makan kapan saja. Bahkan sejak Nabi Adam masih hidup, hingga sekarang Adam Malik sudah meninggal, orang selalu membicarakan cinta. Dari remaja bahkan sampai orang tua.

Cerita cinta akan selalu enak dibaca.

Bicara cinta, sekarang ini, tentu kita wajib bicara Suhita. Novel yang sedang ngehits-ngehitsnya di Facebook.

Jika di artikel Sabak terdahulu, Virus Bernama Suhita, dan Enak Tidaknya Dijodohkan, dibicarakan tentang dingin dan bekunya Gus Birru, maka di postingan terakhir Khilma Anis yang sekarang telah sampai episode tiga belas, diceritakan bahwa Gus Birru sudah dengan mesra memegang tangan Suhita dan mengajaknya ngedate di warung kumuh pinggir jalan. Yang itu membuat suhita sangat bahagia.

Kisah perjodohan mereka yang awalnya menderita telah berubah menjadi manis. Sekalipun di akhir episode tiga belas Suhita mendapat kiriman foto dari sahabatnya, Gus Birru berfoto mesra Rengganis dikerubungi rekan-rekan Gus Birru.

Baiklah, itu memang cuma fiktif. Sekarang kita ke dunia nyata.

Bicara bagaimanakah cara mendapatkan cinta, setidaknya ada dua cara: perjodohan dan pacaran, dalam tanda kurung mencari pasangan secara independen tanpa intervensi dari pihak luar.

Penganut dan pelestari dunia perjodohan adalah lingkungan pondok pesantren. Ini kenyataan. Fenomena. Realita. Suhita adalah contohnya. Dan tentu saja kejadian seperti Suhita itu sangat banyak terjadi di dunia nyata. Karena katanya, kisah Suhita memang terinspirasi dari kisah nyata.

Dari kubu penganut azas pacaran, perjodohan dianggap cara-cara kuno dan ketinggalan zaman. Bertentangan dengan kebebasan, dan hak asasi manusia. Sehingga cara-cara perjodohan layak ditinggalkan.

Di dalam cerita Suhita, tokoh barnama Aruna adalah penganut mazhab pacaran. Kedua orang tuanya membebaskannya memilih pasangan.

Begitulah, kedua mazhab punya penganutnya masing-masing. Itu realita. 


Baca Juga 
Yang ingin saya bahas adalah apa pertimbangan perjodohan di dunia pesantren. Dan apakah perjodohan selalu menitipkan ke-tidakbahagia-an?

Cinta hampir selalu berhubungan dengan syahwat kepada lawan jenis. Bicara syahwat/nafsu, tentu ini adalah masalah seumur hidup yang tak akan pernah habis untuk dipelajari. Karena nafsu kepada lawan jenis adalah persoalan abadi. Masalah purba. Kebutuhan dasar manusia.

Syahwat itu liar, seperti perang; tidak mengenal iman dan agama. Perang hanya menghancurkan. Begitulah syahwat.

Jika syahwat sudah menguasai nafsu, maka dua pertiga imannya akan melayang. Begitu kata seorang ulama. Dan hanya sebagian kecil yang kuat menahan nafsu diri.

Apa pentingnya menahan nafsu?

Semua sepakat, dari zaman batu hingga kini, kuat menahan diri tetap dianggap sebagai sebuah prestasi.

Orang itu kadang tidak tahu apa yang ia cari di kehidupan ini. Apa yang baik buatnya kadang ia tidak tahu. Untuk menghindari nafsu yang menguasai diri, maka seorang santri butuh komandan.

Dari pertimbangan di atas, perjodohan oleh kiai dalam memilih cinta adalah sebuah solusi.

Beberapa kiai tentu telah bisa dianggap sebagai orang yang bijak bestari, setelah melalui tahapan riyadhah, tirakat dan perjalanan panjang laku prihatin, juga kesabaran dan keistikamahan menjaga santri-santri.

Dan bagi santri, di sebagian besar pondok pesantren, mengikuti setiap perintah kiai adalah keberkahan tersendiri. Sampai ada istilah "Ridhone guru kuwi ridhone Pengeran."

Bahkan, marahnya kiai menjadikan santri seneng karena merasa diperhatikan.

Dalam hal mencari jodoh untuk putra-putrinya, para kiai dan bu nyai jelas menggunakan cara-cara yang diajarkan guru-gurunya. Mulai dari salat istikharah, akhlak, hingga pertimbangan keilmuan, dan sebuah rencana perjuangan untuk melestarikan berjalannya pondok.

Baca Juga 
Bicara cinta tentu menggiring ke arah pernikahan. Bicara pernikahan, di Islam, tentu saja bicara sebuah ibadah. Sebuah ikatan suci. Sehingga di dalam Alquran, dijelaskan secara mendetail mulai dari proses khitbah (meminang) hingga pembagian harta warisan.

