Sumber Gambar dari Pixabay

Pulang Bersama Rasulullah

Salah satu narasi penting untuk mengingat dan mengenang kelembutan Nabi Saw., dan bagaimana beliau menghadapi masalah yang rumit dan beragam manusia ini sangat jelas tergambar dalam sebuah hadis masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan lainnya.

Peristiwa ini terjadi pasca Perang Hunain, satu pertikaian hebat antara Rasulullah dengan Bani Hawazin dan Bani Tsaqif pada bulan Syawal tahun ke-8 Hijriyah. Pada saat itu, umat Islam mendapatkan harta rampasan (ghanimah) yang berlimpah, dan dibagikan kepada para pembesar kaum kafir Quraisy yang baru masuk Islam seperti Abu Sufyan, Uyainah, Aqra, Suhail bin Amr, dan lain-lain. Sementara kaum Anshar tidak diberi sama sekali, padahal mereka adalah para pembela Islam dan berjuang membela Rasulullah mati-matian.

Sebagian kaum Anshar saling bertemu dan berbisik-bisik menggerutu di antara mereka, “Semoga Allah mengampuni Rasulullah saw. Beliau memberikan ghanimah (rampasan perang) kepada sekelompok dan membiarkan kita, sementara pedang-pedang kita masih meneteskan darah mereka.”

Maka, Saad bin Ubadah mengadukan hal ini kepada Rasulullah saw. Lantas, beliau pun segera mengumpulkan kaum Anshar di sudut kampung yang agak jauh dari penduduk Mekah.

Kemudian Rasulullah pun mengucapkan kalimat-kalimat panjang yang sangat menusuk jiwa mereka. Untaian kalimat yang sangat lembut yang perlahan merasuk ke dalam hati, dan membuat lidah tercekat. Selepas memuji Allah swt. Lalu Rasulullah bersabda,

Baca juga:  Peran Sayyidah Aisyah ra. dalam Memerangi Paham Misoginis

“Wahai kaum Anshar, aku telah mendengar perkataan kalian. Bukankah ketika aku datang kalian masih dalam kondisi sesat, lalu Allah memberikan hidayah melalui perantaraanku. Saat itu, kalian pun masih bermusuhan, kemudian Allah menyatukan hati kalian melalui perantaraanku. Dan ketika itu, kalian menderita, kemudian Allah membuat kalian merasa cukup dengan perantaraanku.”

Mereka pun menyahut, “Benar. Hanya bagi Allah dan Rasul-Nya segala sifat pemurah dan keutamaan.”

Lantas, Rasulullah saw. berdiri seraya berkata, “Kenapa kalian tidak menjawab, wahai kaum Anshar?”

Mereka menyahut lagi, “Kami telah menyahut, wahai Rasulullah. Kami telah berkata, ‘Hanya bagi Allah dan Rasul-Nya segala sifat pemurah dan keutamaan.'”

Rasulullah berkata lagi, “Mengapa kalian tidak menjawab, duhai kaum Anshar?”

“Kami telah menyahutmu, wahai Rasulullah” jawab mereka

Rasul pun akhirnya menukas, “Jika kalian mau, tentu kalian bisa menjawab dengan jawaban ini. Kalian akan berkata benar dan ucapan kalian akan dibenarkan. Kalian datang sebagai orang yang dihinakan, kami pun membelanya. Kalian datang sebagai orang yang didustakan, lalu kami benarkan. Kalian datang sebagai orang yang susah, kemudian kami bantu. Katakanlah demikian, wahai kaum Anshar. Katakan. Jika kalian katakan hal itu, pasti kalian akan benar dan dibenarkan.”

Baca juga:  4 Prinsip Moderasi antara Budaya dan Agama

Kaum Anshar menjawab, “Tidak, duhai Rasulullah. Hanya bagi Allah dan Rasul-Nya segala sifat pemurah dan keutamaan.”

Rasulullah berkata lagi, “Duhai kaum Anshar, adakah kalian marah kepadaku hanya karena kenikmatan duniawi yang saya gunakan untuk melembutkan hati satu kaum supaya mereka menerima Islam? Sementara aku menjadi saksi atas keislamanmu itu. Adakah kalian tidak rela melihat mereka pulang dengan kambing dan unta, sedangkan kalian pulang ke negeri kalian dengan membawa serta Rasulullah.”

“Demi Allah, apa yang kalian bawa pulang itu jauh lebih baik daripada apa yang mereka bawa pulang. Demi Allah yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah niscaya aku menjadi salah seorang dari kaum Anshar. Orang lain pembantuku, tetapi kaum Anshar pendampingku. Sesungguhnya kalian akan menghadapi ujian, maka bersabarlah. Sehingga kalian bertemu denganku di telaga surga.”

“Ya Allah, limpahkan rahmat-Mu kepada kaum Anshar, kepada anak-anak kaum Anshar, kepada cucu-cicit mereka.”

Demikianlah ucapan beliau saat itu. Maka seketika pecahlah suasana oleh tangisan mereka. Janggut-janggut mereka basah dengan tetesan air mata disebabkan ucapan yang sangat menghunjam dalam menembus hati mereka.

Baca juga:  Semiotika Netton dan Bagaimana Memahami Kisah-Kisah di Dalam Alquran

*

Narasi kisah di atas dapat diambil hikmah bahwa Rasulullah dapat dihadirkan pada kehidupan manusia sesudahnya, bahkan saat ini. Tentu bukan secara fisik, tapi secara ekspresi yang bisa jadi melampaui fisik. Kecintaan dan kerinduan itu pelan tapi pasti memasuki ruang batin manusia melalui menghidupkan ajaran dan sunah-sunahnya serta memperbanyak rapalan shalawat atas beliau.

Aspek kesadaran historis berkaitan dengan kebiasaan (baca: tradisi) beliau sepatutnya kita ulang-ulang untuk memperdalam memasuki relung kehidupan beliau. Bukankah beliau pun pernah bersabda dalam riwayat yang panjang bahwa,

“Saudara-saudaraku yaitu mereka yang belum pernah melihatku tetapi beriman denganku. Mereka mencintaiku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.” (HR. Muslim).

Tidakkah kita pun ingin membawa pulang Rasulullah, hidup bersama beliau, dan beliau senantiasa hadir di tengah-tengah kita? Tidakkah kita ingin seperti kaum Anshar yang mengekspresikan kecemburuan pada harta-dunia sesaat, tetapi menangisi kelalaiannya bahwa mereka akan membawa serta Rasulullah dalam hari-harinya.

Allahumma shalli alaihi wa alihi

Komentar Facebook
1