Makkah
sumber gambar dari Pixabay

Memahami Tradisi Kenabian dengan Beragama tanpa Curiga

Hakikat beragama dan berkeyakinan adalah manifestasi ketidakberdayaan manusia di hadapan kekuatan supra/Maha Kuasa. Sehingga, keyakinan atas sebuah agama seyogiyanya membawa seseorang pada sikap kepasrahan dan ketundukan yang bermakna aktif. Bukan kepasrahan fatalistik yang berujung pada kepasifan tanpa aksi dan lakon (amal saleh). Dengan agama, seseorang meyakini eksistensi yang Maha Dahsyat dan Maha Luar Biasa di luar kemampuan dan kekuatan manusia. Pada saat yang sama, kemampuan dan kekuatan fisik, maupun akal dan logika manusia tidak sanggup menjawab dan menyimpulkan secara mutlak atas peristiwa dan fenomena alam yang terjadi.

Tradisi Kenabian: Meneladani Ibrahim dan Muhammad

Setiap makhluk beragama perlu belajar tentang peristiwa pencarian sekaligus penemuan kesimpulan sang Bapak Monotheisme, Bapak para Nabi, Ibrahim as. Penemuan dan keyakinan atas eksistensi Tuhan bermula dari kekagumannya terhadap benda-benda langit yang dianggap “wah” dan luar biasa serta mampu memberi dan memancarkan kemahadahsyatan terhadap kehidupannya (QS. al-An’am: 75-78). Fenomena alam inilah pada akhirnya memengaruhi pikiran dan nurani sehatnya (‘aqlun sahih dan qalbun salim).

Banyak kisah-kisah teladan dari Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim, nurani dan pikirannya terpicu oleh kekaguman atas cahaya penerang dari bintang-bintang, kemudian berlanjut ke bulan dan berakhir pada matahari. Proses ini tentu tidak sesederhana yang terbayangkan, yaitu hanya sebatas memandang benda-benda langit. Melainkan lebih dari itu, Ibrahim as. telah mencoba memaksimalkan potensi nurani ketuhanan yang sebenarnya sudah ada dalam dirinya (fitrah uluhiyyah). Kesadaran akan adanya Dzat di balik semua fenomena alam menundukkan dirinya, sekaligus memaksimalkan nuraninya untuk merasakan kemahadahsyatan Sang Pemilik semesta.

Penyimpulan atas eksistensi Tuhan yang dicapai oleh nabi Ibrahim as. tidak jauh berbeda dengan penyimpulan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Proses tahannus atau menyendiri ke Gua Hira tidak sekadar menjauh dari kehidupan sosial yang penuh dengan ke-jahiliyahan. Justru Nabi mencoba memikirkan dan menghayati fenomena alam, serta fenomena sosial dengan menggunakan keselarasan pikiran, dan hati nurani. Kondisi inilah yang dimaknai dengan kebingungan (dhallan) sekaligus penasaran atau ingin tahu (QS. al-Dhuha: 7).

Baca juga:  Nasehat Syekh Ali Jaber Tentang Wanita Yang Tak Memakai Jilbab

Napak tilas dan tradisi semacam ini yang sebenarnya telah dilakukan secara turun temurun oleh para nabi Allah. Oleh sebab itu, ajaran setiap wahyu (agama) yang turun adalah antitesis dari segala bentuk tradisi di kala itu yang penuh dengan paganisme, ketidakadilan, penindasan, ketimpangan sosial, perbudakan, dan berbagai macam pengekangan kemanusiaan lainnya.

Kedua peristiwa agung nan besar di atas, baik Nabi Ibrahim maupun Nabi Muhammad sama-sama tidak menyendiri hanya karena menganggap diri sebagai orang yang paling benar. Sebaliknya, keinginan atas pencarian kebenaran hakiki menuntun keduanya mencapai kesimpulan bahwa yang mereka pikirkan dan yakini selama ini adalah sebuah kenisbian.

Di sisi lain, tatkala keduanya menemukan al-Haqq, tak lantas menjadikan mereka jumawa dan berbangga diri serta sombong. Melainkan penemuan atas al-Haqq membuat keduanya meninggalkan ego (keakuan) dengan melebur bersama ego-ego lainnya. Sisi kemanusiaan keduanya pun tak dapat ternafikan, yaitu kekhawatiran akan penolakan dan intimidasi. Akan tetapi, nabi tetaplah nabi yang sudah ditempa oleh situasi dan kondisi, sehingga tantangan besar pun terabaikan demi menyampaikan sebuah kebenaran baru yang mereka temukan.

Keberanian untuk menemukan kebenaran sekaligus menyampaikan adalah manifestasi dari ketidakegoisan yang sesungguhnya. Bahkan, kebenaran yang dicapai tersebut pun tidak disampaikan dengan perasaan ingin menang sendiri dan harus diikuti (QS. al-A’la: 9). Akan tetapi, ia disampaikan dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan (QS. al-Nahl: 125).

Baca juga:  Simakan dan Tadarus Alquran Ala Nabi dan Sahabat

Nabi Ibrahim memulai misinya dengan keyakinan bahwa aslama (ketundukan dan kepatuhan secara total pada Tuhan) merupakan langkah awal yang harus dilakukan untuk menghilangkan sikap sombong dan takabbur di mata umatnya. Nabi Muhammad diperintahkan untuk mengakui keMahabesaran Tuhan sebagai Sang Pencipta. Keduanya sama-sama ingin menciptakan peradaban baru yang sangat humanis dan harmonis, sehingga bisa mengangkat derajat kemanusiaan.

Misi Agama untuk Kemanusiaan

Misi agama dan kenabian tidak lain adalah untuk manusia dan kemanusiaan. Ia hadir untuk memberangus segala bentuk kesombongan antarmanusia, keegoisan antarpenguasa dan elit, kerakusan antarpengusaha, serta monopoli kebenaran oleh agamawan. Dengan demikian, selayaknya agama di antara manusia harus hadir sebagai inspirasi dan motivasi yang mampu memunculkan dan menyebarkan kemanusiaan, bukan penindasan.

Bagaimana pun, agama dan misi kenabian muncul karena kasih sayang Tuhan terhadap manusia dan alam semesta, sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk mengancam kehidupan orang lain. Agama dan misi kenabian muncul karena manifestasi pembelaan Tuhan kepada makhluk-Nya yang tertindas. Oleh sebab itu, manusia yang meyakini Tuhan harus menghilangkan segala bentuk penindasan di muka bumi ini. Hal ini selaras dengan peran khalifah, yaitu mencegah pertumpahan darah dan kerusakan alam.

Jika manusia meyakini Tuhan, tidak ada alasan untuk menghina makhluk-Nya, sekalipun seorang pezina, pelacur, penjudi, atau pengemis. Hamba semacam ini pasti hadir untuk mengasihi dan menyayangi makhluk-Nya, karena ia adalah manifestasi penghargaaan dan penghormatan pada Tuhan. Agama apapun di muka bumi ini secara universal adalah agama yang menghargai manusia dan alam. Jadi tidak ada hak bagi manusia untuk saling curiga, merasa paling benar, serta melakukan penindasan. Karena segala bentuk kecurigaan, penindasan adalah hal yang dibenci oleh Tuhan.

Baca juga:  4 Prinsip Moderasi antara Budaya dan Agama

Kalau Tuhan berkehendak untuk menyeragamkan seluruh alam, niscaya Tuhan adalah Maha Kuasa. Sehingga, manusia tidak usah terlalu bernafsu untuk mampu menguasai dan mengendalikan segala bentuk yang sudah diamanahkan oleh Tuhan di muka bumi ini. Bagaimana pun, keragaman adalah fitrah dan anugerah yang dengannya manusia diajarkan makna perjumpaan dan saling memahami atau al-ta’aruf (QS. al-Hujrat: 13).

Cukupkanlah diri sebagai pribadi yang meyakini Tuhan secara benar, total 100%. Sebagaimana makna aslama yang diajarkan nabi Ibrahim, dan menjalankan segala bentuk perintah Tuhan dengan yakin. Masing-masing penganut agama meyakini bahwa Tuhan adalah Maha Adil, dan Maha Kuasa. Jadi biarkanlah pengadilan Tuhan yang berbicara dan membuktikan kebenaran hakiki tersebut.

Semasa di bumi, setiap individu harus berjalan sesuai keyakinan masing-masing, sama-sama menuju Tuhan Maha Agung, Maha Besar, Maha Benar, dan Maha Adil. Tak perlu ada kecurigaan tak berdasar, apalagi monopoli kebenaran, sekaligus menyalahkan orang lain. Bukankan di antara bukti kedewasaan dan kematangan beragama adalah ketika mampu hidup berdampingan, tertawa dan bahagia bersama dalam bingkai keragaman?

Terakhir, mudah-mudahanan setiap kita bisa menjadi orang yang tulus dan ikhlas dalam beragama dan menghamba pada Tuhan. Bukan beragama dengan penuh kecurigaan dan kebencian terhadap yang lain.

Penyunting Qowim Musthofa