masjid nabawi

Progresivitas Nabi Muhammad dalam Kitab Dirasat fi al-Sirah al-Nabawiyyah karya Husain Mu’nis

SABAK.OR.ID – Perbincangan perihal kehidupan Nabi Muhammad Saw. tak pernah lengang dari keseharian kita. Sebagai manusia utusan Allah yang paripurna, beliau selalu diilustrasikan dengan gambaran yang sempurna, mulai dari Nabi sebagai suami, kepala keluarga, sahabat, pemimpin politik, panglima perang, dan poros spiritual, dll.

Demikian ini bagi kita, umat dan pecintanya, Nabi dipandang sebagai sosok yang terbebas dari segala salah dan dosa (ma’shum). Kita lebih sering memandang beliau dengan citra emosional, dan tak jarang melepaskan aspek historitas (sejarah Nabi Muhammad) yang sebenarnya banyak menyimpan nilai-nilai pendidikan bagi kehidupan umat kemudian.

Alhasil, kita jarang–untuk tidak mengatakan tak pernah sampai–menyentuh aspek-aspek latar belakang dan motif, serta rangkaian keterkaitan maupun garis penghubungnya. Kita hanya menerima segala sesuatunya sebagai suratan takdir sesuai kehendak Allah, dan tak ada campur tangan manusia di dalamnya.

Padahal nuansa progresivitas di dalam keseluruhan Sirah Nabi seakan menjadi satu plot utuh, bukan fragmen yang terpisah satu sama lain. Tapi lebih pada rangkaian perjalanan, beberapa bernuansa kolase, yang saling terikat dan berhubungan kuat.

*

Melihat dari sisi ini, menarik sekali ketika kita membahas kitab Dirâsât fi al-Sîrah al-Nabawiyyah karya Husain Mu’nis. Dia menjelaskan beragam kesuksesan Nabi dalam mengemban amanat Ilahi ini tidak terjadi secara kebetulan dan serta merta. Tetapi Nabi Saw. memiliki serangkaian langkah progresif, perencanaan matang, strategi yang titis, dan pengaturan yang sistematis.

Baca juga:  Pulang Bersama Rasulullah

Dalam hal kemiliteran, misalnya, Nabi saw. telah memulai kegiatan ini dua bulan setelah memasuki kota Madinah. Sehingga pada akhir tahun kesembilan hijriah Jazirah Arab seluruhnya sudah masuk dalam wilayah Islam. Kesuksesan ini hanya bisa diraih melalui perencanaan yang matang bahwa seluruh kegiatan militer telah dipersiapkan secara matang, akurat, mulai dari tahapan, sasaran, dan target pencapaian. Bukan semata-mata kondisi reaktif atas ancaman serangan salah satu suku Arab.

Kegemilangan Nabi dalam membangun kehidupan sosial yang hebat dan mengagumkan ini sangat ditentukan rencana kerja yang sistematis dan terukur. Beliau mendidik kader-kader pendukung dan penyebat misi yang piawai dan multitalen.

Rancangan demi rancangan selalu tepat, seperti perhatian beliau dalam urusan pertanian dan perkebunan atau agrikultura. Beliau mendorong para sahabatnya untuk bercocok tanam dan sangat mengapresiasi ketekunan dan keterampilan mengolah lahan pertanian.

Apresiasi Rasulullah Saw. ditunjukkan ketika beliau menyaksikan seseorang sedang menanam kurma dengan hati-hati. Kemudian beliau bersabda: “Tangan ini oleh Allah diberkahi seturut apa yang kau perbuat.”

Sementara itu, tak kalah menakjubkan adalah bagaimana Rasulullah Saw. memberi masukan soal tata kota dan bangunan. Ini terjadi saat beliau mengusulkan pembangunan jembatan kepada arsitek ketika melihat satu jalan utama melintas lembah Mudzabdzab dan menghambat kelancaran lalu lintas Madinah.

Baca juga:  Sejarah Kodifikasi Hadis pada Masa Umar bin Abdul Aziz

Juga ketika melihat sumur di pelataran rumah salah seorang sahabat, beliau mengusulkan pembuatan batako dan bak air di sampingnya, dan menyarankan untuk menutup sumur dan bak air agar tidak tercemar.

Adapun dalam hal etos kerja, jangan ditanya lagi. Beliau adalah simbol pekerja keras, tak kenal lelah, dan pantang menyerah. Pekerjaan rumah, mulai menyapu, bersih-bersih, menjahit pakaian, mencuci baju , dll.

Dalam satu kesempatan, beliau menyaksikan tempat para Ahlus Shuffah tampak kotor. Beliau memanggil Abu Dzar dan meminta sapu, dan langsung membersihkan tempat yang kotor tersebut. Melihat itu, Abu Dzar menangis sembari berkata, “Demi Allah, duhai Rasulullah. Sia-sialah hidup kami jika Anda melakukan hal itu untuk kami.”

Lantas dia mengambil sapu dari tangan beliau, dan memanggil kawan-kawannya untuk bersih-bersih. Melihat hal itu, Rasulullah bersabda,

“Seharusnya, beginilah cara hidup seorang muslim sejati. Jangan biarkan kotoran bertebaran di sekitarmu.”

Tak hanya itu, beliau juga sangat perhatian kepada pribadi-pribadi para sahabatnya. Beliau adalah sosok yang senantiasa menjaga kebersihan, dan tak tahan melihat kekotoran. Bahkan penampilan para sahabat yang tidak rapi dan tampak kumuh sering menjadi sasaran teguran beliau.

Baca juga:  Sayyidina Umar: Prototype Penafsir Alquran Secara Kontekstual

Sebut saja Anas bin Qatadah pernah menghadap dengan pakaian kotor, lalu disindir oleh beliau, “Wahai Anas, bukankah engkau telah mempunyai istri yang memerhatikan dirimu?” “Benar, duhai baginda.” Jawab Anas malu-malu.

Kemudian Rasulullah berkata, “Pulanglah, mandi, dan mintalah istrimu menukar pakaian, menyisir rambut-rambutmu (termasuk jenggot). Anas, engkau sebagai orang terpandang tidak sepatutnya berpenampilan begini.”

Dan masih banyak sisi-sisi lain yang bisa kita gali dari progresivitas Nabi saw.

Demikianlah seharusnya menggambarkan Rasulullah dengan segenap progresivitasnya. Sisi terdalam dari kehidupan beliau tidak selayaknya kita abaikan. Sepatutnya kita berikan perhatian khusus. Kedekatan kita dengan beliau seharusnya tidak sebatas kedekatan emosional, tapi juga harus dibangun pula dalam diri kita kedekatan historis. Menciptakan dialektika kesejarahan dari aspek yang paling fundamental.

Ruang koginitif kita sebaiknya dipenuhi kecerdasan dalam membaca kepribadian beliau. Sehingga sejarah Nabi Muhammad tak sekadar melahirkan tangis kerinduan, lebih dari itu mengakarkan nilai-nilai penting dalam diri yang senantiasa menjadi rujukan utama dalam ruang individual dan sosial masing-masing dari kita. Sebab, semakin kukuh kesadaran kesejarahan kita terhadap sosok Rasulullah, semakin kuat pula representasi kita atas beliau. Wallahu a’lam

Komentar Facebook
2