Jika Ada Kiai Baru, Bagaimana Cara Santri Beradaptasi?

Pondok pesantren merupakan tempat bagi seseorang untuk menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun pengetahuan umum. Seperti yang kita ketahui bahwasannya sebuah pondok pesantren berada dalam naungan atau kepemimpinan seorang kiai dengan berbagai macam bentuk kepemimpinan dan budaya beliau miliki. Pandemi covid-19 yang telah melanda dunia kurang lebih 2 tahun ini telah merenggut jutaan nyawa, bahkan termasuk kiai di dalamnya.

Di kehidupan pesantren terdapat beberapa alasan mendesak mengapa seorang kiai dalam pesantren digantikan oleh penerusnya. Alasan pertama, yaitu dikarenakan hal yang tidak dapat kita hindari berupa seorang kiai memenuhi panggilan untuk kembali ke Rahmatullah dan hal tersebut sedang marak terjadi di masa pandemi covid-covid-19 . Alasan yang kedua yaitu mungkin dikarenakan usia dan kesehatan yang membuat seorang kiai memutuskan agar putranya menjadi penerusnya.

Di masa sekarang dampak dari pergantian kiai disebabkan oleh meninggalnya seorang kiai sebuah pondok pesanten tidak dapat dianggap remeh, terdapat beberapa kemungkinan yang terjadi, antara santri akan memilih untuk menetap di pesantren tersebut atau bahkan memilih berpindah pesantren sebab tidak yakin terhadap kiai yang baru dan menilai bahwasannya barokah kiai sudah tidak ada di ada di pesantren tersebut apabila kiai nya telah meninggal dunia.

Baca juga:  Tiga Kitab Tipis Yang Wajib Dikaji Sebelum Sampeyan Boyong dari Pesantren

Nah, untuk menyikapi fenomena tersebut ada beberapa solusi untuk merubah cara pikir sobat santri yang masih ragu untuk melanjutkan pendidikannya di pesantren sebab pergantian sosok kiai. yuk simak penjelasan nya.

1. Menerima seorang kiai sesuai dengan sikap tawadu murid kepada guru

Dalam menuntut ilmu, salah satu etika yang harus dimiliki seorang murid yaitu bersikap tawadhu terhadap guru. Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab beliau Ihya’ ‘Ulumuddin, beliau berkata “Murid tidak boleh menyombongkan ilmunya dan menentang gurunya. Tetapi harus tunduk sepenuhnya kepada guru dan mematuhi betul nasihatnya, seperti kepatuhan orang yang sakit kepada dokter ahli yang berpengalaman.

Seorang murid harus tawadhu terhadap gurunya, serta mengharap pahala dan kemuliaan dengan berkhidmah terhadapnya.” Dengan memahami hal tersebut sobat santri harus mengubah cara berpikir bahwa barokah kiai akan hilang apabila seorang kiai meninggal bahkan berpikir berkah tidak dapat didapatkan dari kiai yang lain, sehingga santri akan mudah menerima dan beradaptasi dengan kiai yang baru dalam pesantren dan dapat menerimanya baik dari caranya menyampaikan keilmuan maupun mengurus pesantren.

2. Tidak membandingkan kiai baru dengan kiai yang sebelumnnya

Semua kiai dalam sebuah pesantren pastinya memiliki sebuah tujuan yang sama yaitu untuk memakmurkan pesantren yang ia kelola. Sehingga dalam penerapannya, setiap kiai memiliki ciri khas masing-masing dalam cara memimpin dan budaya yang ia terapkan dalam organisasi.

Baca juga:  Tampang Pesantren dan Isu Politik Elektoral

Sebuah pesantren yang awalnya hanya fokus terhadap ilmu al-quran mungkin dengan adanya kiai yang baru akan bertambah dengan fokus terhadap keilmuan bahasa. Singkatnya, seorang kiai pasti ingin memajukan peantren yang ia miliki. Oleh karena itu, santri harus dapat beradaptasi dengan perbedaan yang ada dan tidak berpikir mengenai perbedaan kiai yang dahulu dan yang sekarang sebab hal tersebut hanya akan menghambat kemampuan santri untuk berkembang dengan budaya baru yang diterapkan oleh kiai yang baru.

3. Melestarikan budaya baru tanpa menghilangkan budaya yang lama

Adanya sosok kiai baru bukan berarti membuat sobat santri harus meninggalkan budaya-budaya yang ditinggalkan oleh kiai yang lama. Sebab selama budaya yang dditinggalkan Merupakan budaya yang baik, sosok kiai yang baru tidak akan melarang sobat santri untuk melestarikan nya.

Nah, itu tadi beberapa tips buat santri yang masih bimbang sebab kepergian sosok kiai yang ia cintai. Kematian merupakan sebuah takdir Allah SWT yang tak seorangpun dapat menghindarinya dam tugas kita sebagai manusia ialah menerimanya dengan lapang dada.

Baca juga:  Tiga Tirakat Yang Tidak Boleh Ditinggalkan Oleh Santri

Semoga bermanfaat.

Komentar Facebook
1