Setelah saya pikir-pikir setidaknya ada empat hal yang menjadi landasan terjadinya praktik perjodohan di dunia pesantren.

Pertama, berbakti kepada orangtua. Dalam novel Suhita, karangan Khilma Anis, jelas diceritakan bahwa Gus Birru dan Ning Suhita menikah karena dilandasi rasa berbakti kepada orang tua. Itu sudah jamak terjadi di pondok pesantren.

Kedua, niat mrihatini anak. Menurut seorang gus yang tidak mau disebutkan namanya, dia menceritakan bahwa cinta pertamanyalah yang masih selalu ada di hatinya. Sudah bertahun berlalu namun tidak juga ditemukannnya wanita seperti cinta pertamanya. "Kalau besuk aku nikah, Mas, saya hanya niati mrihatini anak. Cari istri yang tekun tirakat. Aku tak mikir lagi cinta seperti cinta pertamaku."

Ketiga, bismillah. Iya, bismillah. Niat menikah karena Allah. Jika Allah yang kita tuju, maka semesta akan datang menghampiri kita. Cinta model begini tak butuh banyak teori.

Keempat, berbakti kepada agama. Jika gus dijodohkan dengan ning, atau santri dijodohkan dengan gus atau ning, atau sebaliknya, tentu nguri-uri pondok adalah tanggung jawab yang pasti. Jika santri putra dijodohkan santriwati tahfid, tentu merawat hafalan Alquran adalah tanggung jawab. Ada pula santri yang dijodohkan dengan orang biasa yang, di kampung si istri belum ada ustaz di sana.

Bagaimana dengan urusan cinta dan kebahgiaan dalam berumah tangga?

Witing tresno jalaran seko kulino, awal dari cinta karena terbiasa. Semboyan ini sangat terkenal dan sudah menjadi panutan bagi banyak orang. Tinggal menunggu waktu saja, maka cinta akan datang. Yang lebih penting adalah niat yang suci: Bismillah.

Bagi yang tidak tahu dunia pesantren, niat bismillah bisa saja ditertawakan. Mereka menganggapnya lucu.

Tanpa banyak teori, berikut kami perkenalkan beberapa ulama yang sukses dalam mengarungi kehidupan melalui jalan perjodohan.

1. Kiai Said Aqil Siraj

Dalam acara satu jam bersama Kiai Said, sang istri, Nur Hayati Abdul Qodir, menceritakan kapan dan bagaimana beliau berdua bertemu.

Saat ditanya bagaimana dulu Kiai Said mengungkapalkan perasaanya, sang istri menjawab, "Saya ini dijodohkan oleh ibu saya. Tidak tahu sejak kapan, mungkin ya sejak saya SD kelas empat itu."

Dan saat Nur Hayati ditanya apakah tidak menyesal dijodohkan dengan kiai Said, beliau menjawab dengan mantab, "Nggak nyesel, dan alhamdulillah cocok."

Kita semua tahu, sekarang ketua umum PBNU adalah Kiai Said Aqil Siraj.

2. Gus Najib

Dulu, Mbah Salimi pernah berbeda pendapat dengan Kiai Khudhori (Ngrukem, Bantul) saat menentukan penyelesaian masalah tentang masalah ibadah haji. Keduanya bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Kejadian ini terjadi di Makkah.

Baca Juga 


Akhir cerita, setelah terjadi masalah atas keputusan Kiai Khudhori, Mbah Salimi lah yang bisa menyelesaikan masalah Kiai Khidhori. Kiai Khudhori lalu meminta maaf ke Mbah Salimi. Dan Kiai Khudhori menawarkan permintaan bagaimana caranya dia menebus kesalahannya ke Mbah Salimi, karena telah menolong masalah yang dihadapi, setelah sebelumnya ia ingkar terhadap pendapatnya Mbah Salimi.

"Nanti. Ndak usah tergesa. Suatu saat aku akan tagih janjimu, sebagai tebusan atas kesalahanmu." Jawab Mbah Salimi waktu itu.

Waktu berlalu. Sudah puluhan tahun.

Suatu hari, Mbah Salimi pergi ke rumah Kiai Khudhori, untuk menagih janji. "(Sebagai permintaan maafmu) Jodohkan anakmu dengan anakku, (Gus) Najib!?"

Kiai Khudhori kaget. Tapi akhirnya mereka besanan.

Jika di antara kalian tahu pondok pesantren Lukmaniyah, utara Terminal Umbulharjo, itu adalah pondok yang diasuh oleh Gus Najib, putra Mbah Salimi yang dijodohkan dengan putri Kiai Khudhori.

Baca Juga
Kisahnya perjodohannya saja romantis, apalagi rumah tangganya. Dan Gus Najib juga mendirikan dan mengasuh pondoknya. Kurang bahagia apalagi sebagai seorang santri, selain punya tempat mengaji sendiri.

3. Kiai Nawawi Abdul Aziz

Setelah lama mondok di Krapyak, Kiai Nawawi Abdul Aziz dinikahkan(dijodohkan) dengan Nyai Walidah, putri Kiai Moenawwir dari istri ke lima.

Sekalipun setelah menikah, Kiai Nawawi masih melanjutkan mondok di Kudus, pondok Kiai Arwani, untuk belajar Qiroah Sab'ah. Sementara Nyai Walidah ditinggal di ndalem, Krapyak.

Salah satu kegiatan selain mengaji, Kiai Nawawi yang pandai menulis, adalah bekerja di percetakan Menara Kudus. Jika Anda tahu kitab tafsir al-Ibriz, karangan Kiai Bisri Musthofa, maka penulisnya adalah Kiai Nawawi. Dari hasil menulisnya di percetakan Menara Kudus, uang itu ia kirimkan ke Krapyak untuk anak-istrinya.

Setelah kembali ke Kutoarjo, tanah kelahirannya, Kiai Nawawi kemudian merintis Ponpes An Nur Ngrukem, di Bantul. Siapa sangka, sekarang ribuan santri mondok di Ngrukem. Selain MI, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah, sekarang sudah berdiri Institut Ilmu al-Qur'an (IIQ).

Semua putra-putri beliau hafal Alquran. Beberapa punya komplek pondok, bahkan ada yang mendirikan pondok.

Masih meragukan buah dari perjodohan santri?

**

Dari ketiga cerita tersebut, bisa kita simpulkan bahwa, jalan cerita sebuah kisah kehidupan tidak hanya tentang menuruti apa kemauan diri kita. Siapa yang kita cinta dan siapa yang mencintai kita.

Hasilnya? Kita bisa lihat seberapa besar mereka menjadi orang yang bermanfaat sebagai manusia.

Hidup toh bukan hanya tentang kebahagiaan diri sendiri. Kemanfaatan bagi umat Islam lebih utama. Barang siapa memikirkan akhirat, maka dunianya akan mengikuti.

Bagi dunia pesantren, orang-orang yang berpendapat dan menganggap perjodohan adalah hal yang tabu dan bertentangan dengan hak asasi, tidak lebih hanya seperti akrobat 'tong setan' di pasar malam. Motor garang, pakaian super safety, helm cakil super aman, knalpot berisik memekakkan telinga, namun saat motor digeber hanya berputar-putar di situ saja. Tak pernah kemana-mana.

Sementara orang-orang yang terus-terusan berisik, perjodohan masih akan tetap ada, dan akan berlipat-ganda.

Penulis: Jintung Idjam

Baca tulisan menarik lainnya yang ditulis oleh Jintung Idjam.

Monday, November 12, 2018

Jika Barokah Bisa Didapatkan Lewat Nyolong, Mbah Mun Dulu Ngambil Apa kok Bisa Sealim Sekarang?

Gambar: NU Online
Pada reuni akbar Pesantren Lirboyo sekaligus Peringatan Satu Abad Pondok Pesantren Lirboyo, seorang pembicara bertanya kepada para hadirin: "Dari mana datangnya barokah?" 

Pembicara yang sebenarnya sudah tahu jawabannya itu kemudian menjawab pertanyaannya sendiri: "Barokah bisa datang dari mana-mana."

Konon, saking banyaknya jalan, barokah juga bisa datang dari hal-hal yang tak terduga. Misalnya, barokah dari nyolong mangganya kiai atau nyolong endognya kiai.

"Kalau ndak percaya, Gus Mus ini salah satu buktinya. Beliau itu bisa ngalim seperti sekarang gara-gara barokah nyuri telurnya mbah yai Mahrus sewaktu masih mondok", canda pembicara sambil melirik kepada Gus Mus.

Malam itu reuni akbar sedang diadakan di Lirboyo. Berbeda dengan acara reuni-reuni sebelumnya, kali ini pondok pesantren Lirboyo tepat berusia satu abad. Para hadirin yang datang pun membludak. 


Baca Juga
Tak hanya tamu undangan saja, para alumni serta para kiai sepuh turut hadir seperti Prof. Dr. Said Aqil Siradj dan Mbah Kiai Maimun Zubair. Hadir juga Kiai Abdullah Kafa Bihi dan Kiai Idris Marzuki selaku tuan rumah.

Selepas menyampaikan sambutan, sang pembicara turun dari panggung dan Gus Mus dimohon untuk naik memberikan sambutan berikutnya.

Dalam sambutannya, Gus Mus tidak bicara berpanjang lebar. Justru beliau hanya menyampaikan rasa syukur karena 50 tahun lalu turut diberi kesempatan untuk mencecap barokah dari pondok Lirboyo.

Soal barokah ini, ternyata Gus Mus tidak sepaham dengan para pembicara terdahulu. Dan hal itu disinggung pula dalam pidatonya.

"Saya kok nggak percaya ada barokah bisa datang dari nyolong di kantin ndalem. Ngambil gorengan empat ngakunya dua. Apa lagi barokah nyolong pelem sama telur dari kiainya. Ini perlu diluruskan."

"Soalnya apa, kita ini sekarang lagi di hadapan para kiai, alumni, hadirin dan juga santri-santri. Jangan-jangan nanti para santri yang dengar, lalu supaya dapat berkah, bisa ngalim seperti kiai Said, lantas ikut-ikutan ngambil pelem kiainya." Tutur beliau sambil terkekeh.

"Di samping itu semua, saya juga mau meluruskan tuduhan dari pembicara tadi yang bilang kalau saya dulu pernah ngambil telurnya kiai Mahrus. Na'udzubillah min dzalik. Nggak mungkin lah saya jadi syuriah NU kalau dulu waktu mondok nyolang-nyolong," kata beliau sambil mengenang.

Seturut penuturannya, Gus Mus dulu bisa makan telur dari mbah yai Mahrus karena setiap hari jumat KH. Cholil Bisri, kakak Gus Mus, sering diundang ke ndalem dan diajak makan bersama mbah yai.

"Memang pernah punya niatan untuk mencuri, tapi itu dulu dan baru niat!" ungkap Gus Mus. Waktu itu, beliau baru awal mondok di Lirboyo. Masih kecil. Dulu ada tebu di dekat ndalem mbah yai. Karena hendak ditebang, Gus Mus pun langsung mengajak pasukan buat ngambil tebunya. Daripada cuma ditebang dan nggak dimanfaatkan, pikir Gus Mus.

Lha kok ndilalah belum sampai ngambil tebu, mbah yai nimbali dari depan ndalem. Gus Mus pun ndredeg. 


Baca Juga


Mbah yai lalu menanyakan apakah Gus Mus mau dikasih tebu. Gus Mus masih ndredeg.

Singkat cerita, Mbah Yai kemudian masuk ndalem dan keluar kembali. Sembari menggendong glondongan tebu, Mbah Yai dawuh: "Ini saya pilihkan yang bagus-bagus. Dimakan sama teman-temannya ya."

"Gimana mau nyuri, wong belum sempat bertindak sudah dicegat dulu." kenang Gus Mus. Beliau kemudian menegaskan bahwa barokah yang membuat para santri bermanfaat dan sukses bukanlah berasal dari hal-hal yang disebut tadi.

Bagi Gus Mus, itu semua bisa terwujud berkat doa ikhlas para masyayikh yang dipanjatkan setiap malam serta kecintaannya terhadap para santri yang setara atau bahkan melebihi anak-anaknya sendiri.

"Ini saya teliti dan cermati betul. Saya pun sudah membuktikannya. Soalnya, kalau percaya barokah datang dari nyolong, takutnya kita nanti jadi bertanya-tanya. Kalau begitu, mbah yai Maimun Zubair dulunya ngambil apa kok bisa sampai se-ngalim sekarang?" 

*Disarikan dari sambutan Gus Mus yang disampaikan pada acara Reuni Akbar IV Himasal Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Penulis: Inan, Lurah sabak.or.id

Baca artikel menarik lainnya yang ditulis oleh Inan.

Sunday, November 11, 2018

Apa Yang Terjadi Jika Ada Orang yang Minum Menggunakan Wadah Yang Terbuat Dari Perak

Ngaji Hadis Malam Sabtu di Pendopo Parasamia Bantul oleh Gus Rum (03/11/2018) FOTO: sabak/niam

Bantul, 9 November 2018. Ngaji Bulughul Maram kali ini, masih berkaitan dengan hadis riwayat Hudzaifah bin Yaman pekan lalu, tentang pelarangan perabotan emas-perak sebagai alat untuk makan dan minum

Bila periwayat hadis pada minggu kemarin adalah sosok bernama Hudzaifah bin Yaman yang juga mendapat sebutan pemegang rahasia Rasulullah kali ini periwayat hadisnya adalah Umi Salamah. 

Rasulullah berkata: 
"Orang yang minum dengan wadah yang terbuat dari perak, sama saja ia menuangkan neraka Jahannam ke dalam perutnya." 
Secara tersurat larangan tersebut hanya membicarakan larangan minum melalui wadah dari perak. Namun secara tersirat juga memberitahukan bahwa, jika minum dari wadah perak saja dilarang, apalagi dengan wadah emas?. 

Membahas tentang wadah, pada dasarnya aktivitas makan dan minum merupakan aktivitas lumrah dan wajar, sehingga secara hukum asalnya adalah mubah

Meski demikian, perkara mubah tersebut bisa menjadi sebuah aktivitas yang ada nilai pahalanya, salah satu caranya adalah niat di dalam hati, misalnya ketika minum atau makan sambil niat di dalam hati “semoga saat aku makan dan minum ini bisa menjadikan ibadah ku lebih khusyuk dan kuat setiap harinya.” 

Oleh karenanya, dalam setiap amal perbuatan apapun yang pada dasarnya tidak bernilai ibadah (mubah), bisa bernilai ibadah kepada Allah swt. dengan catatan "meniatkan sebagai ibadah." 

Sebuah Perbuatan Yang Dianggap Dosa Besar

Berdasarkan hadis di atas, yang terdapat redaksi "....seperti memasukkan neraka Jahanam ke dalam perutnya". Maka pelanggaran terhadap hadis ini merupakan sebuah maksiat yang berujung dosa besar. 

Sebuah perbuatan dapat dikelompokkan menjadi dosa besar dilihat dari beberapa hal berikut ini: 

Pertama, Adanya kalimat ancaman yang dikatakan Rasulullah sendiri. 

Ancaman berwujud neraka Jahanam yang tertulis dalam hadis ini bisa dijadikan salah-satu contohnya. Siksaan jahanam selayaknya kita hindari dengan cara tidak melaksanakan kemaksiatan dalam konteks ini “meminum dari wadah yang terbuat dari perak.” 

Kedua, adanya hukuman nyata ketika di dunia (hudud). 

Contohnya adalah Pencurian yang berakibat pada hukuman (had) potong tangan. Pembunuhan yang berkonsekuensi pada hukuman mati (qisas) dan denda. Perzinaan dengan hukuman tertinggi adalah mati (rajam), cambukan (jildah) dan pengasingan. 

Ketiga, adanya lafal yang berarti laknat Allah dan Rasulnya bila perbuatan tersebut tetap dilaksanakan. 

Seperti: Allah melaknat orang-orang yang menggambar tubuhnya (tato). Allah juga melaknat orang-orang yang suka menyerupai lawan jenisnya; laki-laki yang berpakaian atau berlagak seperti perempuan. Begitu juga sebaliknya, perempuan yang menyerupai laki-laki. 

Namun, yang perlu diingat bahwa, pintu Taubat dari segala maksiat itu selalu ada. Tidak pernah tertutup sama sekali. Kecuali dosa melakukan kesyirikan. Sebesar apapun dosa yang ditanggung seorang Hamba, Allah akan selalu membuka pintu taubatnya. 

Makna yang terakhir adalah bahwa keberadaan Neraka Jahanam itu memang benar adanya. Dan harus yakin, Terbukti dengan redaksi Rasulullah Muhammad yang menyebutkan lafal jahanam secara tersurat sebagai ancaman bagi seorang muslim yang melanggar perintah Nabi Muhammad untuk tidak menggunakan wadah minum yang terbuat dari perak. 

Kisah Taubatnya Seorang Pembunuh 

Ada sebuah kisah tentang seorang pembunuh yang ingin bertaubat, Ia mendatangi seorang ahli ibadah: 

"Aku telah membunuh 99 orang, adakah pintu taubat untukku?" 

"Tidak! Dosamu terlalu besar" 

Mendengar demikian, dengan emosi kemarahan ia genapkan korbannya menjadi yang ke 100 dengan membunuh seorang ahli ibadah tersebut. 
Setelah pembunuhannya yang ke 100 itu, ia tak menyerah untuk mencari pintu taubat, datanglah ia ke seorang ahli ilmu (Alim), 

"Aku telah menggenapkan pembunuhanku sebanyak 100 orang, bahkan yang terakhir adalah seorang ahli ibadah. Masih adakah pintu taubat?" 

"Pintu taubat selalu ada kepada siapapun yang menginginkannya. Hanya saja aku punya syarat, yakni jika engkau benar menginginkannya, tinggalkanlah daerah kelahiranmu. Tujulah satu tempat yang di sana banyak berisi ahli ilmu dan ibadah, agar engkau sungguh-sungguh berubah". 

Dalam perjalanan menuju tempat berkumpulnya para ahli ilmu dan ibadah. Ternyata ajal telah menjemputnya. Kasus kematiannya pun mangakibatkan percekcokan antara malaikat rahmat dengan malaikat laknat: 

"100 pembunuhan sudah menjadi bukti, bahwa laknat Allah lebih tepat baginya". 

"Tidak bisa! Ia sedang dalam proses taubat, ia berhak mendapatkan rahmat Allah!" 

Allah pun mengutus malaikat yang ketiga sebagai hakim dengan memerintahkan kedua malaikat tersebut untuk mengukur 'mana jarak yang lebih dekat dari daerah asal ke daerah tujuan', 

Apabila letak meninggalnya pemuda ini lebih dekat dengan daerah asal, berarti pemuda ini milik malaikat laknat, namun apabila letak meninggalnya pemuda ini lebih dekat di daerah tujuan, berarti pemuda ini milik malaikat rahman. 

Hasilnya, jarak menuju tempat tujuan hanyalah satu jengkal saja. Sehingga orang ini pun dibawa oleh Malaikat Rahmat.
Penulis: Mujib Romadlon

Saturday, November 10, 2018

Jadi Ulama itu Berat, Kamu Tidak Akan Kuat, Jadi Ubaru Saja

FOTO: Fihry. Lokasi: Masjid Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta
Guru saya KH. Muslim Nawawi pernah menulis status di akun facebooknya:
“Untuk menjadi Ulama yang 'alim 'allaamah wal 'aamilun itu prosesnya panjang dan waktunya lama, Jika prosesnya cepat dan waktunya singkat itu bukan U-lama namanya, tapi U-baru” 
Tampak sederhana dan seolah guyon, namun dalam kacamata tertentu terdapat makna yang lebih dalam daripada sekedar guyon.

Perlu dipahami bahwa, status tersebut diunggah ketika sedang ramai-ramainya seorang pemuda yang didapuk sebagai calon presiden, yang disebut sebagai santri post-modern, bahkan ulama.

Berbicara mengenai ulama, pikiran kita akan tertuju pada makna status sosial yang melekat pada diri seseorang yang cakap dan pandai dalam bidang agama serta dianggap memiliki kuasa atas otoritas agama Islam.

Sejarah menjadi saksi bagaimana pentingnya peranan ulama dalam membangun bangsa Indonesia. Sebut saja pahlawan-pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro, Gus Dur, Sultan Hasanuddin, Teungku Umar, dan lain-lain.

Jika kita pahami, gelar atau status ulama tidak disematkan begitu saja kepada setiap orang secara sembarangan.

Dalam kitab Minhaj al-Atqiya karya KH. Muhammad Shaleh al-Samarani atau akrab disebut Mbah Soleh Darat salah satu guru KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asyari, yakni seorang ulama yang hidup sekitar abad ke-19, setidak-tidaknya menuliskan tiga kriteria seseorang sehingga layak disebut ulama.

Pertama, menguasai ilmu Alquran dan Hadis, sebab dua hal tersebut merupakan sumber primer ajaran agama Islam, sehingga pemahaman terhadap ilmu Alquran dan Hadis menjadi modal pertama dan utama untuk memahami keduanya.

Dengannya seorang memiliki kredibilitas untuk memahami sumber ajaran Islam serta terjauhkan dari bahaya pemahaman yang tekstual dan parsial.

Kedua, sanad keilmuan sambung sampai Rasulullah SAW. Pada dasarnya tradisi ulama Nusantara sangat memperhatikan hal ini dengan maksud sebagai pertanggungjawaban akademik keilmuannya.

Tak jarang ulama Nusantara menuliskan sanad atau jaringan keilmuannya secara khusus seperti yang dilakukan oleh Mbah Soleh Darat dalam kitabnya yang lain, Mursyidul Wajiz. Urgensi sanad keilmuan tampak jelas dalam disiplin ilmu Qiraat al-Qur’an dan periwayatan hadist. Dalam ilmu ruwatul hadis misalnya, tingkat kedhabithan dan ketsiqahan perawi dari sebuah hadis akan berdampak pada tingkat kesahihan sebuah hadis.

Dari sini kita dapat menggeneralisir terhadap disiplin keilmuan lain bahwa kepada siapa seseorang belajar suatu ilmu berpengaruh terhadap seberapa sahih ilmu yang dimilikinya. Hal ini untuk menilai bisa atau tidak ilmunya itu dipertanggungjawabkan.

Ketiga, berakhlak mulia. Sebagaimana sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa Rasulullah  diutus ke bumi guna menyempurnakan akhlak. Sedangkan ulama adalah pewaris Nabi.

Dengan demikian ulama juga mengemban tugas yang sama, salah satunya untuk menyempurnakan akhlak. Proses penyempurnaan akhlak inilah yang bisa kita lihat teori dan praktiknya di pesantren-pesantren.

Baca juga 


Di pesantren, akhlak menjadi tolok ukur pertama sebelum penguasaan keilmuan atau kecerdasan. Akhlak menjadi konsumsi materi wajib bagi setiap santri, pembelajarannya tidak hanya pada tataran teoritik seperti sorogan dan bandongan, tetapi juga menekankan pada tataran praktik seperti ucapan, sikap dan perilaku sehari-hari.

Biasanya, santri dengan akhlak yang mulia walaupun tidak begitu cerdas cenderung lebih dicintai oleh gurunya dibandingkan dengan santri yang cerdas namun kurang baik akhlaknya.

Ulama di Era Sosmed
Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi berdampak pada semua lini dalam kehidupan tanpa terkecuali, termasuk agama. Secara umum, perkembangan teknologi dan informasi memberikan ruang yang dianggap lebih efektif dan efisien bagi setiap orang untuk belajar tentang agama dan menyampaikan ajaran agama.

Melalui media orang-orang dapat dengan mudah memperoleh jawaban-jawaban tentang persoalan agama secara instan. Perlahan orang-orang didorong untuk abai dengan latar belakang keilmuan seseorang dan jejaring keilmuan (sanad). Karena mereka merasa puas tatkala pertanyaan atau persoalan tentang agama dengan mudah dan cepat ia dapatkan jawabannya.

Tinggal ketik, search, muncullah semua yang ia butuhkan.

Keterbukaan informasi memberikan ruang bagi setiap individu untuk dapat eksis. Melalui media mereka bebas mengemukakan pemahaman atas ajaran agamanya. Tidak mengherankan jika akhir-akhir ini bermunculan penceramah baru.

Ironisnya, hal ini justru seringkali meminggirkan nilai akhlak dalam menyampaikan ajaran agama. Bertebaran ujaran kebencian, fitnah, hoaks, cacian dan makian muncul hanya karena alasan perbedaan pandangan agama dan politik.

Misalnya ceramah dengan durasi 60 menit, muatan agamanya cuma 10 menit, selebihnya adalah caci-maki.

Kembali pada pernyataan KH. Muslim Nawawi tentang ulama, beliau menyadari bahwa hari ini tengah terjadi rekonstruksi (pergeseran, perubahan) makna ulama di tengah masyarakat dewasa ini.

Di sela-sela keramaian di media sosial yang menyebabkan digitalisasi keilmuan, seringkali warganet menganggap bahwa seorang ulama adalah sosok yang kerap mengisi lini media dakwah secara online, punya channel pribadi, sosial media, menyampaikan ajaran agama di mana-mana, sering berpergian kesana-kemari untuk berceramah dan seterusnya.

Tentunya hal ini mengabaikan kriteria ulama yang paling mendasar sebagaimana yang disebutkan oleh Mbah Sholeh Darat. Meskipun kita menyadari betapa mencapai kriteria tersebut bukanlah perkara yang cepat dan mudah, membutuhkan proses dan perjuangan yang panjang.

Jadi, mau nderek u-lama atau u-baru?

Penulis: Luthfi Aziz

Friday, November 9, 2018

Tiga Tirakat Yang Tidak Boleh Ditinggalkan Oleh Santri

Foto: sabak/niam

Persoalan tirakat, dalam tradisi pesantren acap kali kita menjumpai joke yang lumrah dilakukan santri, dengan kecenderungan masing-masing.

Ada beberapa santri yang mengatakan bahwa “Tirakatku puasa kok, jadi nderese kadang-kadang nek pas gelem wae”

Ada juga yang nyeletuk “Tirakatku ngaji wae, poso kan marakke ngeleh, nek awan gak iso udud” yang lebih menggelitik adalah “Halah, sing penting ngabdi, melu-melu roan kanggo pondok, kan ora ngaji ora popo, ora ditakzir, mergo roan, ngabdi kanggo pondok, oleh ganjaran mbarang.”

Nah, yang terkahir ini sepertinya jelas gak puasa, lha wong ngaji saja tidak, apalagi puasa yang harus berlapar-lapar ria di tengah roan.

Jika kita cermati, ketiga hal di atas bukan persoalan yang normatif, dan ketiganya tidak bisa dipisahkan sebagai suatu bagian yang berbeda, sebab ketiga-tiganya merupakan sesuatu yang sakral dalam orisinalitas tradisi pesantren.

Oke. Kita bahas satu per satu.

Pertama adalah puasa, banyak contoh kesuksesan santri dalam bab hafal mengahafal berhasil karena dibarengi tirakat puasanya, meskipun tidak sedikit juga yang sukses tanpa tirakat puasa. Menyoal berbagai macam puasa, bahwa bagi santri, berpuasa tidak hanya dilakukan di bulan Ramadhan saja.

Dalam tradisi pesantren, banyak hal yang melatarbelakangi santri untuk berpuasa. Misalnya seperti yang dinyatakan di atas, bahwa puasa sebagai ‘tirakat hafalan’, meminta atau mendapatkan ijazah puasa sebagai rutinitas spiritual penempaan batin, seperti puasa dawud –sehari puasa dan sehari tidak, diambil dari cara berpuasa yang dilakukan oleh Nabi Dawud – atau puasa dalail –puasa setahun penuh kecuali lebaran dan hari tasyrik– atau puasa senin-kamis, yang juga lazim dikenal kalangan masyarakat pada umumnya.

