Wanita Independen dalam Pandangan Islam

Islam menempatkan wanita di tempat yang mulia. Bagaimanapun, laki-laki dan perempuan adalah sepasang makhluk Tuhan yang memiliki martabat dan kadar yang sama. Akan tetapi, harus diakui pula bahwa terdapat perbedaan-perbedaan di antara mereka; perbedaan yang sifatnya fungsional dan tidak mengakibatkan supremasi laki-laki.

Dalam hal ini, perempuan memiliki kesempatan untuk tampil sebagaimana identitasnya. Salah satunya untuk dapat menjadi manusia yang mandiri. Kemandirian disini bukan berarti menjadikannya lemah atau terus mengalah dengan mengorbankan kepentingannya sebagai perempuan yang memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan laki-laki. Konsep hidup mandiri juga sejalan dengan prinsip “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama”. Bagaimana seseorang bisa bermanfaat untuk orang lain, sedangkan ia tak mampu memenuhi kebutuhannya, atau dengan kata lain belum bermanfaat untuk dirinya sendiri.

Allah telah memberikan akal kepada setiap hambanya untuk berfikir dan menggali setiap potensi yang ada dalam dirinya sebagai bentuk rasa syukur. Maka, disinilah Islam kemudian mendorong perempuan untuk mandiri di berbagai aspek, sebagaimana disebutkan dalam kalam Ilahi, dicontohkan oleh istri dan sahabat nabi, atau digambarkan dalam kisah-kisah perempuan hebat sebelum Islam.

Baca juga:  Pendapat Yusuf Qardhawi tentang Jilbab

Seorang perempuan tidak boleh pasrah begitu saja terhadap masalah. Ia harus berani mengambil keputusan di saat sulit, bersikap tegar dan mampu tegas ketika dilema melanda, serta mudah bangkit ketika menghadapi musibah. Hal ini sesuai dengan QS. Az-Zumar: 53-54, “Jangan berputus asa dari rahmat Allah”.

Wanita independen bukan berarti tidak membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Sebagai makhluk sosial, mereka juga tetap membutuhkan kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Namun, mereka hanya tidak ingin menggantungkan hidupnya dengan orang lain. Mereka bertanggung jawab penuh atas suatu hal yang dilakukannya. Mereka sangat disiplin, tegas, pekerja keras, dan bisa melakukan segala sesuatunya sendiri. Walaupun banyak rintangan dalam hidupnya, wanita independen tetap tangguh dan selalu mengandalkan kemampuan dirinya sendiri.

Mengutip kalimat dari Quraish Shihab dalam bab mengenai harkat dan kemandirian perempuan, “Untuk mewujudkan harkat dan kemandirian perempuan serta memelihara hak-hak, kodrat dan identitasnya, perempuan tidak hanya harus merasa diri mereka setara dengan lelaki, tetapi lebih dari itu, perempuan harus membuktikan hal itu melalui kemampuannya dalam dunia nyata.”

Baca juga:  Perintah Salat Tahajud di Balik Makna Lirik Lagu Sebelum Cahaya Letto

Kini, perempuan telah menemukan keberanian untuk menunjukkan diri. Kemandirian yang sejati bagi perempuan, menurut Islam dapat diwujudkan dengan kebanggaan mereka dengan identitasnya sebagai perempuan, bukan justru menjadikan mereka seperti lelaki. Jika merujuk pada Al Quran, dijelaskan bahwa citra perempuan yang terpuji adalah perempuan yang memiliki kemandirian, memiliki hal berpolitik, dan kritis dalam apa yang dihadapinya. Penjelasan ini tertuang dalam surat An-Naml ayat 29-44 yang menceritakan seorang perempuan bernama Balqis, sang ratu yang menduduki tahta di negeri Saba’.

Komentar Facebook
3