Hati Suhita; Penanda “Kebangkitan” Sastra Pesantren? (Bag. 3 - Selesai)


Penulis Akhiriyati Sundari AS
(Editor novel “Hati Suhita”. Tinggal di Gejayan Yogyakarta)

Setelah artikel curhatan saya terkait penyuntingan dan pengeditan naskah Hati Suhita, bagian ini saya akan membahas terkait pertanyaan, tepatkah asumsi beberapa orang yang menyatakan bahwa novel HS ini menjadi penanda kebangkitan sastra pesantren?

Ada lebih dari sekian argumen untuk memeriksa kebenarannya, termasuk (jika diperlukan) mendinamisasikan lagi persentuhan dan perdebatan wacana tentang apa dan bagaimana sastra pesantren itu sendiri.

Dalam hemat saya beberapa tahun belakangan, beriring dengan pesatnya dunia virtual terutama media sosial, karya sastra pesantren justru tampak seperti 'lesu'. Tidak banyak ditemui karya sastra pesantren (dengan varian maknanya) dalam perbincangan sastra Indonesia hari ini.

Latar belakang yang mendasarinya hingga kini belum saya pahami secara utuh dan memuaskan. Sebagai sebuah gerakan pun (jika masih ada), sastra pesantren belum mampu menahan ruang sastranya untuk didedahkan secara berkesinambungan. Termasuk sastra pesantren dengan genre populer sekalipun!

Saya tidak tahu dan belum bisa meramalkan akankah sastra pesantren (baca: produksi karya) memiliki daya tahan yang memadai di dalam melakukan arus dan arah perjumpaan santer di luar sana secara terus-menerus. Hal yang memungkinkannya membentuk sebuah irisan tertentu atau justru memapankan dirinya sendiri dalam khasanah sastra Indonesia.

HS muncul seakan ‘mencuri’ momen. Saat perhatian sebagian besar publik berpusar pada pertarungan sengit politik nasional khususnya di lini masa media sosial, HS maju ke tengah gelanggang dengan mengusung dunia kisah tersendiri.

Ketika situasi politik nasional disulut suhu memanas, HS muncul “di tengah-tengahnya” seolah angin penyejuk. Mengalihkan sejenak ruang konflik yang didominasi gonjang-ganjing berita, cuitan kebencian, menghasut, dan merisak hubungan antar-individu anak negeri, tak terkecuali entitas dari beberapa perempuan yang turut terlibat.

Sekurangnya, HS menghadirkan sesuatu yang lain bagi pembaca yang kebanyakan entitas perempuan. Kelompok yang tempo hari marak diperbincangkan sebagai ‘pemandu sorak’ dari sekian sasaran dan pembuat hoax. Kelompok yang kerap disebut sebagai sasaran empuk dan terampuh bagi tembakan hoax, ditambah anggapan bahwa perempuan merupakan komunitas rendah melek literasi sehingga turut berperan menjadi reseller dan promotor ujaran kebencian. Selarik kronik memprihatinkan dalam laku sejarah peradaban sejarah sosial politik di Indonesia.

Sebagaimana yang saya tulis dalam “pengantar editor” novel HS, produksi karya yang mengulik kehidupan terdalam dari sebuah pesantren, terutama yang terkait dengan pengalaman perempuan berjumpa dengan kejawaan masih sangat minim. Padahal perempuan selalu memiliki pengalaman dan lipatan pengetahuan yang khas dan banyak! Khilma Anis menjadi satu-satunya yang berhasil menggulung pendapat saya itu. Sejak awal dia menulis novel atau cerita dalam bentuk lain, selalu Jawa berikut kejawaan disuguhkan.

Dia meraciknya dari aneka olahan yang ‘mengawinkan’ dunia kebatinan Jawa, perempuan Jawa, dan pesantren. Sesuatu yang jika dirunut secara ‘geneologis’ sejatinya sudah terkawinkan sejak mula. Jawa dan pesantren memiliki sejarah panjang dalam tradisi keberislaman negeri ini. Semacam kisah klasik namun apik.

Novel HS menyuguhkan lain, ada sederet ‘amaliah’ dari laku spiritual keislaman seorang perempuan pesantren. Mendaras hapalan kitab suci, mutholaah kitab kuning, tafsir, hingga ritual ziarah kubur ke makam orang-orang saleh. Memotret dunia batin perempuan pesantren di mana sistem patriarki masih menancapkan kukunya dengan memposisikan perempuan sebagai subordinat.

Saya pribadi menyatakan tidak sanggup menulis seperti Khilma Anis di HS ini. Betapa beratnya ‘memindah’ sesuatu yang telah melekat sehari-hari ke ruang perjumpaan lain dengan medium bahasa cerita. Sungguh tak ringan menyajikan racikan kisah dengan spetrum khas pesantren, merengkuhkan antara nilai-nilai hidup dari ajaran agama dan kejawaan, juga kisah cinta dewasa nan getir. Sebuah kesulitan berlapis untuk menyuarakan kepedihan yang dibungkus sekian argumen.

Apalagi kadung lazim dipahami publik bahwa dunia pesantren selama ini ‘tersembunyi’ dari hal-hal yang bisa dikisahkan dan dikulik ke dunia luar, terutama kisah yang bersumber dari ‘pusat’ arus pesantren; ndalem kiai berikut geliat kehidupan penghuninya. Harus diakui, Khilma telah lolos menuliskannya.

Pandangan saya pribadi hingga saat ini terkadang masih belum luwes ketika berhadapan dengan kronik pesantren yang dituliskan dalam karya sastra, terutama prosa baik cerpen maupun novel. Mengutip Gus Dur, ranah pesantren dengan tradisi lokal yang khas sesungguhnya oleh sebagian kalangan kadung dianggap abstrak nan transenden, karenanya tidak gampang untuk “dicomot” melalui medium sastra. Sehingga produksi karya dari para penulis masih sedikit, terutama novel. Khilma tampak mencoba dan terus berusaha mengambil ruang itu. Masuk tanpa ragu dengan mengayunkan spirit ‘sastra pesantren’.

Gagasan yang diusung dalam HS pun terbilang ‘berani’ dari wilayah santapan universal manusia; rumitnya cinta sepasang kekasih dan dilema pernikahan bersebab perjodohan khas tradisi pesantren.

Satu titik ‘kegelisahan’ saya sebagai penikmat karya sastra (berbasis) pesantren adalah masih berhamburannya gaya penceritaan yang artifisial. Kerapkali cukup mengganggu dan menerbitkan kebosanan akut. Irisan dari pertautan genre populer dan sebaliknya mungkin sekali lekas dihindari, lantaran sungguh tak mudah mengarungi diksi yang mampu menangkap hal ihwal mendalam dan subtil dari transendensi khas pesantren itu.

Karya akhirnya kerap kali mudah terjebak sebagai ‘alat dakwah’ semata lengkap dengan retorikanya; menggurui, menasihati, dan sok tahu. Ragam bumbu yang coba diresapkan di dalamnya tetap saja terasa hambar, bukan gurih, apalagi lezat. Belum lagi dijumpai para penulis pembelajar pemula yang nyaman dalam ketidaksabaran ingin mendapat ruang pengakuan yang bersifat ‘materi’.

Aktivitas menulis yang terus-menerus dan terkadang massif digerakkan, tidak diimbangi dengan pengetahuan kritis tentang dunia sastra pesantren itu sendiri. Tidak kelewat keliru. Namun membosankan!

Terakhir, sastra pesantren masih digadang oleh PR panjang ini. Para penulis ditantang untuk terus-menerus berjibaku dengan eksperimennya. Tak terkecuali Khilma Anis. Lubang yang masih menganga ini di antaranya adalah bahwa sastra pesantren masih “berenang-renang di pinggiran”, belum menyelam lebih dalam. Butuh latihan dan ketekunan!

Allahua’lam bisshowab

0 Response to "Hati Suhita; Penanda “Kebangkitan” Sastra Pesantren? (Bag. 3 - Selesai)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel