Petani Santri: Term Yang Akan Membangkitkan Semangat Ketahanan Pangan Indonesia

Santri-Petani Arif Rahman Hakim. FOTO: facebook/arifrahmanhakim.arif.75
Penulis: Arif Rahman Hakim

Saya Arif. Petani muda yang tertarik bergerak di bidang pengembangan pisang organik di Jawa Timur (mungkin se-Jawa) sejak pertengahan 2015.

Pada akhir 2016 hingga awal 2017, dua kali tim saya berhasil mengekspor pisang ke Tiongkok, suatu prestasi yang patut kami banggakan, mengingat pengalaman kami yang terbilang minim di bidang industri tanaman hortikultura, utamanya pisang. 

Lebih jauh lagi, kami merupakan satu-satunya kelompok tani di Indonesia yang bisa ekspor 3 varietas pisang lokal dengan partai besar seperti Raja Bulu, Ambon Kuning, dan Kirana Mas, selain Cavendis.

Bertolak dari pengalaman di atas, kerap orang mengira saya adalah sarjana pertanian dari universitas ternama di Bandung. Padahal latar belakang akademis saya itu Filsafat Islam.

Saya lulusan S1 program studi Akidah dan Filsafat di Al-Azhar, Kairo. Kemudian, saya melanjutkan studi ke jenjang S2 di UIN Sunan Kalijaga. Itulah sebabnya banyak rekan-rekan saya saat di pesantren dan di kampus dulu cukup terkejut dengan pilihan profesi yang saya tekuni beberapa tahun terakhir ini.

Kenapa Memilih Bertani? 

Kita tahu bahwa industri pertanian adalah medan usaha yang bersentuhan secara langsung dengan urusan perut warga negara Indonesia. Oleh karenanya, Jika urusan perut dapat diamankan oleh swasta dan dapat diurus oleh masyarakat secara lebih mandiri, tanpa ketergantungan berlebih terhadap pemerintah dan negara, maka salah satu pondasi tentang kedaulatan manusia secara luas -individu maupun sosial politik- akan lebih realistis diperbincangkan. 

Mudahnya, pembicaraan seputar agama, ilmu dan filsafat, teknologi, romantika sepasang kekasih yang berlanjut ke kantor KUA, dan persoalan besar seputar negara dan hidup bernegara akan lebih bersih dan penuh isi sehingga diskusi akan mudah diselenggarakan dengan khusyuk dan bermartabat.

Pertanian adalah pilihan rasional. Dari pilihan rasional itulah, melalui dapur kehidupan alam saya punya peluang menajamkan pengalaman untuk mencari kemungkinan-kemungkinan baru terkait isu humanisme, social justice (keadilan sosial), globalisasi, perdamaian, keseimbangan, cadangan pangan penduduk bumi, dan lain-lain.

Bahkan saya percaya bahwa pertanian yang dikelola dengan baik akan mampu menggeser term "perang dunia yang mematikan" menuju peradaban baru yaitu "perang (di ketinggian) estetika" yaitu pertarungan di dalam menyusun konsep ekologi, dan hijrah dari pembicaraan psikologi sosial kemanusiaan milenial yang menjemukan menuju psikologi baru tentang fenomena-fenomena baru alam semesta yang lebih universal.


Kalau filsafat bicara soal spekulasi, maka aspek spekulasi dalam literatur percangkulan (baca: pertanian) juga amatlah tinggi. Misalnya, spekulasi dari sudut pandang rencana pengelolaan finansial yang kami alami di periode 2017. Keluarga kami pernah mengalami hal tersebut.

Budidaya pisang yang mulanya diasumsikan bisa menghasilkan laba ratusan juta per hektar, justru mengalami kerugian luar biasa besar, sehingga kondisi ekonomi keluarga saya "lumpuh" total. Usaha kami bangkrut, sebab selain hal-hal yang telah saya miliki habis terjual, sisa hutang yang saya miliki masih fantastis bila diukur sebagai kerugian petani pemula, yakni lebih dari 500 jutaan. 

Sampai hari ini hutang tersebut belum saya dilunasi. Sebagian kecil saja yang bisa saya cicil. Kendati saya percaya bahwa melunasi hutang hanya soal waktu dan izin Allah saja. Hal yang paling penting sekarang, saya hanya perlu lebih rajin bersyukur dan terus mencari dimensi estetis-romantisnya, dan menyelami kaitan persenyawaan teosofinya yang sarat tanda-tanda.


Di saat orang menaruh keprihatinan, justru saya terkejut. Padahal berulang kali saya katakan bahwa saya baik-baik saja, istri dan kedua anak saya normal, sehat lahir-batin. Alhamdulillah. Di sisi lain, justru, saya sangat bersyukur karena waktu saya bersama keluarga lebih banyak, berkualitas dan penuh makna cinta.

Masa evaluasi sudah selesai. Pelbagai kekurangan teknis sudah saya pelajari sehingga saya sudah mengidentifikasi banyak hal yang mengharuskan perbaikan dan penertiban. Tidak mudah memang. Tapi saya percaya bahwa saya akan menjadi raja di industri budidaya pisang dan menjadi salah satu pelaku ekspor buah terbesar di Indonesia.

Dalam waktu yang singkat, dengan modal utama keyakinan pada pertolongan Allah, saya akan membalik keadaan. Akan tiba masanya ekspor pisang dan buah-buah lainnya lebih besar daripada yang diimpor. Swalayan-swalayan akan lebih kaya dengan aneka buah lokal. 

Untuk persoalan ekspor pisang, Filipina dan Malaysia dalam 10 tahun ke depan wajib dikalahÄ·an. Karena semua modalnya ada di sini: iklim, tanah, air, bibit, para ahli, etos kerja, dan yang utama ialah ilmu soal pisang dan hortikultura kita lebih baik.

Saya sangat percaya. Sangat yakin bisa sukses. Karena saudara-saudara saya di Bumi Nusantara, yang punya cita-cita yang sama dengan saya, adalah jutaan jumlahnya. Saya hanya perlu suasana yg kondusif; saling percaya satu sama lain; dan bersama "menggendong" mimpi ini dengan luapan cinta kasih dan ketulusan untuk terus mengasah pikiran.


Bukankah Kehendak dan kuasa Allah, ridha dan pertolongan-Nya, rahmat dan berkah-Nya, senantiasa bersama hamba-hamba yang berpegang teguh pada ikatan persaudaraan -etnis, budaya, bangsa, negara, lebih-lebih agama?

Kedaulatan bumi santri sudah bergeliat di mana-mana. Saya santri yang juga petani. Oleh karenanya, kedaulatan pangan dan buah hanya akan tumbuh bila santri yg mengendalikannya.

"Dialah yang menciptakan bumi seisinya untuk kalian (manusia)." Albaqarah 29.

2 Responses to "Petani Santri: Term Yang Akan Membangkitkan Semangat Ketahanan Pangan Indonesia"

  1. Mantap.. kapan2, bolehkah numpang ngopi & ngobrol seputar tani disana?

    ReplyDelete
  2. Siap, nanti saya hubungkan mas taufik...

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel