Meneladani KH. Arwani Amin Kudus, Penulis Kitab Faidhul Barakat Fi Sab'il Qiraat

Penulis: Ade Chariri

Bagi santri yang setiap harinya bercumbu dengan Alquran, atau dalam bahasa lain, yang nyantri di pondok spesialis (tahsin dan tahfiz) Alquran, agaknya harus kenal sama Mbah Arwani Amin, Kudus –di samping Mbah Munawwir sebagai mahaguru Alquran Indonesia-.

Mbah Arwani lahir di Kudus pada Selasa Kliwon, 5 September 1905. Merupakan putra dari H. Amin Said dan Hj. Wanifah. Mbah Arwani merupakan pendiri Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus. Di pesantren itulah, Mbah Arwani meladeni para santri untuk belajar dan menghafal Alquran bahkan hingga Qira’ah Sab’ah.

Di samping kegigihan Mbah Arwani dalam mengajarkan Alquran, beliau juga aktif menulis, salah satu karya fenomenal dari Mbah Arwani yang dijadikan sumber pembelajaran Ilmu Qira'at yaitu kitab berjudul faidhul barakat fi sab’il qira’at.

Mengapa fenomenal? Karena konon, saat manuskrip lengkapnya ditemukan, proses editingnya bukan di Indonesia, tapi di Kairo, Mesir. Dan menjadi rujukan ngaji qira’at sab’ah di banyak pesantren Alquran di Indonesia.

Bagi saya, terdapat sisi menarik dari kitab karya Mbah Arwani ini, disamping sebagai kitab qira’at Alquran fenomenal di Indonesia, Mbah Arwani juga menulis karyanya ini saat masih berstatus santri di Pesantren al-Munawir Yogyakarta, dan ini jarang terjadi pada tradisi pesantren.

Faidhul barakat ditulis ketika Mbah Arwani masih mengaji kitab Hirzul Amani (kitab yang senada, yaitu tentang qira’at Alquran) karya Syekh al-Qurra Abu Muhamad al-Qasim al-Syathibi – Imam Syathibi (w. 590 H/1194 M) kepada Mbah Munawwir Krapyak.

Secara epistemologis, dalam muqaddimah kitab faidhul barakat, Mbah Arwani mengutip ayat Alquran dan sebuah Hadis sebagai pengantar pemahaman bahwa salah satu hal penting bagi santri dan pengkaji Alquran, lebih khususnya tentang kebahasaan Alquran, adalah harus mengetahui qira’at sab’ah.

Bagi Mbah Arwani, tujuan lain dari mempelajari qira’at Alquran adalah untuk menjaga otentisitas Alquran. Di samping itu, ada misi untuk memberikan ‘propaganda’ agar santri dan umat muslim bersedia belajar dengan sungguh-sungguh, khususnya dalam Alquran dan keilmuannya, seperti apa yang dilakukan Nabi kepada Malaikat Jibril yang mengevaluasi bacaan Nabi, dan sahabat kepada Nabi sendiri.

Memahami proses ini, berarti bahwa belajar agama, apalagi Alquran, harus memiliki sanad yang jelas dan muttashil, tidak serta merta baca google dan aplikasi model cara ... cepat cara cepat ... lalu tiba-tiba menjadi sok paling paham semuanya, kemudian diceramahkan. Tidak demikian. Harus ittishalu sanad.

Masih dalam muqaddimah kitabnya, Mbah Arwani juga menunjukkan sikap kehambaannya, dengan cara meminta keridhoan Allah agar dapat mengamalkan ilmunya –ilmu qira’at-, hal ini agaknya senada dengan sebuah Hadis; Khoirukum Man Ta’allamal Qur’ana wa ‘Allamahu.

Pada sisi lain, Mbah Arwani memberikan sebuah indikasi bagi santri dan umat muslim untuk terus belajar, khususnya dalam budaya menulis, budaya literasi –sebagai penguat keilmuannya- Mbah Arwani mengutip sebuah nasihat; Ilmu sama halnya dengan hewan buruan, ikatlah hasil buruan tersebut dengan ikatan tali yang kuat (yakni dengan menuliskannya).

Analogi yang dibangun Mbah Arwani cukup menarik; ketika seseorang menyepelakan hasil keilmuannya, tidak mengikatnya dengan kuat dengan cara menulis, atau menyerahkannya pada orang yang bukan ahlinya, maka besar kemungkinan ilmunya akan lepas –tidak mengalami perkembangan keilmuan-, mungkin kecuali bagi orang yang dhabith (ingatannya kuat).

Kitab faidhul barakat mengandung beberapa metode dan cara tentang bagaimana melafalkan (membaca) Alquran, namun bukan pada ranah tajwid yang berisi tentang hukum bacaan secara mutlak.

Beberapa hal yang menjadi penting bagi Mbah Arwani adalah tentang waqaf pada setiap awal dan akhir ayat.

Argumentasi yang dibangun adalah karena hal tersebut merupakan perintah Nabi , salah satu cara menjaganya adalah dengan struktur kata dalam Alquran, agar memudahkan bagi pemula yang ingin mempelajari Alquran, apalagi tentang kebahasaan Alquran.

Bagi Mbah Arwani, Alquran dan keilmuannya, merupakan representasi sebuah ilmu paling mulia, dan cara memuliakan Alquran adalah dengan membacanya, dan mentadaburi (sesuai kaidah yang sudah ditetapkan).

Pun, logika yang dibangun Mbah Arwani sangat teologis; kemuliaan Alquran ibarat dzat Allah yang diberikan kepada makhluknya, artinya, bagi santri dan umat muslim yang beriman, pengaruh dan kekuasaan makhluk tentu tak bisa menandingi kekuasaan Allah tersebut.

Di bagian terkahir muqaddimahnya, Mbah Arwani memberikan nasihat betapa pentingnya menulis, hingga pada tahap normatif, bahwa hukum menulis keilmuan –menulis kitab- adalah fardhu kifayah.

Mempelajari qira’at sab’ah sama saja dengan menjaga turats (tradisi) keislaman, karena ilmu tentang qira’at Alquran adalah warisan para ulama salaf, yang sumber utamanya dari Nabi.

Seperti itulah ulama-ulama yang dimiliki oleh bangsa kita Indonesia, dapat mewariskan dan memberi kontribusi sekaligus mewarnai keilmuan yang hebat baik di level nasional maupun internasional.


Baca esai menarik lainnya yang ditulis oleh Ade Chariri.

0 Response to "Meneladani KH. Arwani Amin Kudus, Penulis Kitab Faidhul Barakat Fi Sab'il Qiraat"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel