masjid nabawi

Edward Said: Orientalisme dan Diskursus Mengenai Timur

Lenyapnya kekhalifahan bani Abbasiyah menjadi pertanda hilangnya masa keemasan Islam dan peradaban Timur. Di balik hal tersebut, muncullah Renaissance bangsa Eropa yang melatarbelakangi ekspedisi bangsa Barat ke belahan bumi Timur. Hal tersebut dibarengi dengan diskursus Orientalisme sebagai alat bagi bangsa Barat untuk meletakkan kekuasaan terhadap bangsa Timur yang mayoritas beragama Islam. Salah satu intelektual yang menampar diskursus Orientalisme adalah Edward Said.

Edward Said, bernama lengkap Edward Wadie Said, seorang kritikus sastra dan pelopor kajian poskolonial yang lahir di Yerusalem pada 1 November 1935, tepatnya di Talbiyah. Edward Said hidup dengan paradoks identitas, ia merasa bahwa dirinya sebagai “yang lain” karena nama depan “Edward” yang berasal dari Inggris dan nama tengah “Wadie” yang diberikan oleh ayahnya yang berbisnis di Kairo, namun lebih senang dianggap sebagai orang Amerika, serta nama belakang “Said” yang berasal dari Arab.

Bagi Said, hidup bukanlah soal memperjuangkan agama, namun baginya perjuangan lebih kepada soal memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Said adalah seorang diaspora yang menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai manusia yang terasing dan termarjinalkan dari negaranya sendiri. Jejak keterasingan Said tersebut bisa kita telusuri dalam memornya yang ditulis sejak 1967-1994, yaitu Out of Place (1999).

Edward Said menempuh pendidikannya di Victoria Collage, Cairo, Mount Hermon School, Massachusetts and Princeton and Harvard University. Tahun 1963, Edward Said menjadi profesor dan mengajar pada Perbandingan dan Sastra Inggris di University of Columbia. Pada tahun 1974, Said menjadi guru besar pelawat dalam bidang Perbandingan Sastra di Harvard University. Ia juga pernah menjadi akademisi pada tahun 1975-1976 di Center for Advanced Study Behavioral Science at Stanford dan pada 1979 menjadi Visiting Professor of Humanities At Johns Hopkins University. Edward Said meninggal pada hari Kamis 25 September 2003 di rumah sakit New York karena penyakit leukemia akut yang dideritanya sejak 1992 (Edward Said, 2003: 1).

Baca juga:  Esensi Doa, Bukan Hanya Sekadar Meminta

Secara istilah, Orientalisme berasal dari kata “orient” yang dalam bahasa Inggris dan Prancis mempunyai arti direction of rising sun (arah terbitnya matahari atau bumi belahan Timur). Sedangkan imbuhan “isme” mempunyai arti a doctrine, theory or system. Maka, Orientalisme diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang kawasan Timur (Mustolah Maufur, 1995: 11-12). Dan aktor dari Orientalisme adalah Orientalis, yaitu ilmuwan atau sarjana Barat yang meneliti dunia Timur.

Edward Said dalam Orientalisme  (2003),  menyatakan bahwa Orientalisme adalah kajian atau metode Barat untuk mencaplok dunia Timur.  Menurutnya, Orientalisme mempunyai dalih untuk memperbaiki dan memajukan politik, sosial, kebudayaan, dan lain-lain yang sebenarnya adalah untuk memperlancar kekuasaan bangsa Barat terhadap bangsa Timur yang mayoritas memeluk agama Islam.

Secara historis dan materialis pada abad ke-18, Orientalisme menjadi institusi resmi bagi pengkajian Timur dan melegitimasi asumsi tentangnya atau dengan kata lain Orientalisme menjadi gaya Barat untuk menata dan kemudian mendominasi bangsa Timur. Secara diskursus Orientalisme sangat sistematis dan karenanya bangsa Barat dapat meletakan kekuasaannya terhadap bangsa Timur secara politis, sosiologis, militer, ideologi, ilmiah dan imajinatif selama pasca abad Pencerahan.

Baca juga:  Apakah Benar Islam Identik dengan Poligami?

Lebih lanjut, Said menjelaskan bahwa Orientalisme merupakan doktrin politik yang disematkan kepada Timur. Dalam hal ini, Timur di direpresentasikan secara subyektif oleh para Orientalis sebagai peradaban yang terbelakang, despotik, sensual, mentalitas menyimpang dan hal lain sebagainya yang mencerminkan keburukan bangsa Timur ketimbang bangsa Barat.

Hal yang mencengangkan tentang Orientalisme yang merupakan kajian ketimuran yang ternyata bersumber dari Prancis dan Inggris. Prancis dan Inggris mempunyai kedekatan dengan dunia Timur, yang sebelum abad ke-19 hanya meliputi India dan tanah-tanah Injili. Sejak awal abad ke-19, kajian Orientalisme yang digawangi Prancis dan Inggris mendominasi dunia Timur dan pada akhirnya diambil alih oleh Amerika Serikat pasca Perang Dunia II.

Ketika ruang kolonialisme semakin diperluas, maka akan diperluas pula kajian ketimuran oleh para Orientalis yang sejalan dengan arah gerak dan tujuan kolonialisme bangsa Barat. Maka berangkat dari hal tersebut, lahirlah kaidah bahwa penjajahan yang dilakukan bangsa Barat selalu dibarengi dengan misi Orientalisme.

Di samping kritiknya mengenai Orientalisme, Said juga mengapresiasi Orientalisme sebagai kekuatan wacana yang terpadu dan sistematis mengenai institusi-institusi sosial, ekonomi, dan politik yang luar biasa dan mencengangkan. Orientalisme ekarang menjelma sebagai investasi material yang diajarkan di universitas-universitas, kongres, dan lembaga kedutaan luar negeri sejak masa Ernest Renan pada akhir 1840-an yang sampai saat ini, Orientalisme menjadi diskursus keilmuan mengenai dunia Timur dan Islam.

Baca juga:  Pendulum Arus Baru Islam Indonesia Pasca 212

Begitu besarnya perhatian bangsa Barat terhadap peradaban Timur, Said menjelaskan bahwa pada interval tahun 1800-1950 M, tidak kurang 60.000 buku tentang Timur Dekat (the near orient) telah diterbitkan oleh para Orientalis. Ironis memang, kita sebagai bangsa Timur-Islam hanya menjadi penonton kemajuan bangsa Barat yang disebut oleh Komaruddin Hidayat sebagai “penonton cemburu” (Nurisman, 2010: 3).

Sumber
Maufur, Mustolah. (1995). Orientalisme: Serbuan Ideologi dan Intelektual. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Nurisman,  Nurisman. (2019). Oksidentalisme: Kritik Epistemologis Dalam Filsafat Modern. Yogyakarta: Kalimedia.
W. Said, Edward. (2010). Orientalisme. Terj. Achmad Fawaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Komentar Facebook