Meski terdapat keunikan tersendiri bahwa terkadang ada beberapa santri yang sengaja berpuasa untuk ngirit uang jajan dan rokok.

Kedua adalah ngaji. Ngaji merupakan aktifitas pokok dan paling penting bagi santri. Saking pentingnya, sebodoh apapun santri dalam memahami pelajaran kitab kuning misalnya, pokoknya kudu ngaji, nanti lama-lama juga bisa sendiri, sebab di dalam majelis ilmu ngaji seperti demikian terdapat aspek keberkahan yang tak kasat mata.

Dan ini agaknya terbukti menurut penuturan para alumni pondok pesantren.

Sisi yang fenomenal tentang kata ngaji adalah wasiat dari Mbah Nawawi Allahu Yarham sebelum beliau wafat, bahwa “kabeh santri kudu ngaji, nek ora ngaji yo mulang.”

Dari dawuh tersebut dapat dipahami bahwa posisi santri sebagai yang ngaji atau yang mulang (mengajar ngaji), esensinya satu; mengaji, sebab sama-sama memenuhi kebutuhan hati dan otaknya terhadap aspek ketuhanan, dan sama-sama membuka kitab, baik kitab suci Alquran maupun kitab kuning, bukan kitab yang fiksi.

Ketiga adalah Ngabdi. Perkara ngabdi pun jangan dianggap sesuatu yang remeh dan receh. Sebab kebanyakan santri yang pada dasarnya memang benar-benar jarang mengaji, apalagi puasa, ada yang lebih gandrung dalam dunia pengabdian, juga bisa sukses, apalagi dalam hal percintaan (gampang dapet Ning –julukan putri/cucu Kiai atau sebab besanan).

Santri yang mengabdi juga memercayai bahwa sisi lain mendapat keberkahan selain ilmu adalah dengan cara mengabdikan diri kepada kiai atau pesantren.

Sebut saja sebagai contoh guru saya Mbah Nawawi, yang mengabdi dan ngaji di pesantren Almunawwir Krapyak saat menghafalkan Alquran dalam waktu lebih kurang 15 bulan khatam, sehingga membuat Mbah Abdul Qadir Munawwir (putra Mbah Munawwir) tertarik menjadikannya sebagai bagian dari Bani Munawwir, akhirnya Mbah Nawawi dinikahkan dengan adiknya, yakni Mbah Walidah Munawwir.

Pengabdian Mbah Nawawi berlanjut dengan menjadi pengajar Alquran di Almunawwir setelah menyelesaikan qira’at sab’ah di Kudus kepada Mbah Arwani Amin.

Pada contoh lain, salah satu mantan lurah pesantren An-Nur juga menjadi bagian dari keluarga Bani Nawawi, sebut saja Gus Machin yang merelakan melepas kuliahnya untuk mengurus Madrasah Diniyah Al-Furqan atas dawuh Kiai ‘Ashim Nawawi.

Dan tidak ketinggalan, salah satu tim redaksi sabak.or.id berhasil dalam hal keilmuan, juga percintaan, dengan inisial QM berkat pengabdian lamanya di pesantren An-Nur hingga hari ini mengabdi di perguruan tinggi milik An-Nur.

Dari tiga hal tersebut, substansinya adalah, bahwa antara puasa, ngaji dan ngabdi merupakan hubungan yang saling berkelindan, tidak bisa dipisahkan dengan alasan apapun, justru saling melengkapi satu sama lain.

Dan bagi santri, tentu dan bisa dipastikan telah melakukan ketiga hal tersebut dengan tenanan, terlepas dari bagian mana yang menjadi kelebihan masing-masing santri, dan atas dasar apa. Intinya adalah bahwa seorang santri tentu akan berpuasa, ngaji dan ngabdi sebab selama masih merasa menjadi santri, ia masih merasa bodoh dan tidak lebih hebat dari guru-gurunya.

Penulis: Ade Chariri, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga
Baca esai menarik lainnya yang ditulis oleh Ade Chariri.

Thursday, November 8, 2018

Kegiatan Santri Putri Memasak Di Dapur Umum

Memasak merupakan kegiatan di sela-sela membuat setoran hafalan atau belajar, bisa jadi hal itu menjadi sebuah hiburang yang sederhana namun menyenangkan. Meskipun dengan peralatan yang sederhana dan serba alami, mereka tetap bisa menikmati hidup di pesantren yang kaya akan tradisi. (06/2018) foto: sabak/tamyiz
Santri putri menyiapkan takjilan untuk buka bersama di bulan Ramadhan. (sabak/tamyiz)

Membuat minuman yang sederhana bisa. (sabak/tamyiz)

Memakai peralatan memasak yang masih sederhana. (sabak/tamyiz)