Eksistensi Pesantren di Era Milenial

Eksistensi pesantren di era milenial mempunyai sejarah cukup panjang. Cikal bakal lahirnya pesantren adalah hasil dari perjuangan wali songo yang dengan gigih menyebarkan ajaran agama islam di Nusantara. Mereka berdakwah dengan mendirikan padepokan sebagai sarana menyalurkan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat. Seiring dengan meluasnya ajaran Islam di Nusantara, padepokan tersebut berganti nama menjadi pesantren.

Pesantren adalah lembaga pendidikan yang sudah ada jauh sebelum didirikannya pendidikan sekolah formal. Seiring perkembangan zaman, pondok pesantren kini semakin eksis dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Pondok pesantren yang dahulunya mayoritas berada di desa, kini telah bertebaran bahkan di tengah kota dan berbagai pelosok tanah air.

Saat ini, mudah menjumpai bermacam-macam model pondok pesantren mulai dari pondok salaf (yang sudah berdiri sejak lama dan masih menggunakan metode pembelajaran jaman dahulu), pondok pesantren modern yang menggunakan pembelajaran yang menyesuaikan pada masa sekarang, seperti pembelajaran berbagai bahasa asing dan ilmu pengetahuan umum tanpa meninggalkan nilai-nilai keislamannya.

Dalam pandangan beberapa orang awam, pesantren dinilai sebagai penjara suci. Akses santri untuk keluar dari asrama/pesantren sangat dibatasi, sehingga santri banyak menghabiskan waktu hanya di area pondok pesantren saja. Dari sebuah akun media sosial yang mempertanyakan pendapat bagaimana pandangan seseorang mengenai pesantren, bagi beberapa orang pesantren adalah sebuah tempat dengan banyak aturan dan hukuman.

Baca juga:  Tampang Pesantren dan Isu Politik Elektoral

Tetapi di masa sekarang pesantren semakin menemukan peminatnya bahkan menjadi prioritas pilihan bagi para orang tua. Kini, semakin banyak orang tua yang menyadari bahwa betapa pentingnya ajaran agama di era milenial ini untuk membentuk generasi yang berkualitas. Karena pesantren dipercaya sebagai sarana yang tepat dalam membekali anak dengan ajaran agama sehingga membentuk karakter yang religius. Hal ini membuat beberapa pesantren membatasi kuota atau terpaksa menolak menerima santri baru dan mengharuskan adanya seleksi.

Kini pesantren juga seperti sudah menjadi hal yang lumrah bagi orang-orang yang menuntut ilmu di perantauan. Mondok nyambi sekolah seperti sudah menjadi pilihan utama bagi seseorang yang ingin memperdalam ilmu agama dan melanjutkan pendidikan formal. Pesantren dianggap mampu membentengi diri dari derasnya budaya Barat yang kini semakin marak di Indonesia. Namun, terkadang banyak pelajar/mahasiswa yang mengaku kewalahan dalam mengatur waktu kuliah dengan kegiatan di pesantren. Lingkungan kampus yang tentu sangat berbeda dengan pesantren.

Di situasi seperti ini seorang pelajar/mahasiswa yang sekaligus seorang santri dapat belajar bagaimana cara beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda. Pelajaran yang didapatkan di pesantren, dapat diterapkan secara langsung dalam dunia sekolahan. Seperti tentang bagaimana mengatur emosi, memenejemen waktu, bersikap baik dan berperilaku sopan.

Baca juga:  Cerita tentang Sandal Pesantren; dari yang Keramat sampai Kasmaran

Sebuah ungkapan yang harus menjadi pegangan teguh oleh seorang santri, yakni

Al-muhafadhotu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid Al-Ashlah yang berarti “Memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik”

Seiring dengan zaman yang akan semakin berkembang dan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang akan semakin maju, santri diharapkan dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dan dapat menguasai diri agar tidak mudah terlena.

Menghadapi tantangan zaman, seorang santri sebaiknya mampu mengamalkan ilmu yang diperoleh dari pesantren. Tidak harus menjadi kyai. Menjadi seorang pejabat, pengusaha, dokter, seniman, guru, hingga petani dan pedagang pun harus  turut serta mengamalkan ajaran-ajaran yang di pesantren. Walaupun kini keberadaan pesantren semakin terus mengalami perubahan, dan berbagai pengembangan terus dilakukan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, namun jangan sampai menghilangkan identitas dan ruh pesantren, yakni kyai, santri, dan ngaji.

Dengan demikian, eksistensi pesantren di era milenial bisa menjadi kontribusi nyata bagi perkembangan pola pendidikan di Nusantara.

Baca juga:  Hati Suhita dan Mengapa Pernikahan Bukan Melulu Soal Syahwat

Penyunting Qowim Musthofa

3