Tentang Kami

SABAK.OR.ID merupakan media online yang mempunyai semangat untuk merawat nilai-nilai pesantren. Berawal dari kegelisahan tentang banyaknya orang yang belajar agama melalui media online, lalu dengan santainya ngeshar-ngesher di sosmed, membuat kami gerah, yang tentunya sampeyan juga menyadari hal itu. Beragama kok seperti makan mie instan?

Sebab itu sabak dibuat untuk ikut mewarnai jagat maya dengan semangat merawat nilai-nilai kepesantrenan. Lalu apa sih nilai-nilai tersebut? Bagi kami yang masih belajar, ruh pesantren memuat tentang tiga hal: tradisi, kiai dan turas (kitab klasik).

Santri tidak bisa lepas dari tiga hal tersebut. Bahwa bagaimanapun belajar agama harus mempunyai guru yang jelas, tidak hanya waton online via Instagram, YouTube dan video-video pendek.

Ngaji agama haruslah datang duduk bersila menghormati ilmu dan guru. Kalau via online paling juga ditinggal nyambi-nyambi ngobrol, tiduran, duduk seenaknya, bahkan sampai ketiduran. Ngaku saja!

Pertama, tradisi. Tradisi ini sangat penting bagi santri. Ketika di pesantren tentu banyak sekali tradisi yang tidak akan sampeyan temukan di tempat lain. Seperti apa? Murajaah hafalan, ngesahi kitab, deresan, ngalap berkah, dan yang lainnya. Itu tradisi yang baik. Ada juga tradisi aneh, misalnya ngrendem cucian hingga berminggu-minggu, ghasab sandal, jalan kaki tanpa alas alias nyeker.

Kedua, kiai. Peran seorang kiai dalam pesantren sangat berpengaruh besar terhadap perilaku para santri. kiai adalah suri tauladan terbaik dan impian bagi seluruh santri. Ini bukan mengkultuskan, justru untuk menunjukkan totalitas santri dalam belajar, bahwa hormat kepada guru adalah bentuk final sebagai syarat berkahnya ilmu.

Ketiga, turas. Atau kitab-kitab yang dipercaya sebagai sumber otoritas. Santri dibentuk agar tidak mudah merujuk Alquran secara langsung. Kenapa? Sebab santri dilatih untuk mempunyai sikap rendah hati. Ulama-ulama klasik yang dijadikan rujukan dikaji terlebih dahulu agar tidak tergesa-gesa memaknai Alquran dan Hadis.

Sebagaimana dawuhnya Abah Mustofa Bisri "Kitab para ulama adalah semacam buku pintar bagi kita yang tidak bisa memaghami Alquran dan hadis secara langsung, sebab keterbatasan ilmu."

Tidak seperti jargon-jargon nggateli “Kembali Quran dan Sunnah... Kembali Quran dan Sunnah... Kembali Quran dan Sunnah...” Wooo. Kembali ke Quran dan Sunnah dengkulmu mlocot, Kang.

Silahkan yang ingin berkontribusi menjadi penulis sabak.or.id bisa mengikuti panduan disclaimer

Salam Redaksi.