Langkah Maju untuk Diaspora Santri

Perjuangan kiai dan Santri dalam menyebarkan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) tidak pakem dengan satu jalan. Mereka dengan yang mempunyai bakat dalam bidang tertentu mengembangkan cara lain untuk mendakwahkannya. Misalnya saja Sofyan RH.Zaid dari Pondok Pesantren An Nuqoyyah madura mempunyai bakat sastra yang memberi gejala sufi dalam sastra indonesia, dan masih banyak lainnya.

Mereka yang demikian lebih merasa tertantang akan hal itu. Gairah perjuangan mereka, mereka nikmati. Sehingga NU menjadi diaspora tanpa ada batasan. Hal demikian tidaklah mengapa. Sama halnya waktu Gus Dur ditanya soal kader-kader NU yang menjadi kader politik di PKB, PDI, dan Golkar. Padahal kalau disesuaikan mereka harusnya ada di PPP atau PKB yang mewakili partai islam. Gus Dur hanya menanggapinya enteng,

orang NU harus menyebar jala seluas mungkin

Jadi ngertikan maksudnya Gus Dur?

Menurut hemat pribadi, perjuangan NU menapaki dalam bidang pendidikan, politik, budaya, ekonomi dan kesehatan. Dari lima itu sebenarnya sudah terlaksana. Hanya saja yang malah menjadi perhatian disini dari segi budaya. Karena LSM Kraton Ngiyom ini berada di pedalaman Jawa Timur (Ngawi). Apa yang menarik? kalau mengutip pendapatnya Gus Dur, pedalaman Jawa Timur itu kurang akomodatif terhadap budaya jika dibandingkan dengan Jawa Tengah. Kaum santri di Jawa Timur lebih menekankan pada spiritual tarekat dan legalitas fiqih.

Baca juga:  Karomah Kiai yang Berujung Perbaikan Gizi bagi Santri

Perempuan mengikuti pagelaran seni tidak diperbolehkan, itu contohnya. Tetapi hal itu bisa disadarkan jika dihadapkan dengan permasalahan yang ada, yakni kerusakan lingkungan akibat penebangan hutan di Karesidenan Madiun sejak kolonial sampai tahun 1990an. Dampaknya adalah sumber mata air berkurang, banjir luapan bengawan solo dll.

Lihat saja sungai-sungai yang huluya gunung lawu, debitnya menurut. Hal itu mengganggu produktifitas lahan sebagai sumber ekonomi petani dan aktifitas vital lainnya. Disamping itu orang jawa mempunyai seni budaya sendiri yang disukainya. Untuk itu kaum santri mulai memperhatikan hal ini. Salah satu caranya adalah bekerjasama dengan LSM Kraton Ngiyom yang sudah terlebih dahulu ada. Menurut mbak sari dari LSM Kraton Ngiyom, tidak hanya untuk menjaga lingkungan tapi juga nilai-nilai toleransi yang disosialisasikan oleh LSM tersebut dengan pendekatan seni budaya.

Diharapkan nantinya menjadi masyarakat yang madani. Agar bisa mengarah kesitu maka semua kalangan harus berkorban, Jer basuki mawa beya. Untuk bisa mencapai kesuksesan maka harus berkorban dalam perjuangan, itu jargon orang jawa timur. Maka setiap tahunnya diadakan upacara budaya pengorbanan seekor kerbau dari ketan yang ditingkahi berbagai kesenian setempat. Tidak hanya itu, kiai-kiai pun mendapat kesempatan orasi atau pengajian budaya.

Baca juga:  Nasib Film The Santri di Tangan Sineas Tersohor Livi Zheng

Dakwah dengan cara seni budaya menurut KH. Sahal Mahfud tidaklah mengapa. Justru media dakwah itu harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang ada. Agar tidak terlalu pakem dan lebih mengena. Misalnya saja Kanjeng Sunan Kalijaga berdakwah dengan wayang. Cerita Mahabarata ditambah, Yudistira sebagai panglima Pandawa tidak akan hidup sempurna kalau tidak mempunyai Jimat Kalimosodo. Yang tidak lain adalah dua kalimat
syahadat. Dengan itu orang-orang hindu perlahan masuk islam.

Cara penyampaian LSM Kraton Ngiyom ini adalah sebuah langkah maju, mengingat Ngawi sama halnya dengan daerah pedalaman jawa timur lain, yakni kurang akmodatif terhadap budaya setempat. Untuk memperkuat keduanya (santri-santri NU dan Kraton Ngiyom), Kraton Ngiyom pernah diundang dalam pembahasan Fiqih Agraria di Rembang.