Penyanitasi tangan
Sumber gambar dari tokopedia

Penyanitasi Tangan

Ada dua hal yg ingin kusampaikan di sini.

Pertama, aku baru sadar ternyata untuk menyebut hand sanitizer secara baik dan benar sebagai orang Indonesia adalah rumit.

Di kalangan pakar Bahasa Indonesia atau setidaknya yang dianggap demikian, istilah yang pas untuk hand sanitizer adalah penyanitasi tangan.

Coba kita ulangi lagi mengucapkannya, p e n y a n i t a s i – t a n g a n. Bagiku sebagai Seorang Jawa, pelafalan ini berat.

Dari segi diksi pun sulit untuk menyebutnya indah. Panjang. Naik turun. Dan semacamnya. Beda misalnya ketika “penyanitasi” diganti “sanitasi”. Jadinya “sanitasi tangan.” Ini mendinglah.

Tapi, para pakar tidak setuju dengan yang kedua. Alasannya tidak sesuai secara makna. Bicara bahasa resapan memang rumit. Serumit memahami gebetan.

Satu sisi, betapa pun secara kebudayaan, apalagi yang populer, kita masih membebek pada barat, sehingga untuk istilah-istilah kita tidak bisa mandiri. Akibatnya kita hanya mengandalkan bahasa serapan.

Pada sisi lain, ketika kita mau memaksa untuk tidak mengikuti perkembangan bahasa yang ada di Barat, taruhannya adalah masyarakat akan semakin jauh dari Bahasa Indonesia. Sebab tidak ada yang mewadahi. Rumit memang. Ribet. Penuh dilema.

Baca juga:  Sejumlah Alasan Mengapa Ekstremisme Dalam Beragama Sulit Tumbuh di Pesantren

Namun, jika aku boleh memilih. Rasanya sisi yang kedua lebih masuk akal.

Kita lebih baik tetap berdiri di atas bahasa sendiri dengan tanpa selalu membarui bahasa resapan kita.

Selain karena metode penyusunan bahasa resapan kita yang—sependek pengetahuanku—terlalu tekstual, toh di lapangan orang-orang masih suka menggunakan hand sanitizer ketimbang penyanitasi tangan.

Jadi, nganggur. Sudah pusing-pusing dipikirkan, eh tidak ada yang mau menggunakan.

Aku jadi teringat Sir Muhammad Iqbal tiba-tiba. Menurut Iqbal, bahasa adalah representasi ego, baik individual atau pun komunal-bangsa. Dan ego adalah titik pijak bagi siapa pun atau bangsa mana pun untuk berkembang secara elegan dan keren.

Ketika bahasa kita saja terombang-ambing, bagaimana kita bisa berbenah? Pokoknya itulah.

Atau mungkin, biar gampang, kita bisa menyepakati bahwa untuk menyebut hand sanitizer, kita pakai saja istilah “pembersih tangan”. Atau cukup “sabun tangan”.

Bolehlah kita coba besok. Mulai besok.

Kira-kira begitulah ihwal yang pertama. Adapun yang kedua, yang ingin aku sampaikan adalah tentang sabun tangan dalam kaitannya dengan pandangan Immanuel Kant tentang “May be the beautiful is small.

Baca juga:  Ruang Baca Pembaca "Hati Suhita" (Bag. 2)

Tapi karena kurasa ini sudah panjang, poin yang kedua akan kuceritakan di ulasan selanjutnya.

Komentar Facebook